SALAH TINGKAH adalah ungkapan sekaligus pengakuan Ari Pahala Hutabarat. Editor buku Tujuh Carik Perca (TCP) yang diterbitkan Rumah Tanka, 2017.
"Saya terjebak dalam kesalahtingkahan estetis," kata dia yang menjelaskan posisinya sebagai editor, pembahas yang berjenis kelamin laki-laki di tengah para perempuan cantik yang jadi penyair.
Kalimat yang sangat puitis, tepat sebagai judul untuk mengulas puisi-puisi mini yang dibagi dalam tujuh carik. Yang diharapkan menjadi kepingan perca. Semacam sisa kain yang saling terhubung, sama warna dan motifnya untuk kemudian bisa terbuang sia-sia atau jadi kerajinan, keindahan maha karya dari rajutan tangan terampil yang kuat secara literasi.
Sebagaimana biasa, pertama kali membaca buku puisi saya selalu berusaha menyelesaikannya secara langsung. Apalagi, buku TCP dengan tebal 229 hal. Terdiri dari kalimat pendek-pendek. Satu halaman, kebanyakan hanya berisi tiga baris kalimat. Satu kalimat, tak lebih dari tujuh suku kata dan sebagaimana klaim Rumah Tanka, buku ini juga berusaha menyajikan waka. Waka sendiri berati sajak yang secara keseluruhan terdiri dari maksimal tiga puluh satu suku kata. Artinya, saya meyakini tidak butuh waktu lama untuk selesai membacanya.
Akan tetapi jangan ditanya bagaimana cara memahaminya. Satu puisi, sekali baca memang seolah terselesaikan. Namun sama sekali tidak menemukan makna. Begitu berusaha meresapi, kita merasakan kejutan-kejutan, lompatan-lompatan kata yang mendadak jadi lukisan sebuah peristiwa, bingkai keterangan-keterangan yang sangat detail. Sangat presisif dan benar-benar merasakan kekuatan diksi dan tuturan lain sebuah teks.
Penyair Perempuan Lampung
Kebiasaan membaca semua puisi dalam satu buku, khusus pada TCP ini, menyisakan masalah serius bagi saya, membuat emosi terpancing dan memaksa larut dalam momen-momen muram dan hidup yang penuh kerutan kening.
Secara pribadi saya merasa, menemukan lompatan-lompatan pengetahuan yang harus ditelisik lebih dalam, membuat diri terjebak pada samudera kedirian yang dangkal. Akibatnya, penuh kejengkelan.
Bukan saja memaksa saya harus membaca kembali "Those Women Writing Haiku" karya Jane Reichhold, namun lebih jauh, saya dibingungkan berbagai defenisi kata seperti hio, reddendum, orchestra Yani, linen dan semacamnya. Yang memanifestasikan miskinnya pemahaman saya, terbatasnya vokabuler dan tentu saja, sekadar untuk menemukan keindahan baca puisi saja sedemikian sulit.
Sebut saja misalnya, “rumah tangga”. Dua kata yang diucapkan berulang-ulang oleh masing-masing penyair ketika peluncuran buku itu. Katanya juga ada group Whatsaap yang diberi nama “rumah tangga” sebagai media mereka disiplin menulis sekaligus berlatih teknik mencipta puisi. Baru ngeh setelah membolak-balik halaman, memahami apa itu Rumah Tanka. Ternyata bukan "Rumah Tangga" seperti yang ada di catatan saya. Meski sayangnya, tidak ada alamat penerbit.
Artinya, buku puisi ini diterbitkan secara indie. Aha, ini buku indie, berarti tanpa kurasi? Pertanyaannya kemudian, apakah buku sastra yang diterbitkan secara mandiri, bukan oleh Gramedia Group atau terpajang di rak sastra toko buku besar itu pasti tidak berkualitas? Apakah buku yang diterbitkan sendiri, dalam arti penerbit gurem pasti tidak ada editor dan ketatnya seleksi lazimnya buku sastra lain?
Pertanyaan-pertanyan naif dan retoris inilah yang berusaha penulis jawab. Buku seharga Rp.45 ribu ini berisi puisi pembuka berjudul “Panen” dan ditutup dengan puisi berjudul “Bunga untuk Ainun”.
Secara bergiliran, tujuh penyair yang duduk berjajar di depan ketika acara Peluncuran Buku TCP di Kafe Wood Stair, Rabu (6/9/2017) malam, menjelaskan proses kreatif mereka sebelum menerbitkannya.
Saya meyakini, siapa pun yang membaca buku puisi ini tanpa diimbangi dengan hadir atau mendengar proses kreatif mereka untuk melahirkan satu puisi, lalu tidak membaca pengantar editor terlebih dahulu, niscaya jadi anak kota yang tersesat masuk belantara tanpa tanda dan kode lintasan. Bukan saja sekadar bingung, lebih parah, besar kemungkinan untuk tidak akan pernah selesai membacanya. Sebab, diseret pada pemahaman sastra Jepang, lompatan-lompatan imaji, permenungan yang sangat feminim, terkadang cerewet, galak, dan beberapa di antaranya, lukisan sosial dan nyaris semua puisinya--disebut dalam pengantar--ruang spasial yang menghadirkan intelek, emosi dan imaji secara serentak sehingga penuh ledakan ketika ditemukan makna yang tersembunyi.
Ironi itu kemudian menjadi sangat hening sekaligus beringsik. Sekadar contoh, puisi diberi judul Cumi-cumi hal.171 yang membuat juga saya berhenti cukup lama ketika membacanya; "di dalam perut cumi-cumi/seekor ikan kecil mati/membawa ingatan wajah ibunya."
Jeda yang hadir adalah sederet tanya, apakah cumi-cumi memakan ikan? Ingatan pada wajah ibu, apakah pasti muncul ketika kita akan mati? Membaca TCP, kita akan terus diseret pada pengetahuan berbagai tekhnik pembuatan puisi, termasuk mesti sadar juktaposisi, metafora, sampai harus membawa alat "what, when, where". Harus pula disertai, pernah mempelajari berbagai tehnik mencipta haiku. Kadang harus tahu, sejumlah puisi yang perlu membacanya pakai teknik Riddle, agar menemukan koan dan apa itu yang berusaha diwujudkan sebagai "satori" dari beberapa puisi yang ditulis Inggit Putria Marga, Fitri Yani, Liza Mutiara, Nersalya Renata dan Ruth Marini.
Prihal-prihal tekhnik itu sudah terbukti. Satu puisi yang berisi tiga baris yang berjudul "Seumpama" jadi diskusi panjang yang mengarah pada perdebatan serius. Sayangnya, anggapan "bukan haiku" dan "meaning-nya mana?" itu tidak diteruskan lebih intensif. Sehingga, terkesan, komentar tanpa sadar. Meski sebenarnya, saya sepakat. Beberapa puisi dalam TCP, nyaris sama tema, termasuk persis ungkapan sunyi yang membuat tumpang tindih sebuah permenungan. Sebagai pembaca, menafsirkan suara “Bunyi” hal.92 dan “Panci” hal.170 saya sendiri merasakan, ada yang kurang kuat sebagaimana ada yang sangat kokoh menjadi "Tanka" yang sebenar-benarnya.
Mencerecap Haiku
Di Amerika Serikat, pengenalan haiku dimulai setelah selesainya Perang Dunia II. Di Perancis, dimulai sejak 1902 dan baru pada 1920 haiku semakin populer. Membangkitkan antusiasme penyair Prancis yang terkenal seperti Paul Valery, Claudel, dan Breton sebagai tokoh haiku. Sementara di Kanada, tercatat masuk pada 1922. Pertanyaannya, kapan haiku masuk di Indonesia? Sangat jelas, haiku baru masuk Indonesia setelah terbit buku kumpulan puisi "1000 Haiku Indonesia" oleh Kosakata Kita, 2015.
Sebagai puisi, haiku adalah capaian sempurna sebuah permenungan sekaligus kemampuan mengolah keberaksaraan untuk menemukan sesuatu yang sangat sublim. Haiku adalah tawaran dunia baru yang penuh daya kejut. Ketika menjelaskan bagaimana keseriusan mereka mempelajari haiku dari sekitar 150 judul dan hanya terpilih 34 judul yang ada dalam buku ini, Fitri Yani mengakui ada seleksi ketat dan diskusi panjang untuk setiap tema. Bagaimana dirinya berusaha intensif mendalami makna sekaligus aturan beserta substansi haiku. Bisa kita lihat hasilnya di hal.22. "kereta berhenti/wajah perempuan/umpama pagi."
Puisi yang diberi judul "Setibanya di Stasiun" ini berhasil membuat ungkapan baru dalam lukisan kerinduan sekaligus majas dari kebahagiaan pertemuan. Berseri-seri wajahnya, diganti dengan diksi yang cukup indah sekaligus kuat. Yakni, "umpama pagi". Meski begitu, pada puisi "Pemulung" hal.6 ada persoalan yang membuat janggal imaji; "di malam idul fitri/dua pemulung/duduk menatap bulan."
Bukankah malam idul fitri berarti malam 1 Syawal sehingga tak mungkin bisa melihat sabit muda di ufuk barat? Karena bulan sabit pertama (waxing crescent) belum tampak dengan mata telanjang saat malam Idul fitri. Namun demikian, ketika kita pakai teknik simile, akan terdapat ironi yang sangat menggetarkan kalau maknanya, nasib pengemis itu bagai puguk merindukan bulan. Kebahagiaan untuk pemulung, seperti orang yang duduk melihat bulan pada malam hari raya Idulfitri.
Pembaharuan tutur untuk menyebut, pemulung itu mustahil hidup bergembira meski malam hari raya pun sepertinya, masih terlalu mentah untuk disematkan pada puisi ini. Secara substansi "keterhubungan" dan "yang hadir" untuk mengejawantah majas, puisi ini masih kurang presisif. Termasuk, mengingatkan kita pada perbincangan soal puisi berjudul "Malam Lebaran" karya Sitor Situmorang yang hanya berisi tujuh suku kata. "Bulan di atas kuburan."
Persoalannya, jelas berbeda jika diksi "lebaran". Lebaran Natal atau Waisak yang memang pasti tepat malam purnama, wajar kalau terlihat ada bulan di atas kuburan. Bukan itu saja, ternyata masih ada salah ejaan. Kita temukan ada di hal.87 misalnya, puisi berjudul Dini Hari; larik pertama mungkin maksudnya "dini" tetapi ditulis "dni".
Pertanyaan yang kemudian layak diajukan juga, apa bedanya puisi mini, haiku dan puisi alit?
Oleh-oleh Hal 148
Terlepas dari catatan singkat tersebut di atas, momentum puitik tujuh perempuan penyair Lampung ini, sangat kuat dari mulai inovasi sampai tematik yang diangkat. Bahkan, bisa disebut, inilah substansi dari haiku dalam bahasa Indonesia meski sepertinya para penyair dan editor lebih aman memakai defenisi puisi mini. Tidak pula meneruskan gagasan “puisi alit” yang sudah ada.
Pengalaman membaca buku ini, pada setiap larik dan perca, bagaimana pun, harus diakui saya bisa menemukan kejutan-kejutan estetis.
Pada hal.148 misalnya; "memikul sekarung beras/ayah pulang/sepedanya tidak" dan saya berhenti cukup lama ketika membaca lembar Carik Kelima karya Liza Mutiara ini. Puisi ini sukses menghadirkan kepiluan, sesuatu yang sangat muram sekaligus menyentak. Belum lagi ketika mengingat kalimatnya ketika acara peluncuran buku TCP ini. "Puisi saya hanya ada tujuh yang dimuat."
Membaca salah satu karyanya yang berjudul "Redendum" juga, jauh lebih merasakan sensasi, bagaimana kesedihan itu ternyata terasa hangat. Termasuk “…tukang es cendol/terusir dari kontrakan”.
Puncak utama buku ini, yang menurut penulis sangat butuh ruang dan waktu untuk menikmatinya, menerima semesta yang lain dan masuk pada belantara makna adalah ketika membalik lembar demi lembar dari hal.91 sampai hal.123. Khususnya pada judul Bunyi, Perayaan dan Yang Terdengar.
Sepenuhnya, dengan beberapa catatan di atas, saya sepakat dengan ucapan Ari Pahala Hutabarat, buku TCP ini adalah tonggak sejarah untuk puisi baru, bukan hanya di Lampung. Melainkan di Indonesia, dan mesti jadi contoh bahan ajar dalam mata pelajaran bahasa dan sastra. Bahkan, harus juga disempurnakan dengan menggaet distributor dan toko buku besar agar lebih masif.
Buku ini wajib dimiliki siapa pun yang berusaha menikmati atau membaca puisi berkelas. (*)

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment