Selamat Berjuang Turn Back Crime
23 Juli 2016 by: Redaksi - Dilihat 420 kali

TURN BACK CRIME, istilah ini dipopulerkan oleh entah siapa, kayaknya Interpol. Namun hanya teman saya, namanya Sodikin Putra Pubian yang pernah menjalankannya.

Teman yang ini, masih keponakan Lek Tekat. Sayang, dia sekarang di Jakarta dan beberapa kali mengejar Kapolri hingga sukses foto bareng dengan Pak Kapolri, Badrotin Haiti. Meski foto yang sebenarnya, bisa jadi tak sengaja karena dia jauh di belakang Pak Badrotin, ternyata membuatnya cukup percaya diri. Dipajangnya berbulan-bulan sebagai foto profile semua akun medsosnya yang jarang aktif karena tak terbeli paket data. Alasan dipajangnya foto bareng Kapolri itu, sebagai SIM menghindari tilang.

Selain juga Sodikin mengaku berwajah mirip. Sama-sama wajah dari desa yang (maaf) lucek, lugu dan village face sekali. Termasuk sering tanpa ekspresi. Ketika senang, susah, punya duit atau tidak, tak terlihat dari raut mukanya. Selalu dingin dan tertawanya, tak pernah terbahak-bahak, sekadar plengeh. Tanpa suara. Antara ngowoh, nyengir, sedih, berpikir atau berdzikir, sulit dibedakan dari simpul senyum dan gigi gingsulnya.

Sudah terbayang, bagaimana postur wajah teman saya ini? Kalau sudah, kita lanjutkan.

Dia adalah satu-satunya orang yang saya kenal, terbukti mampu menjalankan apa itu turn back crime. Disingkatnya sebagai TBC. Sehingga dia mampu membuat gank, sekelompok orang yang berkerumun dengan gagah menyebut dirinya, gank TBC.

Sebagai Ketua TBC, Sodikin punya pengalaman sekaligus pelaku, seputar apa itu TBC. Ceritanya, tempat kelompoknya berkumpul itu, punya inventaris sepeda motor. Merk Honda Legenda tahun 2000. Seperti namanya, motor itu jadi semacam legenda dan saksi hidup perjalanan anak-anak muda keliling Lampung. Nyaris semua kabupaten pernah disinggahi motor
itu, begitu juga ditilang. Tak terhitung lagi jumlahnya. Denda tilang baik yang damai maupun yang resmi, jangan-jangan bisa untuk uang muka sepeda motor lagi kalau dikumpulkan.

Motor yang di STNK-nya bernama aneh itu pasti ketika ada operasi selalu kena tilang. Siapa pun pengendaranya, kecuali Sodikin tentu saja, sebab dia punya foto dengan semua Kapolri di dompetnya.

Dikin, demikian biasanya dia disapa, ketika dari Bandarjaya menuju Kalirejo, Lampung Tengah, membawa motor butut itu. Kalau tidak salah, tahun 2009. Sebagai motor inventaris, bisa dibayangkan kondisinya. Selain roda tak stabil, jok mulai keropos, mesin bersuara tak lazim, termasuk rantai dan ring sekr sudah jelas sekali bunyinya. Jarang ganti oli apalagi service, kalbulator kotor, kontaknya juga sudah lower.

Bukan hanya STNK yang hilang entah kemana, kontaknya pun sudah raib tak jelas. Sehingga untuk menyalakan, bisa pakai kunci lemari. Ketika dicabut kontak dari kunci lemari itu, motor tetap berbunyi dan bisa jalan. Cara mematikan, sederhana, tinggal cabut businya.

Terjadilah apa yang dinamakan bayangan. Dikin sampai pertengahan jalan antara Bandarjaya-Kalirejo, dikejar sepeda motor King. Jalannya cepat, melesat seperti kilat dan berhenti tepat di depan motor legenda yang sendirian dikendarai Dikin itu. Kanan kiri hanya sawah tanpa tanaman.

Dengan gerakan cepat, anak muda yang diboncengan motor King, turun, Dikin yang masih tergeragap hanya bisa bengong. Kontak dari kunci lemari itu dicabut, motor masih berbunyi. Anak muda itu terlihat kaget. Namun tak kalah piawai menyembunyikan keterkejutannya. Dia langsung menodong badik ke Dikin yang berwajah selalu tenang. Dia memang sulit dikenali, antara takut atau tenang, sebab village face dan wajah lugunya itu. Usia Dikin masih 20 tahun. Tak bisa melawan karena badannya, jauh lebih kecil dibanding dua pemuda yang menghadangnya.

"Dompet, hape!" tegas anak muda berambut lurus dan terlihat tampan itu, kaosnya, merk C&R warna putih bersih, tertulis jelas, buanglah sampah di mulut koruptor.

Dengan tenang, dompet dan hape diberikan. Isi dompetnya, hanya KTP, kartu anggota organisasi TBC dan dua lembar uang seribuan, lima ribuan, dan surat tilang yang sudah kucel sebab dari tahun 2006 sebagai ganti STNK. Uang Rp7 ribu itu diambil. Dompetnya dilempar, dan hapenya juga dikantongi.

"Bang, nomornya," kata Dikin tanpa beban.

"Oh, masih butuh kamu," kata anak muda itu, langsung dengan cepat melepas baterai hape merk nokia 3315 yang sangat jelek dan sudah buram warnanya karena berusia cukup tua, dibeli di konter seharga, Rp300 ribu. Nomor hape Dikin yang bertulis M3 itu dilempar ke jalanan berbatu. Motornya distandar, dia bangun dan tanpa beban memungut nomor hape itu.

Dua anak muda itu berlalu kembali ke arah sebelum mereka datang, Dikin dengan santai melanjutkan perjalanan ke Kalirejo. Sebab, di salah satu sekolah, Dikin harus memberi materi tentang apa itu doktrin kritis transformatif.

Dikin, sangat lugu. Tak suka shelfie, kurang aktif di medsos, dan membuktikan dirinya adalah orang lapangan yang pilih tanding, tanpa rasa takut dan sudah terbukti berani menjalankan apa itu TBC. Yang kemudian, istilah itu booming setelah ada bom di Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada awal Januari 2016.

Membuat kita yakin, jika tak ada kamera, tak ada orang yang menyaksikan, anak muda yang hobi shelfie macam saya, kayaknya sudah terkencing-kencing ketakutan. Lalu cerita kemana-mana, menulis di medsos, di semua jalan agar tahu kalau saya dibegal. Namun tidak bagi Dikin. Dia justru dengan santai bilang. "Yah, itu mainan anak-anak di sini. Kalau masa kecil kalian kan main PS, layang-layang, game zone, anak-anak kampung yang saya lewati ini, mainananya ya minta duit sama yang lewat," ujar Dikin, 2015 lalu ketika tahu saya mengumpulkan doktrin dan protokol begal.

Saya, suka shelfie, memakai kaos TBC hanya untuk gegayaan, pakaian saya sangat fashinable, tentu akan kaget jika diberi tugas seperti Dikin. Keliling menembus jalanan penuh bayangan menakutkan. Terlebih, pakai sepeda motor tua yang jarang dirawat dan ganti oli. Bukankah saya selalu berbangga diri dan pernah bilang, kinerja saya sudah menyerupai kinerja orang seprofesi di kota-kota besar dunia, seperti New York, Tokyo, London dan Beijing. Saya juga pernah hadir forum International Criminal TBC Organization di Lyon, Prancis. Nah, mampukah tugas di kampung yang jalannya banyak gragal, berlubang, dan pembeli rongsokan sepeda motor di dekat rel itu lebih banyak dibanding yang dandan ke dealer resmi?! Tunggu saja, apakah shelfienya itu sebanding dengan kinerja lapangannya. Atau ikut sibuk memburu MURI yang berujung kebanggaan karena diberi penghargaan dari google. =)) 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )