SATU-satunya kopi nikmat menurut teman saya, merk WC dari Kalianda. Sebenarnya, sebelum Sigit, sebut saja begitu, tentu bukan nama sebenarnya, membuat kemasan kopi merk WC, pedagang kopi di Pasar Inpres Kalianda itu hanya punya kios kecil yang posisinya dekat dengan WC Umum. Karena mampu menjaga kualitas, membuat beda dan namanya terkenal di seantero Lampung Selatan.
Dulu, saya sering ngintip cara buatnya, dan sebenarnya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Lazimnya pedagang kopi yang menyangrai dan menggiling sendiri, lalu membungkusnya dengan plastik, tanpa merk. Bagi para peminum kopi, langsung paham, yang dicecapnya adalah kopi WC.
Bentuk dan rasanya, cukup khas. Beda dengan jenis-jenis kopi bubuk yang beredar lebih dulu di Lampung Selatan. Ketika disedu digelas, bagi semua orang yang akrab dengan kopi WC, tentu langsung tahu melihat busa kekuning-kuningan di atasnya. Konon, ketika melihatnya dulu, diceritakan setelah disangrai biji-biji kopi itu diayak olesan mentega, sehingga rasanya lebih gurih dan memunculkan warna pasir wangi, aroma khas kopi bubuk merk WC.
Kopi WC, namanya kini sudah sangat tenar di Jabodetabek. Yang jaga juga kabarnya sekarang sudah anaknya. Penjualnya, kini sudah kaya raya. Sebab, semua anak-anak muda yang kembali ke tempat kerjanya setelah pulang kampung, membawanya sebagi oleh-oleh.
Sekarang, bahkan sudah dikemas dengan merk Kopi WC yang saya kenal diedarkan Sigit, sebut saja begitu, tentu bukan nama sebenarnya. :D
Kembali ke teman saya, yang sangat aneh. Sebut saja Mukhlisin, sebut saja begitu, tentu bukan nama sebenarnya. Jauh sebelum saya akrab menyeruput kopi, dia sudah sangat maniak. Bahkan ketika makan nasi padang di siang hari, sore hari atau malam hari, belum sempat tangannya dicuci dan mengambil tusuk gigi, pasti sudah teriak memesan kopi.
Ketika itu, bukan peristiwa aneh dan biasa saja. Kopi di rumah makan padang tentu saja, lebih sering tidak enak dibanding kafe-kafe atau memang khusus warung kopi. Sebab, mereka tak mempersoalkan kualitas bubuk dan repot-repot menjaga aroma. Cukup merk jempol atau kemasan lain yang beredar luas di pasaran. Proses buatnya pun, pasti hanya disiram air tremos. Lalu manisnya bikin begidik.
Bagi lambung orang miskin model saya, tentu langsung seperti kumat penyakit mag-nya.
Rumah makan padang Mbah Darmo, agak berbeda. Selain ketika ngupi ikut ngecipris, cerita seputar proses membuatnya yang kata dia ada ilmunya, dihidangkan tidak dengan cangkir seperti lazimnya rumah makan padang. Bubuknya juga langsung dibeli dari Kalianda. Dia pakai gelas beling yang biasa untuk hajatan di desa-desa, diberi tatakan dari seng serta sendok yang masih tercelup. Bagi yang tidak suka manis, jangan diaduk. Saya sempat bertanya, kenapa gelas beling, bukankah sering pecah kalau air kopinya baru merebus? "Inilah ilmunya," kata dia sembari tertawa bangga.
Gelas itu tidak akan pecah kalau posisi sendoknya terendam, entah benar atau tidak, saya tak peduli dan belum pernah mempraktekkan. Seingat saya, memang ketika gelas beling retak, sendoknya tidak ikut terendam.
Akhirnya kami berbincang akrab, teman saya asyik menusuk-nusuk giginya, apa pun jenis kopinya, sepanjang warnanya hitam, hajar. Nah, ketika kami saling menyebut nama. Mbah Darmo? Rumah Makan Padang Bundo Kandoung? Ah, ini menarik. Saya lalu menelisik lebih jauh. Berceritalah dia. Sebenarnya dari Madiun, lalu menikah dengan istrinya yang sekarang, orang padang. Meski dia yang menjaga, melayani pembeli, merk rumah makan padang disandangnya.
Bedanya, dia melayani dengan banyak mengajak berbincang dengan pembeli, sementara rumah padang lain, lebih sering mencureng dan menyediakan menu seperti membanting piring. Sayang, rumah makan padang Mbah Darmo itu ikut tergusur dan mengakui mati setelah ada flyover. Bagi pejalan, tentu tidak nyaman berhenti di rumah makannya, berbeda sebelum ada jembat layang. Termasuk tukang ojek, sepertinya jarang ada di depannya lagi.
Ngupi di rumah makan padang Mbah Darmo itu kalau tidak salah sekitar 2013. Entah, apa sekarang masih buka atau sudah tutup. Namun kenangannya, begitu ada Lacofest, membuat saya ingat, mestinya dia ikut lomba barista. Karena teman saya bilang, kopinya seperti diberi irisan daun ganja. Bikin ketagihan. Ini kalimat asli diucapkan Ahmad Rodiani, sebut saja begitu, tentu bukan nama sebenarnya. Yang pernah saya ajak ngupi di rumah makan padang tapi punya orang Jawa, eh, tinggalnya di Lampung.:D
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment