Merekam Konflik Menafsir Gemuruh
18 Juli 2017 by: Redaksi - Dilihat 283 kali

PAMERAN lukisan para maestro yang ditaja Galeri Nasional di Taman Budaya Lampung, baru saja ditutup. Selain menampilkan sejumlah lukisan para maestro seperti Ibuku karya Affandi dan Kapal Karam Dilanda Badai karya Raden Saleh yang tak pernah bisa bosan ketika menatapnya. Kita juga disodori sebuah tafsir tentang “kelampungan”.

 

Tercatat, ada 25 karya perupa Lampung yang bisa disebut sebagai rekaman sudut pandang seniman lukis ini dalam rangka menyuarakan spirit ruwa jurai. Rabu, 29 Maret 2017 siang sebelum ditutup pada sore harinya, saya baru sempat masuk Taman Budaya Lampung dan langsung melihat sebuah potret serta kekayaan Lampung secara utuh.

 

Pertama, lukisan yang dipasang di sebelah kiri, menempel di dinding yang pertama terlihat adalah Jago Tarung karya Suyitno GS. Dalam buku katalog tertulis; "Fenomena politik saat ini saling serang menyerang satu sama lain."

 

Kedua, tepat di sebelah lukisan Jago Tarung, ada karya Pulung Swandaru yang diberi judul "Tidak (gampang) Menjadi Lampung". Sekali lagi, diulas dalam katalognya. Potret keberagaman ini kalau tidak dijaga dan dipelihara dengan baik meniscayakan meletupnya konflik sosial. Lukisan Pulung di atas kanvas dengan cat minyak selebar 95 kali 135 cm dengan bingkai bilah bambu juga menjelaskan adanya katak dalam tempurung. Selain itu, bertarungnya semut hitam dan semut putih serta adanya semut hitam yang berusaha memanjat tebing. Secara estetis, tebing yang membentuk pulau Lampung itu menegaskan, daerah ini adalah arena semut bertarung untuk bisa bertahan hidup. Sebuah potret anomali dari kehidupan koloni semut yang tolong menolong. Bergerombol bahu membahu dan rukun.

 

Paradoks semut hitam dan semut putih yang bertema Tidak (gampang) Menjadi Lampung benar-benar destruktif dan kaya interpretasi.

 

Ketiga, lukisan yang menggambarkan konflik masih terlihat di deret yang sama. Yaitu, gambar gajah beradu kepala karya Ibnu Setyo Budiyanto yang diberi judul Fighting. Agresi dominasi saling serang dengan mempertaruhkan kekuasaan dan kehormatan. Sebagai mamalia, gajah yang bertarung pasti berprinsip, apapun akan dilakukan demi menang serta berkuasa.

 

Keempat, agak berjalan ke sudut, di dekat tempat televisi memutar film dokumenter yang mengulas kisah hidup Subardjo yang karya lukisnya juga ikut dipamerkan, ada lukisan yang berukuran jauh lebih besar. Menggunakan cat kanvas berukuran 120 kali 160 cm diberi judul Gerilya karya Koliman. Lukisan itu seolah menjelaskan, peperangan dengan tokoh mirip Raden Intan II sebagai panglima dan sedang mengacungkan keris sebagai simbol, perintah untuk menyerang. Perintah pada pasukan yang berjongkok di atas kayu gelondongan dan ada ibu yang menggendong bayi di tengahnya, benar-benar mengguratkan kesedihan dan ketersisihan budaya.

 

Memasuki lokasi pameran, kita seperti dihidangkan tafsir konflik dan kritik sosial yang estetis. Penuh warna dan garis indah ketika dijadikan bacaan secara utuh. Sebab, di tengah jago yang bertarung, semut yang beradu tanding, gajah yang saling mengalahkan, ada ketajaman warna dan banjirnya emosi untuk disejajarkan dengan berbagai simbol kearifan lokal.

 

Menafsir Gemuruh

Sedikit ke tengah, ditata secara simetris, kita langsung menatap Gemulai Menepis Gemuruh karya Ari Susiwa Manangisi. Adalah sebuah ruang permenungan, ketika memasuki gedung Taman Budaya Lampung tempat dipajangnya 40 lukisan, beberapa di antaranya bernada konflik. Kita masih bisa menyaksikan beberapa lukisan abstrak dan ada yang bisa disebut realis progresif.

 

Lukisan yang menegaskan sejarah dan simbol daerah tentang "Putri Kerajaan Skala Brak" dan "Spirit of Lampung" layak dijadikan bintang pameran. Bukan sekadar soal cat akrilik yang digunakan, melainkan secara simbolis dari ornamen junk khas Lampung, serta kedalaman makna tentang apa itu kecantikan, estetika dan getaran rasa ketika kita menatapnya, cukup memesona. Menghadirkan berbagai tafsir tentang Lampung dengan aneka ragam flora, fauna serta kekayaan seni budaya masyarakatnya.

 

Di lukisan Ayu Sasmita tentang Putri Kerajaan Skala Brak misalnya, ada empat perempuan yang memainkan Tari Tanggai dan Tari Merak Kenyang. Sementara di Spirit of Lampung karya Bunga Ilalang, seorang muli sedang menarikan Sigeh Pengunten. Sayangnya, waktu pameran cukup singkat. Publikasi yang dilakukan juga sangat terbatas. Hal ini berkorelasi pada minimnya apresiasi. Tercatat, hanya Lampung Post yang menurunkan tulisan seputar pameran dengan judul Menunggu Kolektor Mampir karya Isbedy Stiawan ZS.

 

Pameran lukisan yang penuh tafsir dan berbagai interpretasi para perupa kalah jauh dengan gegap gempitanya lomba tari kreasi yang digelar tepat di hari penutupan pameran.

 

Bayangkan, menikmati lukisan Ari Susiwa yang diberi judul Gemulai Menepis Gemuruh kita tentu butuh ruang kontemplasi yang lebih panjang dan sepi. Tidak bisa ditengah mobilisir massa yang terdiri dari anak-anak sekolah (kebanyakan sebatas shelfie) di depan lukisan tanpa melihat keterangan, apa judul, dan siapa pelukisnya. Termasuk terbatasnya cetakan katalog yang dibuat panitia. Beruntung, meski tak dikasih katalog oleh panitia, di luar gedung Taman Budaya penulis berhasil meminta dari kurator, agar berkenan memberikan buku katalognya.

 

Lewat semacam repro dari lukisan Gemulai Menepis Gemuruh itulah saya menikmati secara jauh lebih dalam, lebih detail, dan melihat dua penari, berdansa dengan kaki berjinjit balet, menyatukan tangan dan ayunan wiraga sebagai reaksi gemulai, menepis abrasi kebudayaan. Tapis sebagai latar, direnovasi dengan ketajaman ukiran gajah di kelir atas dan topeng pada kelir tapis di bagian bawah menunjukkan sikap bahwa gemuruh akan menjadi gemulai ketika kita berprinsip Bhinneka Tunggal Ika.

 

Banyak Perupa Berbakat

Latar para perupa yang ikut pameran kebanyakan dari Kota Metro dan Kabupaten Pringsewu manandakan, banyak pelukis di ruwa jurai yang belum ikut pameran. Mengintip dari buku tamu juga, ternyata sedikit sekali masyarakat yang menikmatinya.

 

Semestinya, pameran semacam ini lebih sering digelar oleh Taman Budaya Lampung. Tidak menyandarkan pada even Galeri Nasional yang belum tentu lima tahun sekali menggelar pameran di daerah kita. Mengingat banyaknya perupa berbakat yang lahir, besar dan bermukim di ruwa jurai, kita juga layak bertanya. Kapan ada pameran lukisan tentang the treasure of Sumatera di Gedung Dewan Kesenian Lampung yang megah dan kosong itu?!


Tulisan ini terbit dalam Lampung Post cetak edisi, Minggu, 9 April 2017.

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )