SAYA akan bercerita pengalaman membaca buku puisi "Rekaman Terakhir Beckett" dan bagaimana cara menemukan semacam daya kejut. Termasuk merasakan getaran yang mengalir sekaligus masuk ke ruang aliran-aliran yang bergetar.
Tidak hadir ketika Ari Pahala Hutabarat membaca "Lelaki yang Ditelan Ikan" halaman 31. Apalagi tidak membaca jembatan pemahaman yang dipaparkan AJ Erwin dan Iswadi Pratama dalam diskusi dan lounching "Rekaman Terakhir Beckett" pada Jumat, 13 Oktober 2017 malam, kita akan terjebak pada lakon bisu dan membingungkan karya Samuel Beckett seperti Tuan Krapp pada "Krapps Last Tape" atau "Menunggu Godot". Tentang dua puisi "Rekaman Terakhir Beckett" yang ada dalam buku itu (hal.82-83), sudah saya ulas terpisah. Termasuk beberapa alat bedah seputar teks pokok dan teks samping.
Sekarang, kita baca puisi yang berjudul Pintu Tuan Huxley.
Sekadar bisa masuk ke dalamnya, kita harus menelisik ke sejumlah karya Aldous Leonard Huxley (1894–1963). Huxley disebut sebagai pengusung simbolisme dan distopian. Novelnya, terutama "Brave New Word" membuat Huxley disebut tokoh utama aliran simbolisme. Huxley yang memperkenalkan sebuah dunia baru. Dunia di mana suatu pemerintahan telah berhasil menelusuri akar ketidakbahagiaan manusia, yang bermuara pada tiga hal. Yakni, keluarga, seni, dan Tuhan. Demi menanggulanginya, bayi kemudian diciptakan dari dalam botol melalui proses genetika yang canggih agar terhindar dari penyakit, dilepaskan dari kecacatan, untuk kemudian terbebas dari derita besar bernama orang tua. Tumbuh besar, mereka hanya belajar apa yang "pemerintah" ingin mereka pelajari. Hubungan yang dimulai dengan percintaan antar-lawan jenis adalah kejahatan. Sampai seni pun disuboordinasi, menjadi tak lebih sekadar alat hiburan dan propaganda untuk masyarakat. Sementara sains dijadikan buku resep untuk hidangan industri. Konsumerisme diajarkan sebagai jalan hidup yang utama. Kitab suci diharamkan. Kebahagiaan dipusatkan pada dua sumber utama yakni seks bebas dan candu—konsumsinya dilegalkan dan dipantau ketat oleh pemerintah.
Melalui cara-cara inilah perkembangan jiwa manusia berusaha diredam, karena apapun yang merangsang jiwa sesungguhnya adalah benih kegusaran yang pada akhirnya bakal menimbulkan ketidakstabilan masyarakat. Dengan melindungi status quo, maka kebahagiaan hakiki atau utopia dapat diraih. Tidak dengan murah memang, namun sekalinya tercapai, sistem sosial tersebut mustahil diruntuhkan. Sebuah tonggak keberhasilan peradaban manusia di depan alam serta Tuhan penciptanya.
Apakah terhenti pada sisi karya dan kesejarahan Huxley? Jawabnya jelas. Tidak. Kita dijebak oleh arah dan tema puisi ini. Sebab, di dalamnya, disebut "komposisi braque" yang menceritakan Adam dan Einstein sebagai simbol agama, awal manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan, capaian tertinggi sains, dipermainkan dalam diksi-diksi yang aneh. Sekadar dua lelaki renta yang berpelukan dan bermain dadu.
Kenapa Ari Pahala Hutabarat memainkan kalimat "komposisi braque" dalam "Pintu Tuan Huxley" ini?
Kita ketahui, Braque bukan komposer, kalau benar yang dimaksud adalah George Braque. Beliau adalah seorang tokoh yang cukup penting dalam perkembangan seni rupa, selain Picasso. Yang juga turut mendukung kelahiran dan perkembangan seni kubisme. Kita temukan di wikipedia, Braque lahir 1882, seorang pelukis handal jebolan Ecole des Beaux-Arts. Ayahnya seorang dekorator, banyak memakai lukisan pemandangan untuk Salon des Artistes Francais, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karya lukis George Braque.
Braque tampil menjadi pembesar dalam kancah perhelatan seni rupa dunia. Braque melukis dalam aliran kubisme karena awalnya, banyak dipengaruhi oleh pelukis impresionisme, terutama oleh Cezanne. Kita kutipkan paragraf penutup puisi ini;
kepalanya waktu itu haus enzim, glukosa, & lukisan pusar betina. di kamarnya, di sebelah kiri vas bunga kecil dipayungi mawar & anyelir, kaki pagi baru saja melepaskan sepatu yang berlumpur seusai terbenam subuh.
Memadukan berbagai pemikiran dan sastra-sastra Huxley, diracik dalam pengetahuan seni lukis model Braque, sains lewat Albert Einstein dan teologi pada diksi Nabi Adam, dibuka tirainya dengan kesedihan Maria karena tak bisa membuka dan melihat isi rumahnya sendiri. Lalu pada paragraf kedua, kita diajak dengan canda yang menjadi keunggulan Huxley di area satir. Namun dimasukkan doa dalam bahasa Sansekerta dan agama Budha yang digeret lagi pada simbol "obat flu". Inilah model puisi-puisi Ari Pahala Hutabarat yang sebenarnya butuh referensi banyak tapi tanpa catatan kaki. Mungkin memakai gaya Samuel Beckett dalam puisi "Whoroscope" yang berserakan teori dan tokoh, kemudian ditambahkan 14 catatan kaki untuk memudahkan pembaca.
Puisi-puisi dalam buku "Rekaman Terakhir Beckett" ini, pengantar dari Iswadi Pratama yang berjudul "Terambing pada Badai Kepala, Gempa Dada, dan Tubuh Terkutuk" cukup kokoh sebagai titian pemahaman. Mestinya, sekadar saran, butuh ditambah epilog dari tulisan AJ Erwin dalam cetakan selanjutnya. Sebab, pembaca butuh jembatan menikmati kekayaan diksi dan liarnya literal-imaji Ari Pahala Hutabarat. (3)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment