KISAH jujur Mulyadi memang membuat penasaran, saya tak bisa menemukan anak ini dari kampung apa, siapa bapaknya dan siapa saja tujuh saudara kandungnya. Namun berkat kejujurannya itulah, saya menemukan komentar yang cukup menghibur di kaskus. "Nah, begini dong. Bikin harum nama Lampung, bukan hanya soal begal."
Seketika KPK yang memasarkan tagline berani jujur hebat, langsung memberi pin dan penghargaan. Ini KPK yang huruf P-nya "pemberantas", bukan pelindung seperti yang ditulis staf honorer Kemendagri yang kabar-kabarnya juga berasal dari Lampung.
Dek Mul adalah bagian dari potret anak muda di kampung kami, yang pernah saya ulas kemana perginya pasca lulus SMA sederajat. Yang bulan ini saja, Lampung punya beban 214.701 pelajar yang baru lulus. Ratusan ribu anak ini akan kemana? Dari angka 214.701 siswa-siswi itu, untuk jenjang SMP sederajat ada 129.570 anak, yang mungkin bisa kita anggap semuanya mampu melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, MA, SMK atau sekolah lanjutan lain. Namun demikian, 85.131 siswa lulusan SMA sederajat, hendak kemana? Apakah anak-anak akan dibiarkan jadi calon begal?
Orang di luar Lampung mungkin belum tahu, kehebatan daerah kami ini. Semua keunggulan nusantara itu pasti dimulai dari Lampung. Sebab, daerah kami adalah pucuk kepala naga. Sebagai pintu. Gerbang dan gapura mistik untuk masuk ke ranah makrokosmos. Saya akan ceritakan ini lain waktu.
Saya hanya akan mengulas fenomena Dek Mul saja. Agar tidak berharap berlebihan untuk dapat penghargaan dari para pejabat asal kampung kelahirannya yang sedang sibuk membangun citra untuk kembali meraih rekor MURI sebagai daerah paling toleran karena bisa ngaji bersama lintas agama di tengah jalan, di bawah patung gajah.
Dek Mul, kenapa pula tak menerima tawaran promosi naik pangkat jadi pengawas itu? Apa kamu lupa, bagaimana caranya masuk untuk bisa kerja jadi clening service itu? Bayangkan, berapa adik-adik yang bisa kamu bawa kerja di Kasablanka itu kalau kamu jadi pengawas?
Jangan lupa, kamu itu kebalik, kok menerima pin dari KPK yang gak ada harganya tapi menolak naik jabatan? Kok ya yang kebetulan jujur, anehnya, diberi penghargaan tapi yang berjuang untuk menegakkan kejujuran, misalnya pengakuan maling seragam untuk pelajar miskin itu, eh malah dikerangkeng.
Memang benar kata temen saya, dunia ini sering tidak adil. Akan tetapi, selalu ada standar moral yang diterapkan secara merata.
Mari kita runtut kronologis penemuan uang Rp.100 juta itu.
Sebagai petugas kebersihan, Dek Mul seperti semua petugas lain, wajib mengikuti prosedur yang sudah distandardisasi untuk operasional kerja. Semacam SOP yang mesti dipatuhi semua pegawai, tepatnya buruh di Mall Kokas itu. Maaf saya sebut buruh, bukankah kebanyakan memang berstatus buruh kontrak, bukan pegawai tetap yang terjamin dari standar gaji, layanan kesehatan, sampai berbagai tunjangan lain yang sudah diatur untuk dilarang secara halus oleh Undang-undang ketenagakerjaan. UU yang menegaskan ada outsourching. Artinya, siapa pun tidak mesti Dek Mul, ketika menemukan barang harus menyerahkan ke petugas customer service yang kemudian melalui pengeras suara mengumumkan. Kalau tidak ingin diputus kontrak kerjanya. Sebab, jika tidak menyerahkan, berarti melanggar yang jika diusut oleh petugas keamanan, ketika empunya tas merasa kehilangan pasti ketemu karena pasti Mall Kokas itu dilengkapi CCTV. Meski sebenarnya, kalau kabur ya lumayan juga, 100 juta yang jangan-jangan Dek Mul belum pernah punya uang sebayak itu.
Lantas kenapa memuji secara berlebihan seolah-olah itu bentuk kejujuran yang hebat? Tentu hal itu berbeda ketika misalnya, Dek Mul menemukan di pinggir jalan dan menyerahkan ke kantor polisi sebuah tas berisi uang itu. Saya sebenarnya kagum pada Dek Mul atas kejujurannya yang kian langka, dan mungkin tak menyoal ketika kejujuran itu tidak diberi penghargaan oleh KPK.
Benarkah KPK sudah jadi pelindung korupsi hingga kesulitan cari tokoh yang menegakkan kejujuran secara lebih heroik untuk diberi pin berani jujur hebat? Mestinya, pin itu hanya bisa disematkan pada kalangan pejabat yang terbukti mampu mencegah korupsi. Kalau ditabur pada orang semacam Dek Mul, jangan-jangan semua anak muda asal Lampung yang merantau di Jabodetabek layak diberi pin berani jujur itu hebat. Sebab, langkah seperti Dek Mul itu adalah warisan dan tindakan yang harus dijalankan semua anak muda dari kampung kami. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment