Ayo Ngrondo, Dasar Tukang Ngaceng (1)
19 April 2017 by: Redaksi - Dilihat 641 kali

KETIKA berjalan dari arah Kobum ke Kota Balam, jangan lupa selalu nengok sebelah kanan. Di sana ada baliho biru yang besarnya sak hohah. Bertulis balok ayo ngrondo. Atau kalau dari arah Balam ke Komet, nengoklah ke kiri, di sana juga ada baliho sejenis.

Baliho itu menunjukkan wajah ngacengan. Modelnya, mirip-mirip kamuflase dan citra kosong Presiden Petruk di negeri Welgeduwelbeh. Masih ingat zaman banjir? Dimana ada tangga, untuk jalan Presiden Petruk justru naik merangkak dengan pegangan besi pembatas jembatan.

Lalu, ketika ada got tersumbat, dengan tetap mengenakan seragam perawat, masuk dan pura-pura melongok penyebab mampat. Citra kosong model begituan itu, terjadi di kampung kami. Pos rondanya belum juga dibenahi, bahkan beberapa tanah perdikan belum punya, eh, digelorakan ajakan ayo ngrondo karena merasa suka ngaceng.

Memang, setiap yang suka menabur citra, pasti orangnya gampang ngaceng. Belum beres di satu kota geser ke kota yang lain, belum beres kerjaan satu, pindah kerjaan lain karena tergiur kebinalan lawamah. Belum selesai juga satu periode sesuai janji, melompat lagi. Memang bisa menang sih, namun yang terjadi bukan perbaikan. Melainkan tumpukan kerusakan-kerusakan.

Mana ada cerita orang yang rakus jabatan punya kemampuan memegang amanah? Mana ada orang yang banyak menabur puji-pujian punya prestasi? Contohnya saya, menulis puji-pujian, karena saya sepenuhnya sadar, tak pernah punya prestasi. :melet: 

Mari kita bahas satu persatu tentang tukang ngrondo yang suka ngaceng ini. Pertama, pindah agama, bagi sebagian orang boleh dan sah-sah saja, bila perlu setiap hari seperti minum antibiotik. Pindah parpol, jangan. Eh, maaf kebalik. Pindah parpol boleh tiap hari tapi jangan pindah-pindah agama.

Sekadar cerita. Anak ini, dulu sebenarnya pemuda biasa saja, sampailah ada momentum punya uang dan jabatan di parpol. Nasib dan komunikasi politiknya sangat baik, banyak orang senang dan bahkan, yang digorok sambil berdiri pun, karena kemampuan komunikasi politiknya, kepandaian diplomasinya, bisa menerima dengan tersenyum. Beberapa kasus, yang digorok bahkan mengucapkan terima kasih.

Bermula dari ketua parpol dan jadi wakil adipati di tanah perdikan Negeri Welgeduwelbeh, anak ini memperlihatkan kemampuan meraih puncak kekuasaan. Sebab, tak bisa naik ke level yang lebih luas agar menguasai beberapa kadipaten, anak ini dengan tersenyum, tanpa beban, pindah parpol. Jadilah dia penguasa dengan zona yang lebih baru kemudian membuat brand seperti tukang kawin. Ayo ngrondo.

Memasifkan ajakan ngrondo itu, tipikal Penguasa Pajang yang tanpa malu memindahkan Kerajaan Demak ke daerah kekuasaannya hanya karena dirinya merasa jadi Wali Sultan setelah sukses membunuh Sultan Mukmin, Sultan Hadiri dan menumbangkan Penangsang. Anak ngacengan ini secara cerdas memaksimalkan semua potensi yang dimiliki. Kedua, terinspirasi dari seruan agar ronda menjaga keamanan, diplesetkan dengan ayo ngrondo di daerah kekuasaannya. Cara paling efektif, tentu saja menyerukan semua pegawai perempuan natapraja untuk bergoyang-goyang agar libido ngacengannya tersalurkan.

Ketiga, pembiayaan di semua kademangan untuk memobilisir orang goyang-goyang senam ayo ngrondo itu, tentu saja didapat dari menjualbelikan posisi nataprajan. Menjaga agar Waliyul Amri tidak menghalang-halangi ngacengannya anak ini, sudah sejak awal dirinya mengangkat jadi Wakil Sultan, pemegang tampuk tertinggi keputusan dalam natagama, langsung dibubarkannya. Memang, kepiawaian anak ini sebenarnya karena didampingi oleh beberapa orang cerdik pandai yang sama lakunya, tukang ngaceng.

Keempat, ketidakpunyaan malunya anak ini, sebenarnya bermula dari iseng untuk mempermainkan sebut saja keturunan pendiri Demak, namanya kalau tidak salah Ki Juru Paniren-iren. Orang tua yang berkuasa jadi Sultan namun seperti si buta Mukmin. Awalnya enggan dan menolak, karena dipaksa Dewan Wali, pemilik trah atas darah penguasa itu akhirnya menerima. Akibatnya, ketidakbecusan Paniren-iren semakin terlihat, melahirkan anak macan yang tukang ngaceng. Tukang merebut istri orang dan dayang-dayang pengawal Ratu Kalinyamat. Dan mulai membabibuta. Dia tak sadar kalau menjadi bidak, wayang dari Pemanahan, Penjawi dan Ki Juru untuk memuluskan kebangkitan Pengging.

Maraknya seruan ayo ngrondo dan anak yang tukang ngaceng, masifnya ajakan mesum untuk goyang-goyang sebenarnya bukan persoalan penting. Namun karena sudah mampu mendekonstruksi nilai dan meneguhkan citra kosong, layak diperangi sebagai bandit Kolor Ijo. Kita butuh kekuatan Prasojo untuk mengambil dendam pada Lowo Ijo yang sudah memperkosa istrinya. Ini yang terjadi dalam novel Panangsang Rembulan Kabangan. :D

Kelima, dalam novel itu, pesona Hadiwijaya memang jauh melampaui seluruh penguasa kadipaten lain sebab, dia mampu memasarkan apa yang sedang digemari masyarakat ketika "Dewan Wali" kian kehilangan pengaruh di ranah kekuasaan. Artinya, ayo ngrondo itu kecabulan dan kemesuman yang dipertontonkan. Orang yang punya kewarasan dan sedikit saja nalar sehat, mesti melawan. Bila perlu dengan cara kasar dan sedikit caci maki. Saya akan ikut melawannya. Bajingan sekali kan?! :melet: (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )