<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: "ca-pub-1095446486393148",
enable_page_level_ads: true
});
</script>
We are leaving with a cry
Drifted away by the uncertain wind
Trying to survive
For this innocent smile
KUTIPAN lagu yang berjudul Children with No Land ini, kurang lebih berarti; kami pergi bersama tangisan/terhanyut jauh dan dihempas oleh angin yang tak menentu/Mencoba untuk bertahan/Demi senyum yang lugu ini.
Lagu bernada ballad ini sempat menduduki tangga nomor satu, selama hampir dua bulan di reverbnation. Malam ini, pasca berbincang dengan Mister Kim, peringkat satu di situs para musisi dunia itu diraih Bonnie McGill.
Sementara, Bonnie McGill sendiri, pernah mengundang Mister Kim ke Kanada untuk duet dan nyanyi bareng terkait kecintaan dan berusaha mendedikasikan musik untuk anak-anak korban perang. Bonnie adalah pemusik yang beraliran country. Terlihat, selain Bonnie, banyak komentar dari sejumlah kalangan yang memuji suara dan kehalusan petikan gitar serta biola pada lagu Mister Kim.
Mister Kim, yang ternyata tinggal di Telukbetung, Bandarlampung ini baru diketahui merilis lagu "Anak-anak Tanpa Negara" dan sudah mengguncang dunia setelah dua tahun lebih. Itupun setelah tidak sengaja, karya Mister Kim dicium RadarLampung dan dimuat pada Selasa, 19 Juli 2016. Di halaman 25, berjudul "Mister Kim, Musisi Lampung yang Diapresiasi Dunia"
Mendengarkan cerita Mister Kim sampai larut malam. Menggali pergulatan batin dan bagaimana dorongan anak dari Labuhan Maringgai, Lampung Timur ini menemukan kegelisahan, keperihan dan berbagai luka sesama manusia hingga lahirnya lagu Children with No Land. Menurut dia, bagaimana seseorang tidak terenyuh, perang telah membuat anak-anak terusir. Ribuan pengungsi Rohingya misalnya, setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah laut, terdampar di Lampung, begitu menemukan daratan, menemukan makanan dan sejumput asa, harus kembali di deportasi ke negaranya. Dimana mereka terancam ketakutan dan perang kembali. "Saya melihat sendiri, seorang Ibu menuntun dua anaknya sembari berkata, ini dua anak saya yang berhasil selamat. Yang dua telah meninggal bersama suami saya," ujar Mister Kim menirukan ucapan pengungsi.
Makanya ada lirik di lagunya; "We are sailing/With a hope." Yang berarti, kami berlayar bersama harapan. Proses menciptakan lagu itu, benar-benar ketukan nurani yang membuatnya terguncang. Tanpa proses editing dan tidak berada di dalam studio rekaman. "Saya bersama teman-teman, hanya rekaman seadanya di teras rumah," kata dia.
Kita ketahui, derita pengungsi Rohingya, dari Myanmar itu ada yang diamankan aparat kepolisian Lampung sekitar 18 orang pada 17 November 2012. Selanjutnya, belasan suku Rohingya ini ditangani oleh Satuan Tugas People Smuggling. Menurut laporan Badan Hak Asasi Manusia PBB, setidaknya ada 80 ribu orang mengungsi di sekitar Kota Sittwe dan Maungdaw. Beberapa di antaranya terdampar ke Indonesia.
Mister Kim memang kurang terbuka di medsos, seperti facebook, twitter dan semacamnya. Bahkan ketika dipersoalkan kenapa mesti di situs reverbnation memopulerkan lagunya, Mister Kim menjelaskan. Hanya itu media yang jadi persaingan seluruh musisi dunia.
Musisi dari Amerika, Jerman, London, Beirut, Malaysia dan sederet musisi papan atas di Indonesia ikut mangkal di reverbnation. "Awal mengunggah lagu Children with No Land ini saya ada di urutan 5000. Kemudian naik ke peringkat 100, dan rentang waktu tiga bulan baru bisa meraih rengking pertama, bertahan sampai dua bulan," jelas Mister Kim.
Kemudian secara iseng, saya membandingkan lagu milik Kim ini dengan We Will Not Go Down (Gaza to Night) yang senyawa dengan Children with No Land. Ada kesamaan. Yakni, pekik keprihatinan seorang musisi tentang derita korban perang.
Gaza to Night lebih bercerita tentang sebuah tempat yang penuh pembantaian, dimana orang-orang berlari mencari tempat perlindungan. Tanpa tahu, apakah mereka mati atau hidup. People running for cover/Not knowing whether they are dead or alive.
Sementara Mister Kim, menggubah kepedihan lewat pelarian, dengan pertanyaan yang paling sublim dan kasar. Kami tidak tahu. Apa kami ini?! We dont even know. What We are. Akankah ada. Rumahku istanaku di dunia ini. Will there be, home sweet home, in this world.
Ada kesamaan rasa namun beda nuansa. Jika Gaza to Night beraroma perlawanan, Misterk Kim lebih merasakan rekaman-rekaman luka dan kepingan asa seorang pengungsi. Anak-anak tanpa Negara. Mengungsi, namun setelah sampai di daratan dengan susah payah, harus terusir kembali sebab tak punya dokumen imigrasi.
Di youtube sendiri, Mister Kim mengunggah lagu itu pada 15 April 2014 dan baru dilihat 777 orang pada pukul 02.10 dini hari, Rabu, 20 Juli 2016.
Ditanya, apakah punya lagu lain. Pengajar kursus bahasa inggris di Bandarlampung ini menjelaskan, banyak. Namun tidak semua untuk dipublis. Beruntung, saya diberi tahu dua lagunya yang dinyanyikan perwira lulusan Akpol 1997. Dua lagu ciptaannya ini ternyata lebih popular, sebab dilihat lebih 11 ribu orang dan cukup penuh resapan.
Jangan-jangan, lagu-lagu Mister Kim yang masih dirahasiakan itu, jauh lebih mampu mengguncang dunia dibanding Children with No Land. Penasaran dengan lagu ini? Silahkan searching di youtube. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment