Lomba Cita Rasa Kopi di Lacofest
19 November 2016 by: Redaksi - Dilihat 648 kali

APA yang membedakan kopi robusta dengan arabika? Soal aroma, kelembutan, ketajaman, robusta pasti kalah. Itulah alasan, ibu-ibu kita di kampung, ketika menyangrai dan menumbuk kopi jenis robusta, dicampur potongan kelapa dan beras. Ada yang dicampur jagung dan sengaja, tidak dibuat halus agar ketika menyeruput kopi bisa sembari nyisil. Meremukkan potongan biji kopi atau jagung dengan gigi depan.

Bagi peminum kopi, selain aroma dan keasaman yang menandai rasa arabika dan robusta adalah reaksi perut. Jika tambah lapar setelah minum kopi, itu berarti arabika. Kalau kenyang setelah ngopi, itulah robusta. Sesederhana itu.

Beberapa ahli kopi kalau diberi suguhan robusta pasti akan menyebut, ini minum kopi apa menyedu arang kopi? Kenapa rasa gurih kelapa dan berasnya lebih terasa dibanding kopinya? Kenapa aroma jahe dan kayu manisnya lebih sedap dibanding kopinya?

Ini minum jamuan rempah apa mencerecap kopi? Di sini mestinya inti lomba cita rasa kopi robusta. Tanpa kreasi campuran, sulit kopi robusta mendapat tempat bagi pecinta kopi, sebab dari sisi aroma dan rasa, bisa dibilang kalah jauh dengan jenis arabika.

Memang di Lampung, kebanyakan kopi jenis robusta. Namun memaksakan diri untuk tampil dengan mengandalkan cita rasa, jelas tak ketemu formula yang tepat. Meski kadar olahan baik kering atau basah, semi kering atau semi basah, dengan mesin pengupas macam heller atau ditumbuk manual, dijemur dengan kadar air 15 persen atau disimpan bertahun-tahun lebih dulu, tidak akan memberi dampak pada cita rasa jika disandingkan dengan jenis arabika.

Apalagi, jika sasarannya adalah anak muda Lampung yang memang mulai kehilangan budaya ngopi, akan dengan mudah mendapat jawaban. Enak kopi saset yang sudah dicampur susu dan kremer.

Di sini pentingnya lomba cita rasa kopi robusta, mestinya tidak perlu hadiah yang levelnya mirip lomba desain logo lacofest. Melainkan dibuat lomba agar para tengkulak dan pengusaha penimbun kopi ikut berpartisipasi. Tentu mereka tak butuh hadiah uang, mereka hanya butuh, izin ekspor dan beberapa syarat izin perpanjangan yang dikeluarkan Dinas Perkebunan itu, untuk dipermudah. Tidak dilayani dengan wajah meminta amplop dan mengesankan; jika bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah?!

Lacofest yang diagendakan pada 7-8 Desember 2016 ini sepertinya baru dihelat pertama kali. Terdapat setidaknya tiga lomba utama. Yaitu, lomba cita rasa kopi robusta, lomba perang barista dan lomba desain poster. Ada agenda kongkow komunitas, meet the expert, romantic night dan pameran cafe (entah apa ini maksudnya?).

Jangan lupa, tempatnya di MBK. Anda yang masih bawa sepeda motor sebaiknya tidak usah datang. Bukan hanya parkirnya yang diskriminatif, mall itu bisa disebut lokasi pembeda kelas untuk orang yang bawa mobil dengan yang masih mengendarai sepeda motor. Pengendara mobil, punya jalur ke luar dua arah yang tembus ke Jalan Teuku Umar dan Jalan Sultan Agung. Yang bawa mobil jarang antre untuk keluar meski sulit mendapat tempat parkir. Namun bagi pengendara roda dua, apalagi yang bawa anak kecil, sebaiknya jangan pernah masuk MBK lagi. Selain antre panjang, pintu keluar satu arah, kadang hanya dibuka dua pintu yang sejajar, ventilasi udara tidak ada, anak kecil yang dibonceng ibunya bisa kenyang dan ketiduran menghisap asap knalpot.

Memangnya locafest ini digelar untuk siapa? Kenapa mesti di MBK? Lak asfu sekali itu. Kalau saya, meski bawa sepeda motor rencananya akan tetap datang. Satu-satunya keunggulan MBK dibanding tempat lain di Bandarlampung, terutama bagi lelaki mata keranjang macam saya, perempuannya cuantik-cuantik sekali. :D

Di beberapa tempat ngopinya, mereka bisa minjam korek kita untuk menyalakan rokok sembari menebar senyum simpul. Ahai, yuk dik, nonton di eks eks wan. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )