PAGI buta, ketika mata saya masih sangat lengket dan kepala seperti ditindih batu-batu yang diceperkan untuk lemper. Seseorang tiba-tiba datang. Seperti biasa, penuh kejutan dan berbagai kemungkinan. Bertumpuk-tumpuk kabar serta lorong-lorong gelap dongeng purba. Dari soal-soal kekinian semacam Abu Sayaf, ISIS, Muslim Uighur, sampai seputar pengalaman spiritual tentang upaya menjumpai Nabi Khidr, menjadi Markesot, menemukan Kiai Sudrun, ingin dimandikan Mursyid, dan tetap, seperti puluhan tahun lampau. Dia yang jarang mandi serta ganti baju.
Namun menurut pengakuannya, selalu menjaga wudhu meski sebenarnya saya tak seberapa yakin sebab keringatnya sangat bau apek.
Tiga hari lalu, dia tiba-tiba membangunkan saya dari kondisi yang sangat parah. Berbaring antara sadar dan tidak, merasakan panas di cuaca dingin dan merasa sangat atis ketika sorot matahari terlihat terik seperti setiap hari Jumat. Merasakan kenyenyakan tidur seperti orang yang sudah berminggu-minggu tak terlelap. Batuk seolah akan mengeluarkan semua usus dan tulang-tulang iga.
Soal matahari siang, saya tertawa. Sebab, beberapa tahun belakangan, memang hanya melihat dan merasakan sorot matahari tiap Jumat saja.
Dia, kemudian seperti membongkar sejumlah kardus berisi buku-buku kuno yang sudah tak berani saya baca lagi. Dia datang lagi dengan penuh kejutan di pagi hari dengan ucapan-ucapan yang sepenuhnya tidak saya pahami.
"Nabi Khidr itu, tapak tangannya seolah tanpa ruas jari. Terlihat lepek ketika kita bersalaman. Dia sering tiba-tiba hadir ikut memancing di sungai di kampung kita itu. Selalu menjengkelkan. Tidak bicara, tapi jika dia hadir dan ikut memancing, semua orang merasa muak dengan beliau. Selain sering meludah dengan mengeluarkan dahak, beliau selalu mencibir pada kita yang sering lupa waktu," katanya. Sambil matanya terlihat menerawang kosong ke arah barat. Sesekali mulutnya precang-precing mirip orang terkena hempasan debu. Lalu dia melanjutkan kalimat patah-patahnya, hati-hati jika ada di kehidupanmu, tiba-tiba saja ada orang yang sangat kau benci sampai ubun-ubun jengkelkan kehadirannya.
Bukan, kenapa kau tiba-tiba hadir di pagi buta? Dia hanya tersenyum seraya melanjutkan ceritanya.
Memancing ingatan seputar paripan galih kangkung, susuh angin dan kesandung papan rata. Bagi saya, alur dongeng itu sekadar kata-kata bersayap untuk menyamarkan makna. Dia dengan galak membentak. "Saya datang sepagi ini untuk menjelaskan apa itu kesadisan, kesalahan berpikir dan kausalitas serta beberapa perangkat tentang mengada, kemelekatan, penciptaan, pembunuhan," cukup. Cukup, saya memotong. Susah saya ngeh dengan kalimatmu yang melingkar-lingkar dan terus menerus bersayap. Maksudnya apa?
"Begini. Pagi itu, peralihan antara gelap ke terang. Jadi orang harus tetap terjaga, jadi harus ada kopi jika tak kuat melek," kata dia.
Terus hubungan antara Nabi Khidr, Markesot, Kiai Sudrun, dan kau yang jarang mandi apa? Itu juga kaos yang kau pakai sejak tiga hari lalu. Lalu hilang, tiba-tiba muncul di pagi buta.
"Antar saya ke stasiun sekarang." Perintahnya, menggema seperti lolongan srigala pada malam sunyi di daerah bertebing. Saya begidik. Muncul keringat dingin. Dia masih menjadi misteri bagi saya. Sejumlah obat dari racikan seorang apoteker, pagi ini tidak lagi saya minum.
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment