Teks Khotbah Ari Pahala Hutabarat
19 Oktober 2017 by: Redaksi - Dilihat 576 kali

"Dan (ingatlah kisah) Yunus AS, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim." (QS.Al Anbiya: 87)



KEMANA alur imajinasi kita diseret ketika mendengar dan membaca puisi Lelaki yang Ditelan Ikan? Berulang-ulang mengingat dan mendengarkan gaya dan kecepatan, intonasi dan (maaf) semacam orang berkumur-kumur ketika Ari Pahala Hutabarat (APH) membaca puisi sepanjang empat halaman dengan tujuh paragraf itu, lalu membaca ulang puisi di halaman 31 buku Rekaman Terakhir Beckett, membuat persepsi seakan ditarik pada wirid zaman masih sering duduk berlama-lama selesai salat. Yaitu, doa Nabi Yunus AS saat di dalam perut ikan paus yang bernama, Nun.

Saya masih sangat hafal doa dari potongan ayat Al Quran itu. Begini bunyinya; "Lailaha illa anta, subhanaka inni kuntuminadzolimiin."

Aneh sekali, perasaan mistis, kegetiran dan gigil, semacam takut pada Kekuasaan Allah itu saya dapatkan dari puisi yang bisa disebut, kumpulan bahasa yang kafir tekstual di buku puisi ini. Puisi Lelaki yang Ditelan Ikan dibuka dengan prolog "kegelapan inderawi tak pernah membuatku takut. malam hanya menyembunyikan segala yang sepele & tak penting ketimbang engkau."

Pada kalimat di atas, saya berhenti cukup lama. Belajar tenang, meresapi, terpejam dan duduk diam sebagaimana digambarkan Kasyafa. Saya mendapatkan, kalimat itu adalah gambar bagaimana kengerian-kengerian Nabi Yunus AS ketika merasa penuh dosa di dalam perut ikan. Keikhlasan menyembah. Lukisan kegelapan yang dibingkai penyesalan. Sampai kemudian pada diksi "parfummu merebak" mengingatkan pada cerita Nabi Yunus yang baru saya bacakan pada anak menjelang tidur. Tentang ambar atau ambergis, sebuah aroma khas yang wangi dari ikan paus.

Pertanyaan apa itu Ambar? Membuat saya mesti mencarinya secara diam-diam lewat google di ponsel. Lalu saya bacakan pada anak yang akan tidur. Bahwa, ambar itu sama dengan ambergis. Yaitu, sebuah kelenjar yang mengeluarkan sekresi putih dari kepala ikan paus. Bersifat sebagai fixative atau penguat bau dan penstabil pada parfum. Sifatnya seperti lilin yang keras. Jumlahnya yang sedikit dan pencariannya yang sulit membuat ambergris menjadi sangat mahal.

Perasaan itu, segenap pengalaman yang saya dapatkan itu, kembali terulang pada paragraf keempat;"di antara anyir usus nun aku mendengar degub jantungku sendiri."

Benar, saya sangat yakin, puisi ini pasti berkisah tentang Nabi Yunus AS karena ada "anyir usus (ikan) nun". Akan tetapi, kita diseret pada rimba kisah, ironi dan gelombang realitas yang tumpang tindih. Pada area ini kemudian kita diingatkan doa Syeh Abdul Kadir Djaelani. "Tuhan, engkau esa di langit dan aku esa di bumi." Sebuah pengakuan atas ketidakberdayaan diri, disertai pengakuan-pengakuan atas imanen seorang hamba. Ari Pahala Hutabarat memakai permenungannya dengan istilah;"dikau pesulap ulung. sedangkan aku, pemain sirkus yang baru belajar melompat."

Puncaknya; "di kegelapan yang penuh asin garam, aku kering di tempat seharusnya aku karam. kuteguk habis-habisan rasa bersalah & khawatir."

Bahasa ketakutan itu dalam capaian kesalehan disebut takwa, mengejawantah secara gaib. Ternyata, takwa bukan penutup puisi ini. Melainkan kita kembali diseret pada baris-baris pengakuan atas kepandiran dan ketidakberdayaan lain. Bahkan, bukan pula ditutup dengan kegenitan kaum agamawan. Secara satir dan berintonasi tinggi diselipkan kalimat;"mengharap surga dijual dengan harga yang murah. akulah pengecut yang telah kembali untuk melempar kusta pergi dari benteng kota."

Saya benar-benar masygul. Tebakan dan persepsi, diaduk untuk tak pernah sampai ujung simpulan. Saya mendapatkan gaya puitik Iqbal. Lalu bergeser ke Tagore, kadang mendayu-dayu model Gibran, mendegub-degub ala beat-nya Ginsberg. Menebak arah dan selalu berakhir, salah.

Religiusitas Ari Pahala Hutabarat dalam menuturkan dan membuat teks puisi tentang kisah Nabi Yunus ini, menjadi sebuah film, lakon yang berbeda dari karya-karya Samuel Beckett, apalagi model cerita penuh doktrin yang diharapkan anak-anak langsung menemukan nadi dan mengelus-elus sisi ruhani. Melainkan mudah berpindah model, dari horor ke drama, ke romantis produksi Warner Bros Picture. Namun demikian, kita juga bakal terjebak suasana ketika berharap khobah kerohanian pada judul-judul puisi yang berbau agama.

Buku puisi ini bisa dibilang, sepenuhnya, mengobrak-abrik tatanan teks-teks mapan dari lintas dogma.

Ups!!! Apakah sedemikian kuat religiusitas pada puisi "Lelaki yang Ditelan Ikan" ini? Sedemikian dalam membawa ayat-ayat Al Quran dan kisah nabi Yunus AS? Nanti dulu.

Saya baru membaca ulang, dan mendapatkan kenakalan-kenakalan yang aneh. Misalnya pada kalimat;"...janda tua yang kaya raya, yang menginginkan seorang lelaki muda mencukur bulu kakinya."

Kalimat yang membuat saya ingin kembali menonton film The Woman in Black untuk melihat landscap sempurna sebuah daya kejut dan tentu, lanjut ke film yang berkisah tentang "Cougar". Fakta di Amerika sejak 2007 yang menurut Microtrends itu ada peningkatan jumlah Cougar dan sudah ditulis V. Gibson, kolumnis soal seks dengan judul A Guide for Older Women Dating Younger Man. Demikianlah, selamat malam jumat. :D :D

Silakan baca tulisan sebelumnya soal Rekaman Terakhir Beckett. 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )