SAYA sangat terenyuh. Ada nuansa haru, bercampur senyum yang lain ketika mendengar ada lomba menulis tentang masjid di sekitar kita.
Getar-getar di batin itu membuat saya harus menulis ini. Tercatat, setidaknya ada beberapa alasan. Meski demikian, saya tidak akan ikut lomba karena saya saat ini sudah tak punya masjid yang sangat berkesan karena setelah kenal Amin, semuanya disebut masjid baroroh kecuali masjid dia sendiri.
Beberapa alasan itu pertama, masjid bagi saya dulu adalah rumah dan tempat tidur. Rumah yang akrab menjadi ruang pertemuan untuk terhubung dengan Allah sekaligus dengan teman sepermainan. Tempat belajar mengeja huruf hijaiyah, sampai untuk membaca tanda-tanda zaman. Jika sore hari, masjid menjadi ruang paling kedap dengan kapur dan riuh rendah suara hafalan. Setelah larut malam, berubah jadi tempat dlosoran dan ngorok sembari berbantal lengan. Ngringkel di sarung.
Sebelum tidur, selalu diingatkan, tengkurap itu tidurnya orang terkutuk. Semata-mata mencegah agar ilernya tidak menajiskan lantai semen di masjid kami yang hitam mengkilat. Tentu sesekali sembari cerita film layar tancap yang habis ditonton di lapangan desa. Terkadang sambil membayangkan wajah artis yang hanya pakai sempak itu. Jangan lupa, sekarang perempuan yang penuh nafsu dicumbu berbagai macam lelaki itu kini sudah jadi ustadzah dan berjilbab lebar. Bisa saja berkat doa kami, anak-anak masjid yang menonton filmnya. Meski berkat filmnya juga, banyak di antara kami yang jadi anak-anak bejat sebelum waktunya. Seperti, selalu berotak mesum ketika melihat perempuan cantik.
Kedua, pertautan dengan masjid ketika kanak-kanak itu, masih berlanjut ketika saya mulai mengenal naik bus antarprovinsi. Masjid, bagi anak yang hobi kluyuran, menjadi tempat paling ramah. Penyedia toilet gratis dan tempat menginap yang paling nyaman. Belakangan, saya tahu ada istilah bagi perantau itu, ketika bilang minap di hotel cap kuda terbang (berarti SPBU) atau hotel bintang yang artinya, masjid.
Saya hampir tak pernah bermalam di hotel cap kuda terbang. Kalau di hotel bintang, tak terhingga dan hampir sudah pernah di semua kota besar di Indonesia.
Masjid, bagi saya adalah rumah gelandangan. Maka ketika ada masjid yang terkunci di waktu ashar dan letaknya di tengah kota besar, bukan saja menguatkan defenisi masjid baroroh. Lebih dari itu, dulu saya sering menendang-nendang pintunya sembari memaki-maki rumah Allah yang ternyata maha pelit juga itu. Masjid ini masih saya ingat dan selalu tersenyum ketika mengingat lomba menulis ini dan melintas di depannya. Begitu juga, secara mendadak air mata saya menetes jika melintasi masjid yang pernah sangat ramah menerima ketersesatan dan kegelandangan saya.
Sejak diumumkan adanya lomba menulis masjid itu, hati saya selalu tergerak untuk diam-diam menikmati dlosoran di beberapa teras masjid. Menikmati kesunyian dan beberapa dalil kenangan yang saya hafal di luar kepala macam arrizalu qolbuhu ta`aliku fil masajid.
Di masjid ini, pernah suatu ketika saya bersama enam orang, baru pulang dari perjalanan panjang. Sampai sudah sekitar jam lima subuh. Merasa semalaman tidak tidur, semuanya merasakan nikmat berbaring sambil ngorok dengan bantal ransel. Jam delapan, kami ditendang-tendang penjaga masjid karena itu adalah hari Jumat. Terusir dan sangat terpukul. Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan di dunia pengusiran, selain terusir dari tidur di masjid.
Ketiga, penggagas lomba ini adalah orang yang sangat kami kagumi. Pernah suatu ketika, saya bertamu di jam adzan asar. Dia tidak ada dan disebutkan sedang shalat di masjid. Tentu saya nyengir, bukankah saya belum shalat dhuhur, kok sudah asar. Cepat sekali waktu berlalu. Secepat kenangan atas masjid-masjid di kampung kami yang sudah tidak ada lagi tradisi anak tidur di masjid ketika malam hari. Padahal, dulu tidak ada karpet yang empuk dan mirip permadaninya aladin itu, tidak ada kipas angin apalagi AC.
Masjid menjadi rumah kedua bagi anak-anak di kampung kami, kini hanya jadi tempat persinggahan orang-orang bungkuk dan sering terbatuk-batuk.
Keempat, saya berharap anak-anak muda yang suka ngisap sisha atau nongkrong di kafe-kafe itu ikut lomba ini.
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.











Add a Comment