Cerita Lek Tekat Tentang Merk Gudang Garam
10 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 232 kali

MASIH terngiang dalam ingatan ketika di bawah pohon sawo, saya dituturi Lek Tekat tentang sejarah pemberian nama merk dagang Gudang Garam.

Dulu, Pak Surya, dia itu cina melarat. Akan tetapi, sejak muda, dia punya ketekunan dan keuletan sebagai perantau sejati. "Setelah mbabu di pabrik rokok Cap 93, asu itu kemudian ditawari garapan oleh Mbah Muradi, luasnya cuma tiga perempat hektare."

Lalu Pak Surya, memproduksi rokok skala rumahan dari klobot dan diberi nama Inghwie. "Terpenting, asu itu bukan pemikir yang hebat. Dia hanya pekerja ulet, nah pas bengong di depan tanah yang kini jadi pabrik rokoknya, di melihat di depan ada rel kereta api. Di seberang rel itu, ada beberapa bangunan yang dijadikan gudang garam yang diambil dari Madura. Jadilah diberi nama Gudang Garam yang di depannya gambar rel.

Sederhana, logo dan nama produk itu tak perlu muluk-muluk. Cukup apa yang kamu lihat, karena yang penting itu kerjanya. Bukan merk-nya," kata Lek Tekat pada saya, sembari menyulut rokok Djaja. Rokok dukun di kampung kami. Saya mencoba menghisapnya, terasa ampek dan keras.

"Itulah kenapa para begal banyak yang suka rokok surya dibanding mild," tiba-tiba Lek Tekat bicara di Jumat keramat. Tempat semua peristiwa pembegalan terdokumentasi secara apik, satir dan menyedihkan. Sebab, seorang ratu yang dulu sering ketus, sebentar-sebentar berucap sembari memutar lidah. "Pokoknya selagi bla bla...saya aman," kata dia.

Saya hanya mengernyit, mengenang itu. Alangkah congkak dan hebatnya orang itu. Sampai suatu ketika, seorang yang punya buku setebal bantal yang isinya pasal-pasal, menghibur dengan ucapan yang tak kalah congkak. "Aih, kagek kau jingok dia nangis-nangis, idak lamo lagi." Lalu dia mengeluarkan kalkulasi angka dari laporan kekayaan, perhitungan pajak dan sebagainya yang sebenarnya tak saya mengerti.

Saya hampir lupa rangkaian peristiwa di pertengahan 2012 itu. Teman yang punya buku tebal dan hafal pasal-pasal itu sudah entah dimana. Namun dia pernah bilang, dunia hukum itu permainan. "Kita tinggal bilang, aku nak ke Jakarta atau Medan, tinggal dienjuk ongkos apo idak, itulah masa dimana akan kau jingok orang nangis."

Memang, dari belakang ruangan, saya pernah diperlihatkan pertunjukkan, seorang yang berjalan seperti semut angkrang dan maha disegani itu akhirnya tertunduk, lesu, beruruai air mata karena digebrak meja, dibentak, dihardik, dimainkan logika-logika angka, mengucurkan dalil-dalil yang berisi pasal ancaman. "Kau jingok tadi, itu akting, bebudi bae. Dio la nangis-nangis," lalu dia tertawa dan saya tak mengerti apa yang ditertawakan. Itu dulu, perasaan saya telah terjadi lama sekali.

Kembali ke soal rokok Gudang Garam milik Pak Surya, yang diberi merk Surya, kini ada yang ekslusif, profesional, surya slim, dlsb. Telah lebih 7 merk berawalan nama surya dan ada 18 merk di bawah naungan Gudang Garam. Bayangkan, nama yang didapat dari sekadar bengong dan berdiri melihat ke depan. Bandingkan dengan nama produk yang ditirakati, diseminarkan dan dibuat lokakarya sekaligus kolokium, justru kini ambruk dan bangkrut. "Sudah banyak kan?!" Kemudian Lek Tekat menyebut beberapa produk yang gulung tikar meski namanya diambil dari kajian ilmiah, berbasis riset dan persepsi publik.

Pada Jumat keramat ini, saya baru tahu harga saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencapai Rp 61.500 persaham. Sukses menembus rekor baru sepanjang sejarah. Yang membawa berkah berlimpah bagi sang pemilik, Tan Siok Tjien, istri Surya Wonowidjojo yang sering dibahasakan Lek Tekat dengan panggilan Asu untuk istilah rokok surya 16.

Istri Surya, nurut data Blombegal Billionaires Index, bertambah Rp12,36 triliun. Jadi total kekayaan istri Surya, Rp103,18 triliun. Pada kuartal 3 saja, Gudang Garam mencetak laba bersih Rp.1,7 triliun.

Lalu saya berusaha mencari teman yang punya buku setebal bantal itu untuk tanya, apa dia sudah sekaya istri Surya yang punya Gudang Garam hingga tak bisa dijadikan tersangka yang pasal-pasalnya sudah kau hafal. "Cukup baelah kau jingok dia nangis, sebab saya belum dapat ATM baru lagi. Sulit ngurus di bank sekarang untuk bikin ATM."

Maka saya tulis ini, kalau sampai dia bebas, meski tak paham apa itu ATM, pasti akan saya bongkar dan saya tulis semua yang pernah saya dengar dan saya ketahui. Jika tak bisa lewat media resmi saya pastikan, lewat status di facebook. Ini bukan soal saya atau kebencian, bukan. Ini adalah soal kau, yang hafal buku setebal bantal berisi pasal-pasal dan logo bintang di bahumu, Cuk. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )