KAMPUNG kami yang permai dan penuh damai, belakangan terkena semacam sindrom "wajib merantau".
Anak muda yang tidak merantau, laki maupun perempuan dianggap sebagai dukun kampung. Diolok-olok, anak tanpa keberanian melawan badai. Beraneka macam sebutan, bukan saja membuat anak muda malu jika menetap di kampung kami. Bahkan, orang tuanya pun ikut menanggung aib. Yaitu, wirang.
Penting dan tingginya harga diri anak yang merantau, tak dipusingkan jika orang tuanya kaya. Mereka bisa menundung minggat anaknya untuk sekolah atau kuliah. Orang tua yang hanya berladang jatah sisa transmigrasi, kebanyakan hanya mampu merantau ke Jabodetabek. Di pabrik-pabrik, kerja di rumah tangga dan semacamnya.
Pasca Idulfitri, selalu ada angkatan kerja baru, baik yang baru lulus SMA atau menganggur terlalu lama di kampung kami. Tentu mereka adalah anak dari keluarga yang kurang mampu. Sebab, di kampung kami, semacam rahasia umum, agar bisa kerja di Jabodetabek atau bahkan jadi TKI ke luar negeri, selalu butuh pelicin. Uang pendaftaran untuk bisa diterima bekerja. Tarifnya, bagi yang kerja di Jabodetabek berkisar antara Rp.3 Juta sampai Rp.4 Juta. Bagi anak muda yang tidak ada saudara, harganya di atas Rp.3 Juta. Jika yang membawa kakak atau diakui sebagai adik yang sudah bekerja lebih dulu, cukup Rp.3 Juta.
Di luar negeri, berkisar Rp.8 sampai Rp.22 Juta. Kecuali ke Malaysia. Kalau jadi TKW ke negeri jiran, bisa gratis dan itu ada calo yang khusus keliling merayu dari rumah ke rumah di kampung kami. Tentu tutur katanya lembut. Sampai saudara saya bilang. "Orangnya baik, lembut dan sopan tutur katanya. Kromo inggil juga."
Kerja di pabrik sepatu, pabrik boneka, barang pecah belah sampai industri-industri besar yang hanya untuk diekspor adalah mimpi anak muda di kampung kami. Terutama anak-anak muda lulusan SMA. Sementara ke Thailand, Korea Selatan, HK dan Jepang jadi mimpi antara, setelah mampu mengumpulkan uang dari tenaga kerja kontrak di Jabodetabek.
Tentu saja, ada yang sukses ada juga yang berakhir menyedihkan. Biasa saja, orang di kampung kami sudah sangat paham hal itu. Yakni, takdir, nasib dan kersanengalah.
Agar tidak melankolis seputar kisah fulanah yang rumah dan sepetak tanah dijual demi berangkat jadi TKW, termotivasi seperti temannya yang mampu bikin rumah magrong-magrong, pulang justru membawa kepedihan. Saya hanya fokus pada kisah Lek Tekat.
Dia adalah orang paling damai di kampung kami. Paling lembut tutur katanya, paling nyaman dan tidak ada beban dalam hidupnya. Sesulit apa pun masalah di kehidupan, Lek Tekat tetap bisa tersenyum. Termasuk ketika sendirian, sering tiba-tiba tertawa terkial-kial. Cuaca panas mletak-mletak siang hari pun masih dinikmatinya dengan menari srampat pitu.
Lek Tekat membawa kabar baru di kampung kami di tengah perayaan Idulfitri. Ketika orang-orang masih nglencer. Ia membuat woro-woro. Tentu tidak dengan pengeras suara sebab dia sangat mendukung keputusan Wakil Presiden yang melarang penggunaan toa masjid. Dari rumah ke rumah, Lek Tekat mengabarkan, ada perusahaan sepatu yang bisa menerima karyawan tanpa uang pelicin. Bahkan, bisa hanya lulusan SMP.
Sontak, kabar itu menyebar menjadi pengetahuan publik. Anak-anak muda, termasuk orang tua yang punya anak lalu bertanya lebih jauh. Dengan santun pula Lek Tekat meladeni setiap pertanyaan, menjawab dengan rinci dan meyakinkan sebab empunya perusahaan sepatu itu adalah saudaranya.
Singkatnya, banyak orang berduyun-duyun mengantarkan surat lamaran ke Lek Tekat. Terkumpul ada 30 surat lamaran. Kebanyakan, diantar langsung. Laki dan perempuan didampingi ibunya ikut melamar. Tidak lupa, meninggalkan sebungkus rokok kesukaan Lek Tekat. "Kapan mulai berangkat kerja, Lek?" pertanyaan yang selalu ditinggalkan sebelum pamit pulang setelah memberikan ucapan terima kasih dan basa-basi yang logatnya dilembutkan seperti mengucap "latakmanna" sembari memutar lidah.
"Minggu depan." Mantap dan meyakinkan sekali jawaban Lek Tekat. Semua orang yang melamar merasa lega. Terbuai mimpi indah merantau, punya gaji bulanan, terasa dan tahu kapan dan bedanya tanggal tua, tanggal muda. Termasuk cerita indah seputar lemburan dan liburan.
Saya juga ikut ambil bagian dari serombongan anak muda yang akan melamar itu. Dengan sopan, bertanya. "Ngomong-ngomong siapa sih nama saudara Lek Tekat di perusahaan sepatu yang baik hati itu, menerima karyawan tanpa uang pelicin?"
Sedikit terkejut, Lek Tekat terlihat gugup mendapat pertanyaan itu. Namun, bukan Lek Tekat jika tidak tenang dan berwajah penuh keagungan. Terlihat sedikit menutupi gugupnya, ia menjawab. "Faisol."
Saya mendengarnya sontak berkata. "Gandri!" Lalu tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak seperti mendengar petir di siang bolong dan mengucapkan mantra penangkal kilat itu. Sebab, Faisol itu di kampung kami adalah orang biasa saja yang nama aslinya Paiman. Karena berprofesi sebagai tukang sol sepatu, ia lebih akrab dipanggil Faisol.
Jadi surat lamaran itu, antusiasme dan mimpi anak-anak muda di kampung kami, akan diajak jadi tukang sol sepatu oleh Lek Tekat. Baik sih, tapi tidak ada satu pun yang mau.
Terkenalah di kampung kami, Lek Tekat sebagai orang yang lembut tutur katanya, bisa dipastikan, karena lembut dan halus perkataannya, ia tukang tipu. Kata saudara saya. "Tembung manis itu lamis." (*)
31 Juli 2015
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.














Add a Comment