SEBENARNYA saya enggan menulis seputar kejadian-kejadian yang disebut penistaan agama. Namun karena saya pernah mengulas tiga kluster anak-anak di perdesaan. Yakni, anak masjid, anak pasar dan anak gaul. Saya merasa punya kewajiban menulis ini. Tentang anak-anak yang menunjukkan celana dalam, jembut dan salat jadi mainan. Dan dilakukan di dalam masjid sembari telanjang dada, pakai topi dimiringkan, difoto serta diunggah di facebook.
Semua orang bisa dipastikan, menyebut itu salah dan gila. Namun demikian, komentar yang menjurus pada kekerasan fisik seperti agar pelaku dibakar, jauh lebih mengerikan dibanding kelakuan anak-anak itu.
Saya mendapat screenshots gambar-gambar ini. Benar-benar tertawa. Kenakalan ini sebenarnya, tak ada apa-apanya dibanding masa kecil saya.
Kejadian di salah satu masjid di pedalaman Lampung Tengah, dilakukan anak-anak Kota Metro ini, sebaiknya tidak terlalu serius di persoalkan. Akan tetapi, perlu dijadikan pelajaran untuk semakin tegas, hati-hati. Muncul pertanyaan, jangan-jangan kita ini belum siap jadi masyarakat yang terbuka?
Mencari kebenaran foto-foto itu, saya langsung berselancar. Menemukan nomor ponsel pemilik akun yang mengunggah foto-foto seronok di masjid dan tanpa menunggu lama, langsung meneleponnya.
Dengan suara gentar, anak yang mengaku bernama Firman bercerita seputar awal kejadian menyebarnya foto mainan mereka di dalam masjid. Yang bisa saja dijerat sebagai penodaan agama, menghinakan islam dan semacamnya.
Firman menjelaskan, ketika menjelang bulan ramadan lalu, seperti biasa. Anak-anak kampung yang akrab dengan masjid kerja bakti. Di dalam masjid itu, jelas dia, banyak walang sangit. Bergerombol dan menumpuk. Selain bau yang menyengat, walang sangit itu tak bisa dibersihkan dengan mudah. Maka mereka berlima, segera mengepel basah. Bermain air, siram-siraman. Bajunya ikut basah sehingga melepasnya. Namun, permainan tidak selesai. Mereka dengan membelakangi kiblat, pura-pura salat. Dengan ponsel Firman, difoto lalu diunggah ke facebook.
Setidaknya, itu cerita Firman pada saya melalui ponselnya, pagi ini. Dia juga mengakui, rajin mengaji, ikut tadarus dan lain semacamnya. Bahkan mengaku aktif di pondok pesantren. "Di luar sana, Pak, lebih banyak yang menghina agama islam dibanding saya," kata dia.
Tentu saja saya hanya bilang, tidak ada urusan soal itu, tolong segera dihapus dan buat klarifikasi, minta maaf pada publik. Entah pula, dari mana saya mendadak bicara seperti itu. Akan tetapi, kelakuan anak-anak itu tak jauh beda dengan kelakuan semua anak-anak masjid, hanya bedanya, dulu tak ada foto dan medsos. Serta tanpa kesengajaan, tahu diabadikan malah bergaya layaknya model bintang porno.
Jadi, ada persoalan serius pada moralitas dan sekolah kita. Kecerdasan bermedsos dan permainan yang dilakukan anak masjid sekarang, beda jauh dengan anak masjid zaman dulu.
Bayangkan, mereka berlima memainkan salat, menunjukkan sempak, memperlihatkan jembut. Namun dilakukan di antara mereka sendiri. Dulu, anak-anak juga sering berlaku konyol. Mengganjal temannya yang sedang sujud dengan tabuhan bedug, menarik sarung kawannya yang sedang salat, berteriak amin cukup keras sebelum imam membaca waladholiinn, dan sebagainya. Sampai suatu ketika, tradisi mlorotin sarung membuat teman kami merasa dendam. Datang salat belakangan, agar bisa ganti mlorotin sarung temannya. Benar, dia sukses. Namun membuatnya malu seumur hidup karena yang diplorotin adalah sarung ayahnya sendiri.
Di sini letak perbedaannya. Anak dulu, nakal dengan berani mengambil resiko dan berdampak komunal. Sebatas masjidnya, lingkup desanya, tak lebih radius lima kilometer. Anak sekarang, nakal di medsos, bisa cacat sejagat raya. Dianggap rusak secara permanen.
Bisa dibayangkan, anak perempuan berjilbab yang mengunggah saling jilat dengan pacar di hadapan adiknya yang kita diskusikan beberapa waktu lalu? Bagaimana tatapan orang yang mengadili moralnya, meski sebenarnya, anak itu tidak kenal. Pepatah, cukuplah mengencingi air zam-zam untuk terkenal, sekarang menemukan relevansinya.
Mendadak kita ngeri, kalau seandainya, semua persoalan diunggah di medsos. Bukankah selama ini, ada peralihan isu, kisruh di medsos jauh lebih mampu jadi referensi sikap mengambil kebijakan dibanding polemik di media massa seperti koran dan portal berita? Sebab, banyak media massa menjadikan medsos sebagai referensinya juga.
Terlepas dari kesalahan anak-anak itu, mereka masih punya kepedulian membersihkan masjid yang penuh walang sangit. Artinya, khilaf merupakan alasan paling logis dan siapakah manusia yang tak pernah melakukan kesalahan?
Bagaimanapun, kita mesti memberi hukuman pada anak nakal yang fungsi hukumannya untuk menyadarkan mereka dari kesalahan. Bukan menghukum supaya semakin terdidik jadi penjahat yang cerdas serupa koruptor dan pejabat yang memainkan agama.
Kenakalan anak-anak itu tak ada apa-apanya dibanding maling uang umroh yang diambil dari APBD, haji abidin yang tujuannya membungkam mulut dan agar bisa bareng-bareng membelakangi kakbah. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment