JEDING itu bahasa lain untuk kolam pemandian. Bagi yang belum tahu apa itu vokabuler "ngubak" atau "ke kolam" pasti sulit menemukan esensi dari apa itu hukuman menguras jeding.
Hukuman ini, jauh lebih berat dan memalukan, dibanding jenis sanksi apa pun. Jauh lebih berat dibanding sekadar membersihkan WC ketika masih zaman sekolah dasar.
Bahkan, sesudah masuk SMP. Saya, pernah dihukum menguras WC karena ketahuan bolos lompat pagar sebelum jam pulang. Hukuman itu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding hukuman menguras jeding. Meski termasuk sekolah besar dan jadi pavorit di kampung kami karena untuk bisa masuk butuh NEM lulus SD yang tinggi serta jadi tujuan banyak anak-anak melanjutkan pendidikannya. Saya masih ingat, satu angkatan punya delapan kelas dengan masing-masing kelas berisi 40 siswa, ketika itu, umumnya semua sekolah negeri pasti masih punya WC yang luar biasa buruk. Jorok, dan air yang tak teratur.
Kerekan sumur yang jauh dari lokasi WC, juga lebih sering tidak ada. Sehingga ketika Anda masuk toilet, lapar atau haus setelah olah raga, pasti sulit untuk menyantap makanan jika melihat dan baru menyium aromanya.
Saya bahkan pernah cerita kondisi WC di sekolah kami, setelah lulus SMP ketika acara mayoran dengan lauk ingkung dan aneka urap yang luar biasa lezat. Mayoran mendadak bubar dan tak jadi makan. Saya masih ingat komentar Kocolan ketika itu. "Lebih buruk dari kelakuan Bandot!"
Bandot itu, terkenal sering meludahi makanan agar teman-temannya tidak mengambil atau meminta.
Bandot maupun Kocolan, pernah saya tempeleng dan tak ajak berantem gegara hal-hal sepele yang tentu saja, ketika mengingatnya saya tertawa sendiri dan seketika meminta maaf. Betapa nakal dan tengilnya saya waktu itu. Beberapa kali justru secara kurang ajar dijawab Bandot. "Sampai sekarang juga masih nakal dan tengil." Di telepon kami saling tertawa, lalu janjian untuk bertemu dengan saling memangsa kenangan, bertukar kabar, mengenang zaman yang penuh keindahan sekaligus menyedihkan.
Bandot, Kocolan dan saya adalah anak yang pernah dihukum menguras jeding. Betapa penuh penderitaan dan menyesalnya ketika tahu rasa sakit, luka lara serta tumpukan duka waktu dihukum menguras jeding itu. Saya benar-benar menyesal. Sebab, pernah mengejek dan menertawakan Bandot atau Kocolan, menjadi pendulum penyesalan yang tak terperi.
Mengejek Bandot dan Kocolan, apalagi menyebut mereka sebagai anak cengeng dan penuh kemanjaan hidup, sampai memutuskan tak layak bisa mayoran bareng saya dalam satu nampan dengan teritori makanan yang hanya ada di dekat dan di hadapannya. Benar-benar penyesalan seperti warga yang memukul-mukul kepalanya karena nomor SDSB empat angka yang tidak jadi dipasang, tembus.
Bayangkan, mendapat sanksi agar membersihkan toilet dengan air yang diambil di sumur yang jaraknya limat puluh meter ketika SMP itu masih lebih enak dan lebih baik dibanding hukuman menguras jeding. Apalagi sebatas hukuman fisik yang hanya disuruh lari, berdiri di semen sepanjang lohor atau digunduli. Tidak ada apa-apanya.
Saya akan ceritakan apa itu hukuman menguras jeding. Pertama, jeding itu adalah bagian dari kebutuhan vital semua warga. Seingat saya, ada sekitar 745 manusia yang menyandarkan lokasi bersuci di jeding itu.
Jeding di kampung kami, berukuran enam kali delapan meter untuk perempuan. Dibatasi tembok setinggi dua meter, ada jeding lelaki berukuran tiga kali enam meter.
Di jeding itu semua aktivitas yang berurusan dengan air, dilakukan semua warga. Mandi, mencuci baju, mencuci piring, sampai sekadar mbeteti ikan atau membersihkan ternak yang habis disembelih, dikerjakan di jeding. Sehingga, jeding tak pernah sepi. Jam berapa pun pasti ada aktivitas. Terbuka dan terang benderang selama dua puluh empat jam.
Saya pernah mengingatnya, ketika jatuh hukuman menguras jeding butuh waktu tujuh hari untuk tahu dan secara presisi menentukan, jam berapa jeding sepi aktivitas. Yakni, hanya ada jeda di jam dua siang sampai jam tiga, dan jam sebelas malam sampai jam satu dini hari. Masuk jam satu lebih lima menit dini hari, rombongan warga yang berprofesi sebagai pedagang sudah beraktifitas di jeding. Jam tiga pagi, sudah ramai yang mandi. Mencuci. Sampai jam dua siang. Jeda sekitar satu jam, tepat jam tiga sore sudah masuk waktu asar, jeding ramai lagi. Ini tidak berlaku ketika masuk hari Jumat.
Setiap Jumat, sepi jam dua sore dan jam satu dini hari tidak ada lagi. Jeding lelaki dan perempuan tetap ramai. Baru saya sadar ketika mulai menulis ini, ya, mungkin kebanyakan mereka sedang mandi junub.
Kedua, ketika menentukan waktu sepi dan formasi jadwalnya ketemu, harus memikirkan aliran dan air untuk cebok orang yang berak, tentu jumlahnya tetap sekitar 745 orang.
Khusus untuk buang hajat ini, ada enam pintu untuk lelaki, dan enam pintu untuk perempuan. Ini juga harus dicatat, jam berapa WC sepi. Lebih dari itu, WC yang ada di kampung kami, semuanya menyandarkan dari isi dan buangan air yang meluber di jeding.
Luberan air dari jeding masuk ke penampungan untuk bersuci yang telah berak. Buangan dari jeding sisa mencuci atau mandi itu, mengalir untuk membuang tai yang dikeluarkan dari WC. Menuju sungai kecil yang melingkari kampung perbatasan di permukiman kami, lalu mengalir sampai jauh, hingga ke laut.
Anak yang dihukum menguras jeding, mesti membuat kalkulasi baik aliran air yang mencukupi untuk itu semua. Sampai semen untuk WC tanpa lumut dan bersih. Waktu itu kami sama sekali tidak kenal kaporit. Membersihkan lumut di jeding hanya dilakukan pakai serabut kelapa yang sudah disiapkan lebih dulu.
Begitu juga saat menguras jedingnya, airnya mesti terlihat dasarnya. Sebab, air itu bisa menyucikan jika jernih dan mengalir, ketika itu, kami masih diajari dan menjaga diri dari najis mustakmal. Anak yang masih dikenalkan najis mustakmal, tidak kenal wudhu dikobok. Apalagi air yang tangannya dicelupkan. Semua diberi dalil kena najis mustakmal. Kalau wudhu, kaki yang sudah dibasuh dengan air mancur di padasan itu, mesti tak boleh kena cipratan air dari kaki sebelahnya. Jadi anak-anak pasti memakan waktu cukup lama, antre mengambil air wudhu karena mesti mengangkat-ngakat kaki mirip anjing yang sedang kencing. Demi terjaga dari najis mustakmal. Demi sempurnanya wudhu. Begitu sampai pada pelajaran kitab thaharah, kami semua mengucap. "Pekok, pekok." Sembari tertawa terkial-kial.
Jangan dibayangkan energi dan tenaga yang mesti dikeluarkan, kedinginan dan kungkum berjam-jam demi membuat aliran paralon pengisi jeding dari belik utama, semacam sendang yang ada di lereng sebuah gunung itu, butuh berhari-hari. Ketepatan membuat skedule dan tentu, semakin sering paha atau jemari disabet rotan karena banyak hafalan yang hilang.
Jeding itu adalah saksi. Dimana kepala kami pernah dicelupkan sampai megap-megap. Namun di sisi lain, jeding itulah yang membuat saya mampu bertahan slulup sampai beberapa menit. Mengingat jeding, membuat saya benar-benar kangen pada Kocolan dan Bandot.
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment