SEBENARNYA, dulu saya sekadar iseng bertanya pada Lek Tekat seputar hadirnya situs antirahasia. Anehnya, lelaki sepuh yang kini membiarkan saya berjalan dengan kemenakannya yang tak kalah konyol itu lanyah mendedah apa itu wikiLeaks.
Dia juga jelas menyebut tokoh dibelakangnya. Yakni, Julian Assange.
Sejak menerima info seputar opini Julian tentang upaya Amerika untuk menggulingkan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad dengan mengadu dan menciptakan ketegangan antara kaum Sunni dan Syiah.
Anjing penggonggong yang bersembunyi di Keduataan Ekuador di London itu mengungkap sebuah dokumenter bahwa, Washington sedang berusaha untuk membuat Pemerintah Suriah paranoid.
Assange mengklaim bahwa anggota pasukan udara AS, Inggris dan Prancis pernah bertemu dengan perwakilan dari Stratfor, sebuah perusahaan intelijen global sebelum Desember 2011. Para pejabat menyatakan bahwa ada sudah agen khusus yang bertindak di Suriah, tapi mereka membutuhkan kemarahan besar sampai pertumpahan darah untuk alasan yang signifikan guna menyerang sistem pertahanan udara Suriah.
Suriah telah dilanda perang saudara sejak 2011, di mana pasukan rezim Assad memerangi beberapa pasukan faksi oposisi dan kelompok-kelompok militan radikal. Konflik di Suriah semakin parah, setelah muncul kelompok ISIS.
Maka, kata Lek Tekat, Assad yang menang Pemilu 2014 dengan perolehan suara 88,7 persen itu perlu digulingkan dengan media daring. Minimal mendegradasi elektabilitasnya dengan memancing sisi-sisi arogansi dan sifat temperamentalnya. Agar Pilkada yang memenangkan 85 persen itu sekadar lelucon. Jadi situs yang banyak hanya berisi kutipan dan berita-berita plagiat itu harus diubah menjadi semacam wikileaks kota, misalnya selalu kalah di PTUN. Banyaknya ruko-ruko yang saat ini ditempel logo dijual atau disewakan. Artinya, city kita, benar-benar tak bisa untuk usaha di sektor bisnis. Yang ada, jualan jasa. Ya semacam sewa ruangan untuk mesum, sewa trotoar untuk pedagang gerobak, menaikkan pajak macam Deandels, dan semacamnya.
"Itulah gunanya situs antikerahasiaan yang akan segera diluncurkan di Lampung, meski markasnya di Makasar," kata Lek Tekat.
Semua itu, jelas dia, agar orang-orang yang mempublis kebenaran fakta itu aman. Ya semacam penyerang Amerika bersembunyi di Kedutaan Ekuador di London itulah.
Saya pun hanya membatin, mendengar Lek Tekat ngoceh dan ngotak. Tak berani komentar, cukup bertanya yang membuatnya tersedak ketika minum. "Ngapain kita disibukkan menyerang orang mati? Toh, penggantinya berkualitas sebatas penggonggong." (*)
Bandarlampung, Selasa, 22 Desember 2015
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.














Add a Comment