BERMALAM di Hotel Central yang letaknya tepat di Jalan Pramuka, saya benar-benar mengernyit pening sebab, ada ilmu ikhlas yang berbeda dengan doktrin selama ngaji sejak kecil.
Kami sempat menyaksikan DJ perempuan gendut yang bajunya memperlihatkan pusar. Ruangan yang berukuran sekitar 12 kali 10 meter dan gelap itu, sesekali disorot cahaya lampu warna-warni. Ada dentuman musik yang menghentak-hentak. Banyak anak-anak muda melonjak, teriak, geleng-geleng. Ada yang bergoyang-goyang sembari merokok.
Terasa pedih sekali di mata. Ruangan kedap dan gelap itu seolah penuh asap tembakau. Beaya masuknya, hanya Rp.20 ribu, tiket mirip untuk salar di pasar kampung kami itu, bisa ditukar dengan limun dingin dalam gelas plastik.
Beberapa perempuan mendekat dengan bahasa asing. Saya beberapa kali menanyakan, hah, hah, hah, mendekatkan telinga ke bibirnya, terlihat, giginya pakai kawat yang sungguh, mengerikan. Saya menjadi sangat tuli, benar-benar tak bisa mendengar perkataan perempuan-perempuan gelap itu. Setelah beringsut keluar lorong di pintu masuk, bertanya pada penjaga yang berbadan seperti kingkong, dia menjelaskan, itu adalah penawaran jika ingin ditemani wanita. Murah, hanya diberi seikhlasnya.
Akhirnya, saya duduk kembali dan ketika perempuan-perempuan dengan menari mendekat, bertanya, berapa. "Seikhlasnya," jawabnya.
Ilmu ikhlas itu, terus saya korek untuk ketemu angka. "Pekgo," katanya sedikit kesal. Dan tentu saya tak kalah kesal. "Kampang, berapa pula itu Pekgo."
Ada yang ngeloyor pergi, berganti pula ada yang datang kembali. Terus berulang, dan saya benar-benar mencatat, sembilan kali berkata "kampang" sembari tertawa. Namun suara saya benar-benar hilang di telan dentuman-dentuman musik tanpa irama.
Tak tahan, gendang telinga saya seperti mau meledak. Saya keluar menyusuri jalan Pramuka. Saya sangat kaget. Ternyata inilah Jakarta. Saya menemukan ratusan anak muda usia belasan tahun, nongkrong-nongkrong di atas sepeda motor. Ada yang adu balap tanpa helm dan ada yang berjoget. Di depan warung tenda yang jual mie dan roti bakar, enam anak muda meminum ciu dengan menggilir gelas. Mereka membuat majelis yang melingkar dengan menjadikan botol sebagai pusat perhatian. Botol yang berisi minumam beralkohol itu seolah menjadi dzat keabadian. "Rasa nyes dan paitnya itu Bang...menjadi obat kegelisahan anak muda," kata teman kami yang baru saya kenal seraya bicara dengan nada pelo.
Saya kemudian memesan mie goreng, perempuan yang juga terlihat masih sangat belia duduk di atas motor memainkan ponsel, sambil merokok. Lalu lelaki yang jauh lebih muda, duduk di depannya. anak perempuan itu langsung merangkul pinggangnya. Mereka dengan santai berpelukan di atas motor. Sang perempuan melepas switter, terlihat punggungnya yang mulus. Ada tato di bahu kanannya. Tak seberapa jelas itu gambar apa, mungkin kupu-kupu, atau bunga. Ah, dia menatap tajam langsung ke mata saya. Lalu memainkan asap rokok. Terpaksa, saya tertunduk, kalah dengan sorot socana yang maha lancip itu.
Mie yang saya pesan belum matang. Datang tiga perempuan setengah baya, masing-masing membawa gulungan koran. Bedak mereka sangat menor, lalu memesan mie godok. Ketiganya, langsung menyulut rokok dan beberapa kali tertawa ngakak, sembari mendongak terkial-kial. Jelas sekali, ada beberapa warna merah, mungkin bekas cupang di leher perempuan berkaos ketat warna hitam itu.
Kembali ke soal ikhlas. Kalimat penjaga yang badannya seperti kingkong dan perempuan pakai kawat gigi yang mengucapkan seikhlasnya, benar-benar membuat kepala saya sedikit berputar. Bukankah ikhlas yang saya pelajari sejak kecil itu ketika berani mengesakan tuhan, tak ada tempat penolong selain Allah, dan berani mengakui tidak beranak dan tidak diperanakkan? Sekarang, saya dapat makna baru. Ikhlas itu artinya pekgo. Pekgo itu pun, baru saya tahu, artinya 150 ribu.
Inilah kehebatan diksi. Dimana capaian kesempurnaan hidup, kanuragan tertinggi untuk menyempurnakan ke insanul kamil. Bisa digeret ke pengertian untuk menjebur ke ranah asfala safilin.
Akhirnya, saya berjalan gontai sendirian masuk ke kamar, mengetik beberapa catatan yang menurut saya penting. Di Jalan Pramuka, Jakarta, ikhlas itu berarti pekgo. Sementara di jalan tanah kampung kami yang bercadas, ikhlas itu papan nama mushala. Dan tiba-tiba saya terkejut. Ada teman kami yang namanya Mas Ikhlas, sering kami panggil Mas Pramuka. Sebab, kemana-mana guru honorer itu selalu pakai baju pramuka, lengkap dengan dasi merah putih, baret, serta pangkat bintara dan bintang saka. Menurut dia, pramuka itu satu-satunya organisasi terbaik di dunia yang memadukan sipil dan latihan militer sekaligus. Merawat tradisi intelektual dan menguatkan mental, ditambah dengan penempaan fisik. Dimana dasa darma kesepuluh, berbunyi bersih-bersih. Yang membuat teman kami dihukum kungkum di kubangan kerbau semalam suntuk hanya karena menafsirkan suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, disingkat dengan kata. "Bersih-bersih."
Malam ini, saya menelusuri Jalan Pramuka Bandarlampung, berharap kapan bisa seperti Jalan Pramuka, Jakarta yang penuh nuansa ikhlas.
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment