SEKITAR satu setangah tahun lalu, saya sering ikut duduk di warung yang katanya remang-remang itu. Sebab, selalu cekak, biasanya memesan sebotol bir tetapi minta gelasnya empat. Beberapa teman sering tidak mau memesan bir, hanya beli nasi goreng dan air mineral. Lalu secara fasih menjelaskan kalau minuman itu rijsun.
Entahlah, apa itu artinya. Seperti paham ketidakmengertian saya, dia langsung bilang, arti rijsun itu air kencing kuda.
Bukan hanya dengan dalil berbahasa Arab, teman saya kemudian menjelaskan revolusi di Eropa akibat secangkir kopi dan membuat kafe-kafe penjual wine gulung tikar, kita masih dengan bangga mencerecap minuman fermentasi yang kadar glukosa dan tingkat asamnya, mengacaukan tenggorokan.
Beberapa perempuan dengan dandan menor, usianya bisa kita pastikan di bawah duapuluh tahun, beberapa kali melintas. Sembari menawari, nyanyi yuk, Bang. Secara halus pula, kami menolak karena terbayang mesti berapa lagi uang yang dikeluarkan. Meski secara manusiawi, saya sendiri merasa kasihan dengan anak-anak perempuan kami itu, nyaris semalaman kami duduk dan sepanjang itu pula, tak ada yang mengajaknya bernyanyi. Berarti, tak ada pemasukkan. Dan itu selalu kami lakukan, hampir rutin setiap malam, hanya berganti-ganti tempat yang katanya remang-remang itu.
Sampailah keyakinan, teman kami kemudian membuat judul yang menurut saya sangat indah. "Penghibur di Saburai Hijrah ke PKOR" kemudian disusul kenakalan-kenakalan lain, dimana beberapa pengakuan pedagang kaki lima yang memakan bahu jalan dan trotoar dengan gagah menyatakan "Kami Sudah Diizinkan Pol-PP" serta beberapa jepretan untuk menunjukkan, orang-orang berseragam menarik salar, meminta jatah durian, dan semacamnya. Kemudian sampai pada berusaha ikut dagang untuk mengetahui, berapa tarif resmi untuk sewa lapak di lokasi yang kini selalu ramai itu. Teman kami menemukan. "Sebulan 150 Ribu, Sehari 9 Ribu"
Nah, pada soal penggrebekan dan yang berhasil menggaruk sejumlah perempuan kami, pada kasus itu ada teman saya yang sangat senang ikut, mengawal sampai diserahkan ke dinas sosial, ditampung dan maaf, sebutan dia; "Kami Bisa Pakai Secara Gratis yang Tercantik".
Ada yang sukarela, ada yang sedikit dipaksa, namun sepanjang sejarah, hanya ada satu gugatan, kalau tidak salah oleh tiga perempuan yang mengaku dipaksa melayani oknum Pol-PP. Itupun, kasusnya sudah hilang.
Itu semua sudah terjadi kurang lebih satu setengah tahun lalu. Setelah ada sekitar 9 bulan Bu Sarah mendirikan ruang karaoke pertama kalinya di PKOR.
Prostitusi itu sudah ada setua peradaban manusia, teman kami yang pakar hukum menjelaskan, jika lokalisasi digusur dan ditutup, para perempuan kami akan memilih jalanan, keramaian, dan memanfaatkan kecanggihan tekhnologi.
Menggunakan kekuasaan secara arogan untuk merasa mampu memberangus porstitusi, harus dilihat secara komprehenshif. Ini penguasanya sedang gila, carmuk atau benar-benar baru dapat hidayah untuk nahi munkar?
Kalau benar dengan kekuasaannya menegakkan nahi munkar, apa bukti dia sudah melakukan amar maruf? Maksudnya, pengajaran moral secara berkala jenis apa yang sudah diberikan, penyiapan keterampilan secara tepat guna model apa yang telah dilakukan, sampai pada fase paling penting, meniadakan pasar. Menyadarkan semua konsumen ini, sudah dilakukan atau belum? Minimal mengampanyekan, kalau "jajan" sama dengan memasukkan kemaluan kita ke kulit durian yang dihimpitkan. Sebelum kena penyakit Lion King.
Jadi wajar saja seorang teman justru menghardik, sama yang kelas kere, kelas teri diobyak-obyak tetapi yang di dalam hotel berbintang dibiarkan. Aih, jangankan kelas hotel berbintang, level porstitusi terselubung di kelas ruko saja mesti mengalami penjara dan memang semestinya dipenjara karena silap secara hukum. Menarik bukan?
Itu belum ada apa-apanya dibanding dengan dampak ikutan akibat nahi munkar yang mengabaikan amar maruf. Meski pada fase tertentu, akan menjatuhkan seseorang pada posisi amar maruf nyambi munkar. Meyakini ada porstitusi atau sekadar seorang cari makan, tak bisa secara serampangan hanya bermodal asumsi. Kasus penggrebekan Pol-PP di PKOR beberapa hari lalu itu contoh kongkritnya, mencari tikus, tikusnya tidak dapat, namun membakar sebuah rumah.
Nyaris beberapa warung remang-remang itu semua pernah saya masuki bahkan beberapa teman, hanya mampu mengajak bertahan sekitar tiga menit. Takut ketika tiba-tiba digrebek BNN dan ikut kegaruk. Malu, katanya.
Saya semakin tertawa. Model menyelidiki semcam ini, tanpa melakukan beberapa pembuktian dan wawancara mendalam, sudah mengklaim investigasi, lalu secara membabi buta menulis warung remang-remang itu diberangus karena memaksa penguasa arogan menggila, bagi saya itu sama berdosanya dengan yang berupaya melanggengkan porstitusi. Ditambah kesalahan pembuka lapak plus penguasa gila.
Misalnya begini, ketika kami duduk-duduk melingkari sebotol bir dengan empat gelas, semuanya belum ada yang tertuang meski sudah habis rokok beberapa batang, mobil patroli lewat dan berhenti di sudut warung remang-remang tempat kami melingkar. Lalu, anak lelaki muda dari dalam berlari menghampiri mobil patroli itu. Masuk ke dalam kamar samping ruang karaoke yang menghadap jalan trans Sumatera itu kembali. Kami sempat terkejut, ternyata ada lelakinya di dalam ruang itu. Meski di kursi depan layar televisi untuk karaoke ada empat perempuan yang sibuk menyanyi-nyanyi tanpa tamu lelaki, sesekali berupaya terus mengajak kami agar mau ikut menyanyi yang selalu dijawab, nanti saja. "Kami masih ngobrol serius."
Teman kami langsung paham posisi, segera mengikuti arah mobil patroli, yang satu pura-pura ke dalam untuk ke kamar mandi, saya hanya bengong. Sembari memaki-maki agar terlihat mabuk. Lalu berceritalah salah satu di antara anak-anak perempuan kami yang paling terlihat dewasa. "Kami harus ngemel dari 20 ribu sampai 100 ribu kalau terlihat ada tamu."
Dia kemudian mengadili saya. Duduk berlama-lama tanpa karaoke dengan hanya memesan sebotol bir seharga Rp.50 ribu, itupun tidak diminum, menjadi masalah dan membuat mereka rugi. Mulai pukul 00 kami berkumpul kembali di tempat yang berbeda dan seperti umumnya anak muda kota yang kurangkerjaan. Membuat hipotesa awal. Ada penguasa tempat, ada penarik salar, ada manajemen dan ada adik-adik perempuan kami yang hanya punya satu keterampilan untuk bertahan hidup di ibukota provinsi. Lalu kami tulis nama dan alamat beserta nomor ponselnya.
Kemana mereka setelah dilarang beroperasi di PKOR? Teman kami dengan begitu meyakinkan, menjawab di bedeng-bedeng kamar kost. Dia bahkan, sehari setelahnya punya pernyataan ketua RT. "Ya sudah tahu, tapi bagaimana lagi, memangnya kami berani melarang?"
Tentu disertai menelepon beberapa nama yang ada di berbagai posisi itu; Penguasa tempat, penarik salar, manajemen dan beberapa adik perempuan kami (suatu saat perlu kita ulas satu persatu). Saya sepakat dengan simpulan teman saya. Berjayalah karaoke keluarga yang dimiliki pengusaha transnasional. Dengan emosi, teman kami menjelaskan. Seorang penguasa gila telah berhasil membuat semua tempat jadi titik-titik porstitusi yang dulu ngompleks hanya di satu tempat. Termasuk di mall dan berlokasi di depan masjid. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment