Nonton dan Dengarlah Jazz Biar Cerdas
21 Oktober 2016 by: Redaksi - Dilihat 234 kali

SOAL musik Jazz, bagi saya tak bisa terlepas dari kalimat Mahar di film Laskar Pelangi. "Ini Jazz, musiknya orang-orang cerdas!"

Menariknya, setelah mendengar dan nonton festival Jazz Lampung di parkiran KFC Kedaton, saya bukan tambah cerdas. Melainkan sebaliknya, semakin bodoh dan sama sekali tidak mengerti. Maklum, terbiasa nonton goyang pantura model Mela Anjani atau Sodiq yang bermusik Monata nan aduhai itu.

Nonton Jazz malam tadi, terasa sekali kenangan diajak menikmati Jazz yang keesokan harinya kutulis di status tertanggal 8 Desember 2015 itu.

Di tengah penampilan Rizky and Friends, saya dengan Mas Oyos Saroso H N dan Bos Himawan Imron datang. Membuat ingat pada film berjudul Genius yang baru saya tonton.

Film yang diadaptasi dari sebuah novel Max Perkins: Editor of Genius karya Scott Berg. Novel itu sangat fenomenal bahkan sejak baru terbit pada 1978, sukses dan meraih penghargaan National Book Award. Akan tetapi bukan pada novelnya, melainkan pada sisi percakapan antara Max dengan Tom. Di tengah kegelisahaan dan suntuk menggarab naskah, Max dipaksa Tom untuk masuk ke pub yang memperdengarkan musik Jazz. Dengan kegilaan Tom, Max yang pendiam dan tak hobi musik, akhirnya menghentak-hentakkan kakinya, menikmati serta membenarkan ocehan Tom. Bahwa musik Jazz adalah sebuah interpretasi dan inovasi seorang musisi ketika memainkan alat. Menabuh drum, memetik bas, meniup saksofon. Bukan memaksa orang untuk bergoyang, melainkan memaksa otak dan tubuh bereaksi ritmis, sedikit menghentak-hentak. Di sana saya menemukan kehebatan sutradara Michael Grandage meramu adegan yang memuji Jazz itu. Langsung ingat, level orang macam saya yang dianggap keliru ketika mendengar musik. Sehingga teman-teman saya mengenalkan istilah, kalau ada orang yang mendengar musik tapi jempolnya yang goyang, itu pasti disebut; "Bocah Spontan".

Jika mengembangkan senyum seraya tangan atau kakinya menghentak, dia bukan saja cerdas, tapi akibat sering mendengar musik Jazz. Musiknya orang-orang cerdas.

Jadi, wajar saja jika musik Jazz itu sepi, ditonton segelintir orang dan itupun, kebanyakan para pemain musik Jazz atau teman akrab yang sedang manggung. Ya, kalau level orang tolol macam saya, pasti karena sekadar diajak teman. Meski kemudian saya dapat kaos Festival Lampung Jazz 2016 yang bergambar terompet mirip kaligrafi, berbahan katun dan nyaman dipakai, tidak serta merta saya seperti Max yang menerima doktrin Tom di film Genius itu. Tetap susah menggeser telinga saya dari kegemaran kasidah atau dangdut.

Namun setelah mendengar lebih lama Rizky and Friends, dengan hanya tiga orang, dua bermain gitar dan satu penabuh drum, instrumen yang dimainkan seolah membawa pikiran dan tubuh saya menghentak. Meliuk-liuk dan asyik. Mungkin ini perasaan yang disebut orang menikmati musik yang easy listening. Entahlah, akhirnya setelah mereka turun, saya sempat bertanya. Apa lagu yang kalian mainkan tadi? Dua lagu ciptaan mereka itu berjudul, aduh lupa. Apa gitu? Pokoknya gak ada lirik dan syairnya. Hanya Rizky yang nyengir-nyengir ketika memainkan melodi.

Pokoknya, saya bergumam; "Ora apal lagune, ora ngerti lirike, pokoke joget wae..." Gitulah kira-kira nikmatnya.

Dilanjutkan penampilan Ritem Pertiwi Band. Ini agak ingat, karena mereka sebelum memainkan musik, menyatakan. Lagu ini berjudul "Bukit Camang" ciptaan mereka sendiri. Kemudian, lagu "Pringsewu" yang membuat saya langsung mendekat ke depan sambil memotret sebab berharap ada syair-syair Pilkada atau apalah-apalah, biar saya tidak merasa tambah bodoh, hanya meliuk-liuk menikmati musik tanpa mengerti itu musik apa. Ternyata, sama. Lagu berjudul Pringsewu itu tidak ada liriknya.

Barulah setelah mereka membawakan lagu "Televisi" saya mulai ngeh, maksud alur dan kenapa Max tiba-tiba ikut pada kegembiraan Tom ketika mendengar musik Jazz. Sama-sama menghentakkan kaki.

Dan meski saya punya kaos Java Jazz, sering nonton sampai bubar atau ketika Lampung Festival Jazz di Lapangan Korpri, beberapa tahun lalu. Banyak yang masih menjadi misteri. Diam-diam saya menikmati musik Jazz dalam ketidakmengertian itu. Sembari agar dianggap orang cerdas atau apalah-apalah. So, jangan kaget kalau file musik di laptop dan komputer saya, 8 GB isinya jenis musik Jazz. Yang saya ingat ya hanya Tompi dan Jhon Coltrane.

Sebenarnya, yang saya tunggu dari perform Ritem Pertiwi itu musik “Elephant Step” yang mereka ciptakan. Sayang, tidak ada. Bahkan saya sempat nyletuk. Belum mabok kok sudah bubar? Kopi yang saya minum juga belum habis separuh, eh, tenda dan panggungnya sudah diangkut mobil. Inilah bencinya saya pada musik Jazz. Maksud hati nonton biar jadi orang cerdas, tambah semakin bodoh. Meski jadwal manggung di Simpur Center nanti, saya harus nonton lagi.

Yah, bagaimana lagi? Meski selalu berulang, membuat saya tambah tolol pasca nonton pagelaran Jazz. Rasanya juga sama, bedanya kalau malam tadi kurang. Tahun lalu ketika ada Mbak Ine, sedikit ditambah masygul. Di Lampung kok ngejazz dengan lagu Gundul-gundul Pacul. Mbok ya lagu model Sakai Sambaiyan atau Andahmu itu dibuat juga versi Jazz-nya. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )