Mengutuk Tarzan Memuji Kapten Rom
18 Juli 2016 by: Redaksi - Dilihat 417 kali

SATU kalimat yang saya ingat dari film The Legend of Tarzan adalah suara Jane Proter yang diperankan Margot Robbie. Pada malam di pemukiman orang dayak di Kongo, Jane mengucapkan. "Suara burung fickh, ajakan untuk kawin."

Lalu Jane dan Jhon, seperti sedang beradegan dalam film porno, kawin. Anak-anak muda yang menonton film ini, mungkin seperti saya. Belajar bagaimana caranya kawin antara Jane dengan anak monyet yang ternyata John Clayton III, anggota dewan kerajaan di Kota London.

Namun selain fokus pada adegan seks, sebaiknya melihat detail pertarungan antara George Washington Williams dengan Kapten Rom yang semestinya sudah menguasai tambang mutiara di Kongo.

Tarzan, sebagaimana berdasarkan karakter fiksi ciptaan Edgar Rice Burroughs, bisa bergelantungan dengan akar. Lalu melompat naik di atas kereta yang sedang berjalan. Bersama orang pedalaman Kongo, menghancurkan pasukan penjajah yang pasukannya berjumlah 20 ribu. Mereka berkumpul untuk kemudian tersebar di 50 benteng, masing-masing benteng dijaga 400 tentara aktif bersenjata senapan mesin, yang lainnya, tentara bayaran untuk menguasai semua area emas di Kongo. Memperbudak warga pribumi dengan sistem kerja rodi.

Namanya film, bukan seperti di Indonesia yang langgeng dijajah tentara yang hanya beberapa kompi karena mental para bangsawan dan antek, pengkhianat atas kedaulatan bangsa sendiri. Kongo berhasil mengalahkan ribuan penjajah bersenjata mesin, punya kereta api, yang sukses membangun jembatan dan punya gedung permanen sebagai markas. Hanya dipimpin Tarzan, manusia setengah monyet. Seluruh benteng dan gedung, ribuan tentara dengan mudah dikalahkan. Caranya, tidak seperti bangsa kita yang pakai bambu runcing dan teriakkan takbir, memanggil ribuan banteng yang menyerang dan memporakporandakan pasukan Kapten Rom.

Film produksi Warner Bros ini baru dirilis dan sungguh, tak layak ditonton anak-anak. Sebab, mengajarkan bagaimana bangsa yang menang dan berhasil mengusir penjajah seperti Kongo, sekarang dicekam kemiskinan meski tanahnya penuh emas.

Berbeda dengan Malaysia, yang kemerdekaannya diberi penjajah, justru negaranya kaya dan rakyatnya makmur. Bahkan menguasai banyak perkebunan di negara tetangga. Terutama di pulau Sumatera, Indonesia yang sering oleh warga Malaysia dihina dengan sebutan, Indon. Tenaga kerjanya dilecehkan sebab tak ada perlindungan dari pemimpin negara, proteksi kebijakan pada buruh migran juga tidak didapat secara layak.

Film The Legend of Tarzan bukan sekadar menunjukkan hubungan seks antara Jane dan Jhon, juga menunjukkan agar selamat, mantan tentara yang tangguh sekalipun rela mencium kemaluan monyet. Lalu cara penuh kelembutan Kapten Rom yang mengajak Jane sebagai tawanan, bercinta di kamarnya di atas kapal dengan dimulai makan bersama, mencecap wine, serta menceritakan kemustahilan Tarzan bisa selamat dari jebakan adu domba yang dirancangnya.  

Tarzan juga tidak menunjukkan ketangguhan, selain kalah dengan monyet, menit akhir ketika bertarung dengan Kapten Rom yang diperankan Christoph Waltz juga keok. Lehernya tercekik. Lazimnya orang dengan leher tercekik, harusnya mati. Namun karena jagoan, film yang terbebani pesan kalau jagoan mesti menang, meski caranya irasional. Memanggil buaya. 

Singkatnya, film The Legend of Tarzan hanya menyisakan adegan yang rasional ketika Tarzan enggan menjalankan perintah Ratu Victoria untuk kembali masuk ke pedalaman Kongo karena sudah nyaman tinggal di kota. Beradaptasi dengan para bangsawan kerajaan. Mungkin, film Tarzan Betawi jauh lebih baik ditonton dibanding film yang dibiayai kurang lebih $90 juta ini.

Kalau ada anak muda menonton, sebaiknya kita tanya, apa kesan setelah melihat adegan ranjang Tarzan dengan Jane? =))

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )