Pekerjaan Saya Khotib
20 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 1519 kali
<form action="http://www.google.com" id="cse-search-box">
<div>
<input type="hidden" name="cx" value="partner-pub-1095446486393148:4518866315" />
<input type="hidden" name="ie" value="UTF-8" />
<input type="text" name="q" size="55" />
<input type="submit" name="sa" value="Search" />
</div>
</form>

<script type="text/javascript" src="http://www.google.com/coop/cse/brand?form=cse-search-box&amp;lang=en"></script>

 

KEMARIN, ada teman yang mengunggah foto-foto jalan yang ditanami pisang oleh warga. Beliau yang punya mobil, mesti sangat setuju dengan gerakan warga itu. Gerakan yang menurut saya, jelas aneh. Pasti itu kerjaan warga yang provokatif sekaligus kontraproduktif. 

Bahasa halusnya, kurangkerjaan.

Jangan-jangan, mereka lupa kalau tinggal di Indonesia. Atau masih merasa, ada omongan politisi yang benar-benar tulus membangun jalan biar mulus. Menganggap dengan menanam pisang, melepas ikan lalu memancing di kubangan yang ada di tengah jalan sebagai aksi demonstrasi untuk membela kepentingan warga? Aduh, teman, sadar kagak sih, semua pemenang Pilkada itu merasa sudah membeli suara? Lagipula apa pentingnya jalan rusak atau jalan bagus bagi kita?

Mungkin banyak yang lupa, maka perlu saya ingatkan. Kalau dalam sejarah lahirnya politikus itu, selalu dimulai dari janji memperbaiki infrastruktur, kemudian meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Siapa yang bilang kalau jalan mulus roda ekonomi warga meningkat? Masihkah percaya, infrastruktur yang bagus itu penopang angka IPM paling signifikan? Lantas, pertanyaan yang menurut saya penting. Siapa yang diuntungkan dengan jalan yang halus? Termasuk jalan tol di dalamnya.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita diskusikan persoalan jalan yang hancur di seantero Lampung. Oya, kita lupakan sejenak kisah class action dan berhentinya broadcast seputar itu, kita anggap kejadian itu tak pernah ada. Sebaiknya, kita sesekali merasa terhibur dengan baliho, banyak jalan yang sudah mulus. Termasuk janji kampanye yang bakal membuat semua jalan halus atau komentar tandingan mantan gubernur yang berani iris kuping kalau semua jalan provinsi bisa bagus.

Saya kutipkan kalau lupa.

“Setahun kepemimpinan Ridho–Bachtiar belum ada tanda-tanda infrastruktur akan menjadi lebih baik. Iris kuping saya kalau jalan jadi mulus semua di Lampung ini. Jalan mulus mana? Melayani dan memberi, apa yang sudah diberi apa?” kata mantan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP setahun lalu.

Jalan provinsi dan termasuk semua jalan kabupaten yang ada di Lampung, menyedot anggaran paling besar dalam APBD. Alasannya, infrastruktur jalan penting untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, tuh kan, selalu saja pertubuhan itu yang jadi dalih. Kalimat yang menurut saya lebih tepat, mungkin, mendongkrak beberapa orang untuk cepat menjadi kaya. Dan warga, sangat mendukung upaya tersebut dengan berbagai aksi antara lain, menanam pisang, menebar ikan, dan terus menuntut kepala daerah agar mempercepat pembangunan jalan yang selalu dilintasi dan atau yang ada di depan rumahnya yang sudah hancur.

Beberapa bulan belakangan ini, saya selalu melintasi beberapa ruas jalan provinsi. Januari sampai Februari halus, bisa memacu sepeda motor bebek dengan kecepatan 80 km. Begitu Maret sampai awal Juni, mulai sering mengerem dan sedikit bermanuver menghindari lobang, gelombang dan jalan yang becek. Beberapa diantaranya, belum selesai Juni, jalan itu sudah benar-benar hancur, banyak aspal terkelupas, lubang sudah ada di sepanjang jalan. Termasuk jalan yang sudah dibeton, beberapa diantaranya mulai terlihat retak.

Mari kita hitung, sampai kapan APBD setiap tahun anggaran selalu dihabiskan untuk membangun jalan, memperbaiki, merawatnya? Warga yang miskin tetap saja melarat. Mulai halus, anak-anak semakin adu kebut, mobil-mobil pribadi terus dimiliki. Jalan rusak lagi, warga ngamuk lagi, tanam pisang lagi, memaki-maki kepala daerah lagi. Terus melingkar seperti mata rantai yang sulit terputus. Jangan lupa, pengusaha yang selalu menang tender perbaikan jalan provinsi itu, jangan-jangan sudah jadi politikus yang berkuasa untuk kembali, membuat lingkaran perbaikan jalan. Rusak, warga marah, dianggarkan, diperbaiki, rusak lagi, warga marah, dianggarkan, diperbaiki lagi...

Dari anggaran pada tahun 2013 misalnya, uang Rp500 miliar habis untuk perbaikan jalan provinsi di 76 ruas dengan perkiraan panjang sekitar 1.702 kilometer. Itu belum ada separuh dari total jalan rusak di Lampung yang mencapai 3.200 kilometer.

Mendadak saya teringat di dekat lokasi penanaman pisang di tengah jalan itu, sekitar awal 2008 pernah mengadakan pelatihan dengan peserta yang dianggap tokoh masyarakat desa. Semua perwakilan desa mengisi biodata. Dan betapa kami tersedak, beberapa warga yang rumahnya masuk kategori prasejahtera dan dianggap tokoh itu mengisi kolom pekerjaan dengan cukup jelas. Khotib.

Dengan sopan saya bertanya setengah berbisik. "Maaf Pak, apa itu Khotib?"

Baru jelas, tukang khotbah di masjid setiap hari Jumat. Dapat honor cukup besar, Rp.25 ribu. Kalau sebulan empat kali jadi Khotib, maka penghasilannya, Rp.100 ribu.

Maksud saya, penghasilan paling besar dari salah satu tokoh ini, Rp.100 ribu. Bisa dipastikan kredit sepeda motor anaknya yang masih SMA itu, benar-benar modal bismilah untuk mengangsur cicilannya setiap bulan. Kalau tidak punya sepeda motor, harus kost sebab tak mungkin bisa sekolah karena tidak ada mobil angkutan desa. Ini berbeda dengan era di bawah 90an yang semua anak tingkat SMP dan SMA masih bisa naik sepeda ontel, naik angdes dan kost jika sekolah di luar kota.

Lantas, jalan rusak yang ditanami pisang di dekat rumahnya itu untuk siapa? Pertama, jelas, untuk pengusaha yang dekat dengan penguasa. Karena hampir dipastikan, perusahaannya yang akan memenangkan tender. Ada kabar, kalau nilai proyeknya 1 miliar, angka 200 juta sudah dipastikan sebagai untung bersih. Meskipun harus setor 20 persen.

Kedua, orang yang diuntungkan adalah para PNS, tengkulak, dan yang selevel itu, yang hilir mudik dengan mengendari mobil pribadi. Warga lain dengan sepeda motor, memang sedikit terpengaruh, terutama mengulur waktu tempuh. Namun yang merasa paling jengkel itu jelas, pemilik mobil pribadi.

Ketiga, kepala daerah. Siapa yang tidak ingin memperbaiki semua jalan sepanjang ada anggarannya. Selain untung secara finansial, dapat citra sebagai pemimpin sukses. Kenapa? Karena gerakan warganya, aneh. Mendorong untuk orang kaya tambah kaya. Membuka peluang orang kaya masuk jadi penguasa. Yakni, para pemborong jalan di poin pertama.

Kenapa tidak ada kekompakkan warga, menolak jalannya diperbaiki. Namun meminta uang yang dianggarkan untuk membangun jalan itu, dialihkan ke sektor yang lebih punya dampak riil atas perekonomian keluarga. Bantuan modal misalnya, bayangkan. Sejauh 1702 kilometer kalau berbasis sensus kepadatan penduduk 32 kk perkilometer, maka ada sekitar 150 kk dan dikucur bantuan uang 500 miliar. Mari menelan ludah, kalau Pak Khotib kita itu, diberi modal 200 juta agar membuat kripik pisang. Anak mudanya, diberi 50 juta untuk modal dagang kriping pisang yang diproduksi Pak Khotib, masihkah warga dan tokoh masyarakat kita mengisi kolom pekerjaan dengan menulis sebagai khotib?

Persoalannya, memang itu kebijakan membuat warga kaya secara masif, pasti berimplikasi pada lahirnya generasi-generasi muda yang cerdas karena ekonominya tercukupi.

Bukankah sejak dulu kita sudah dijebak, kalau tidak apa-apa melarat asal jalanan bagus, punya sepeda motor, punya televisi, meski yang selalu terpenuhi adalah keinginan yang didorong oleh kerja tangan warga sendiri. Menariknya, kenapa para investor dan pengutang negara hanya mau memberi pinjaman sepanjang untuk membangun infratruktur, bukan untuk menggerakkan ekonomi rakyat yang lebih riil. Sebab, mereka sudah menunggu pasar mobilnya, suku cadangnya, BBM yang dijualnya, sampai semua efek domino atas hadirnya infrastruktur yang bagus tanpa adanya moda transportasi massal untuk warga yang sengaja tak dibuatkan oleh pemerintah.

Oya, bagi Pak Khotib dan orang sejenisnya, yang dinamakan pemerintah itu ada atau tidak, sih?! Jangan-jangan, adanya hanya ketika mendekati musim Pilkada. 

Korelasi pekerjaan dengan jalan rusak
Pekerjaan saya, khotib. Perkenalan itu benar-benar mengiris sudut dari relung terdalam di batin saya. Maka kita harap mempermaklumkan jika ada yang mengisi kolom pekerjaan dengan berbagai profesi lain. Seperti pengacara, dosen, guru, PNS, anggota DPR, wartawan. Intinya, profesi yang dianggap bergengsi tentu saja.

Profesi seperti saya, buruh. Jelas tidak bisa ditulis. Saya sendiri pernah membuat SIM A. Mengisi kolom pekerjaan dengan kata yang sangat tegas dan berhuruf balok. BURUH, begitu dicetak jadinya, wartawan. Begitu memperpanjang KTP mengisi kolom pekerjaan dengan sebutan buruh, berganti jadi SWASTA.

Apa korelasi antara pekerjaan dengan jalan rusak? Sebaiknya tak perlu membaca tulisan ini jika profesi Anda kontraktor, pemborong atau rekanan. Sebab pasti diuntungkan. Apalagi saudara habis punya kerjaan yang sebenarnya jalan layang tapi kualitasnya bisa kebanjiran, pasti bisa membuat Anda maju sebagai calon dalam Pilkada.

Tulisan ini hanya saya khususkan bagi saudara-saudara saya yang ikut marah karena jalan di depan rumahnya rusak namun tak punya mobil. Kemarahanmu itu untuk siapa? Mendorong banyak pemborong maju dan hijrah jadi politikus? Atau membuat politikus nyambi jadi pemborong biar bisa tambah kaya?

Kenapa kita tidak berdemontrasi dengan gerakan, tolong jangan perbaiki jalan kami.

Pertama, ketika jalan itu rusak parah truk yang sering terguling akan berpikir untuk masuk ke desa kita. Kedua, sembako dan dagangan jenis warung kelontongan, tidak lagi dikapling pengusaha yang punya mobil boks, sebab mesti dikampas dengan sepeda motor agar efektif. Sehingga, harga kebutuhan yang mahal, dampaknya jelas, menguntungkan pedagang kecil. Bukan kartel yang modalnya sudah transnasional namun menginvasi pasar di pelosok dusun. Yang membuat uang berputar nun jauh di sono. Tahu tidak, sih, akibat gerakan Anda yang menanami pohon pisang dan teriak-teriak kencang agar jalan rusak itu cepat diperbaiki mendorong anak muda kita lebih suka menunggu mobil lewat dan menengadahkan topi agar membayar salar?

Bukan justru membuatnya berpikir taktis yang dengan sepeda motornya belanja minyak dan berbagai kebutuhan pokok lain di kota yang benar-benar tanpa modal. Ngambil dagangan dari pusat kelontongan di Pasar Kota, dijual di warung-warung kecil yang harus dibayar tunai. Beberapa diantarnya langsung diecer sendiri. Sorenya disetor dengan sebelumnya dipotong keuntungan yang ternyata, tak bisa dianggap kecil. Jauh penghasilannya di atas tukang ojek pangkalan.

Ketiga, tetangga kita yang tingga di pedalaman, akan berpikir beli mobil jenis pribadi yang luar biasa nyaman. Justru mengalihkan pada investasi dengan beli mobil yang jenisnya untuk mengangkat penumpang dan tak terkendala jalan rusak yang berlobang. Warga punya angkutan, yang sepertinya oleh pemerintah sengaja, mematikan semua jenis transportasi massal. Bahkan, ada lapangan kerja baru bagi anak muda, jadi sopir. Pasar dan terminal menemukan masa kejayaan kembali. Anak-anak yang jahat, hanya tersentral di pusat keramaian itu. Tidak menyebar seperti laron akibat anak-anak yang tidak punya sepeda motor terpaksa berani jadi begal.

Angka kriminalitas jadi terpusat, yang pasti membuat mudah aparat kepolisian menganalisasi laku kriminal itu karena pelakunya anak terminal atau pasar.

Keempat, akibat dorongan menanam batang pisang itu, orang desa yang dikucur dana ratusan juta pun ikut larut, untuk membangun jalan. Pasti tidak merata ke semua jalur, pasti cepat rusak, dan pasti didukung peratin dan kaur kita yang memang sudah punya mobil pribadi. Silahkan dihitung jika dialihkan untuk sektor ekonomi produktif kemudian bandingkan jika mesti untuk membangun jalan. Seberapa besar selisih dan keuntungan warga. Memang kalau perbandingannya, seberapa untung kaur, jelas membangun jalan tidak ada tandingannya. Karena rasa aspal dan koral itu, jika diuntal lezat dan nikmatya mengalahkan minyak ikan.

Bisa saja kemudian nanti berkilah, yang kelewat kaya, mobilnya jenis jip yang tak terkendala jalan rusak. Sementara empunya mobil murah cc rendah, yang terdampak. Artinya masih belum adil?

Benar, dan saya sepakat untuk itu. Tolong dijawab, kenapa orang mesti beli mobil murah cc rendah jika jalanan sudah kelewat parah macetnya. Jalanan sudah rusak dan ada bus jenis Damri yang murah dan nyaman untuk bepergian dengan jadwal yang lebih teratur?

Kira-kira apakah orang berprofesi yang tak seberapa bergengsi itu masih memilih kredit mobil jika transportasi publik tersedia? Namun percayalah, akan semakin kita lihat ketidakadilan dan jurang kesenjangan jika orang macam kita yang pekerjaannya selevel khotib ikut-ikut marah agar orang-orang di atas, yang tanpa semangat mengabdi itu terus kita paksa memperbaiki jalan yang memang didesain sampai kiamat tak bisa bagus. (*)

<form action="http://www.google.com" id="cse-search-box">
<div>
<input type="hidden" name="cx" value="partner-pub-1095446486393148:4518866315" />
<input type="hidden" name="ie" value="UTF-8" />
<input type="text" name="q" size="55" />
<input type="submit" name="sa" value="Search" />
</div>
</form>

<script type="text/javascript" src="http://www.google.com/coop/cse/brand?form=cse-search-box&amp;lang=en"></script>

 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )