ENTAHLAH, mendengar kata-kata itu dari mana dan apa maknanya secara tepat. Bahkan arti secara etimologi "kriwikan jadi grojokan" saya tidak tahu. Setelah bertanya pada Lek Tekat, baru mendapat penjelasan panjang lebar.
Hakekatnya, jangan pernah menyepelekan persoalan kecil, hal-hal remeh. Sebab, yang kecil dan remeh bisa menjadi besar dan kian sulit tertanggulangi ketika sudah menjadi grojokan. Kriwikan itu semacam tetes-tetes air yang mengalir. Sedangkan grojokan adalah pancuran air yang tak lagi bisa dibendung, tidak bisa dikendalikan.
Lek Tekat kemudian memberi satu contoh, semua persoalan kecil yang tak teratasi dan menjadi besar, bergelombang, bisa diinterpretasikan pada makna kriwikan jadi grojokan.
Itulah yang saya tahu maknanya, bagi saya sama dengan kasus di IAIN Radin Intan.
Apakah kemudian kalimat kriwikan jadi grojokan sesuai dengan kondisi, selaras secara terminologi tentang aksi mahasiswa, khususnya dari UKM-SBI? Mari kita lihat dari jauh, yang justru membuat saya semakin tidak simpatik dengan Pak Mukri.
Ketidakmampuan, kepengecutan sikap dan kesungguhan menyelesaikan masalah yang sebenarnya sebatas kriwikan, sama sekali tidak terlihat. Bahkan, sengaja membiarkan agar
menjadi grojokan.
Saya memang tidak kenal, tak pernah bertemu dan sebatas mendapat pengetahuan dari beberapa keterangan terkait urakan dan ugal-ugalannya sikap mahasiswa ketika aksi. Akan tetapi, semua tertutup dengan kisah perubahan pada sikap Pak Mukri.
Beliau sudah berubah. Demikian, kalimat yang banyak diungkapkan beberapa orang yang mengenalnya. Menurut mereka, Pak Mukri benar-benar sudah beda.
Dulu, beliau adalah orang yang sangat baik. Sangat mampu memikul tanggungjawab dan cepat mengambil sikap. Bahkan, Pak Mukri adalah problem solver pada banyak masalah di sektor pendidikan. Akan tetapi itu dulu, ketika beliau masih muda dan mengajar sebagai guru honorer di SMP Islam.
SMP Islam yang letaknya jauh di pedalaman Lampung Tengah, yakni Kalirejo. Seorang anak muda yang tinggal di sungai kecil (kali) yang berharap kelak menjadi ramai dan banyak penduduk (rejo) itu, tentu sangat paham pribahasa "kriwikan jadi grojokan".
Siapa menyangka, guru honorer di daerah pedalaman, tempat orang-orang transmigran yang kebanyakan dari Jawa, yang artinya rela hijrah ke Lampung (sebuah negeri seberang) nun jauh itu, bisa dipastikan hanya karena dua sebab. Kalau tidak wirang (menanggung malu), jelas lantaran kurang (hidup dalam kemelaratan). Namun sekarang, bisa keliling dunia dengan mudah, yang banyak kita dapati foto-fotonya ketika lawatan ke Timur Tengah, terutama Turki. Belum lagi di Malaysia, jangan-jangan sudah paham semua seluk-beluk semua negeri tetangga itu.
Pak Mukri, yang kita soal bukan sukses dan semakin sombong serta dianggap banyak melupakan pertemanan selama tinggal di pedalaman Lampung. Yang kita soal adalah sikapnya sebagai Rektor IAIN, pendidikan tinggi Agama Islam, semestinya mengayomi dan jadi rahmat bagi semua. Justru tega membuat anaknya terus-menerus dicekam kemarahan sampai tuntutannya melebar, menjadi grojokan.
Kita tahu, tuntutan mahasiswa yang sebenarnya hanya menyoal infak masjid, terutama karena pengakuan beberapa mahasiswa S2 yang akan wisuda dipaksa "infak" Rp.1juta dan untuk S1, Rp.500 ribu. Lalu, langkah yang ditempuh justru mengabaikan tuntutan dengan membuat mahasiswa memahami latihan dasar ansos atau teori-teori unjukrasa. Yakni, menyerang moralitas dan pribadi pendemo.
Tidak hanya itu, membekukan lembaga tempat banyak anak-anak itu berkreasi dan latihan mengenal seni Islam. Periode ini, secara parsial bisa dilihat sebagai kriwikan, sebatas aksi protes yang biasa saja. Lalu menjadi grojokan ketika aksi meningkat dengan balasan ‪#turunkanrektor‬,‪#membagibunga‬, sampai ke Jakarta untuk lebih jauh mengusut dugaan korupsi di IAIN yang memang diyakini banyak orang, penuh kucuran dana dengan berbagai proyek.
Pak Mukri mungkin lupa, kampus yang dipimpin adalah IAIN. Baiklah kita sebut kepanjangannya. Institut Agama Islam Negeri. Dalam waktu dekat menjadi Universitas Islam Negeri. Jika sampai terbukti ada korupsi, laku amoral dan semacamnya, bukan menyangkut diri pribadi lagi. Melainkan seluruh umat Islam, semakin terstigma. Agama mayoritas di Indonesia dengan status, agama yang dianut para narapidana. Lihatlah bos narkoba yang tiba-tiba pakai jubah, peci dan jidatnya hitam. Wajah mulusnya pun
tiba-tiba punya janggut.
Pak Mukri, cobalah diingat-ingat masa muda Anda ketika jadi honorer di SMP Islam Kalirejo itu. Lihatlah tekad dan mata berang mahasiswa Anda yang akan ke Jakarta menyerang Anda secara pribadi maupun institusi, termasuk amati ketika membagi bunga, ketika dipukul aparat polisi.
Bandingkan dengan bahasa orang-orang di sekitar Anda yang meminta tenang-tenang saja seraya menceritakan prilaku bejat mahasiswa yang unjuk rasa. Timbanglah dengan pikiran atau nurani seorang pemimpin sekolah tinggi ilmu Agama Islam? Kira-kira apakah Anda menuruti ego, nafsu lawamah, gengsi dengan merasa benar sendiri atau Anda telah benar-benar lupa, dari mana berasal hingga mencapai posisi sekarang.
Sehebat apa pun usaha meredam dengan capaian paripurna tanpa ada aksi lanjutan, mata orang banyak tetap tertuju pada Anda. Bukan pada aksi para loyalis Anda yang sekuat tenaga membuat opini dan bersikap para pendemo adalah mahasiswa bejat.
Wajar saja, ketika saya sebagai bagian masyarakat yang beragama Islam bertanya. Dimana empati dan jiwa idealis Pak Mukri yang pernah jadi guru honorer di SMP Islam Kalirejo? Akankah kesuksesan jadi rektor dua periode, membuat maju IAIN sampai jadi UIN, mendatangkan keramik dari luar negeri untuk masjid dan berbagai prestasi luar biasa akan tenggelam dengan sejarah kriwikan jadi grojokan?
Grojokan yang benar-benar bisa membuat Pak Mukri basah kuyup. Selaras dengan pribahasa itu, menurut Lek Tekat, khusus bahasa orang-orang transmigran bahwa "basah" sama dengan wirang, malu. Kesempatan dan momentum menunjukkan jiwa satria dengan menengok korban, meski dengan menjewer Pupung,dkk sembari berkata. "Kamu anak-anak nakal. Sadarlah, anak-anakku, kita disorot banyak orang, dan semakin membuat islam bercitra buruk." Ucapan dengan penuh rasa mengayomi, sikap seorang ayah, seorang pemimpin institusi Islam terbesar di bumi ruwa jurai, pasti akan membuat publik menerima kejadian itu sebagai batas-batas khilaf yang manusiawi.
Bukan semakin menilai dengan beragam persepsi. Termasuk anggapan ada anak kampung yang dulu melarat, setelah sukses justru menjadi firaun sekaligus korun meski posisinya pemimpin tertinggi dengan jubah agama.
Maaf, saya harus mengakhiri aksi simpatik dengan hanya mengganti foto profil dengan warna hitam. Seperti saran Lek Tekat, cukuplah mengenakan baju hitam sebagai wujud sedang berduka
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.














Add a Comment