Indomart itu Asu yang Dirindukan
12 Maret 2017 by: Redaksi - Dilihat 403 kali

DULU ya, sudah sangat lama sekali. Sejak awal munculnya waralaba modern yang serba ada itu, kami berdiskusi cukup serius. Terutama teman-teman saya. Ada yang membawa kitab-kitab berhuruf pigon asli beirut, ada yang arab jawi, termasuk buku setebal bantal yang bagi saya, juga sering jadi bantal tidur siang.

Obrolan berbasis kitab dan dalil-dalil kapitalisme sangat sengit. Jangan sangka saya paham apa yang diperdebatkan teman-teman saya. Anda tentu tahu, posisi saya sebatas pendengar dan orang yang numpang ngupi sekaligus ngemil. Maklum, bagi anak kos melarat, ruang-ruang diskusi adalah tempat terindah. Sebab, di sana pasti ada makanan meski tak paham apa yang sebenarnya didiskusikan.

Kalau tak salah ingat, ketika itu muncul dua pendapat yang saling berseberangan. Indomart atau Alfamart itu dianggap kawan saya, toko yang sebenarnya islami. Komentar ini tentu menyulut emosi beberapa teman kami yang lain. Ada perang dalil dan argumen. Ada tanding hasil riset dan pengalaman. Dari yang paling islami sampai yang paling asu.

Sore ini, ketika saya baru keluar dari Indomart Unila, toko terdekat yang ada kode WU-nya itu, mendadak ingat alur diskusi sengit masa lalu. Diskusi yang membuat beberapa kelompok antarteman saya bersitegang, sampai mengharamkan belanja di waralaba yang sangat asu. Sebab, asu itu najis mugholadoh.

Alasannya, bisa haram kalau tak salah ketika itu. Pertama, banyak penipuan harga. Beda antara harga bandrol dengan harga yang ada di kasir. Kedua, punya orang kafir. Ketiga, mematikan ekonomi kerakyatan. Keempat, monopoli dan dikuasai kartel yang dzolim. Kelima, menahan ijasah karyawan. Pokoknya sampai ketemu dalil dan ayat-ayat yang menegaskan, haram hukumnya belanja ke Indomart dan Alfamart.

Sisi lain, pembelanya punya argumen, sampai menyimpulkan waralaba itu justru warung islami. Pertama, ada kejelasan harga, akad yang secara tersirat menegaskan, kalau setuju beli. Tidak setuju, jangan dibeli. Termasuk ketika beda antara harga bandrol dengan yang di kasir. Kita sering mendengar, jawaban enteng dari kasir yang secara cuek berucap. "Kalau tidak dibeli juga tidak apa-apa." Tentu nadanya ketus dan terlihat roman masygul. Mungkin dia membatin, pembeli cerewet.

Kedua, pelayananan yang baik hanya ada di waralaba modern model begitu. Ada pendingin ruangan, tidak banyak ditanya. "Beli apa lagi?" Kalau kira-kira toko yang tak dikenal harganya jauh lebih mahal. Belum lagi mesti tanya dan butuh kalimat-kalimat yang lebih cerewet. Merk ini harganya berapa, kalau yang ini berapa. Pemilik warung yang merangkap jadi pelayan seketika menjadi monster. Meniadakan diktum bahwa pembeli adalah raja. Beda dengan model waralaba modern bukan? Bukankah mengutamakan pelayanan konsumen adalah ajaran bisnis islam?

Ketiga, kenapa lebih islami. Mereka punya jam kerja yang jelas bagi karyawan. Struktur karier dan lompatan gaji yang teratur. Bisa dibilang, sistematis. Kalau kinerjanya bagus meski masih muda bisa jadi Kepala Toko. Ini berbeda dengan buruh di toko kelontongan. Siang melayani pembeli, malam bersih-bersih rumah majikan.

Keempat, saya lupa. Malas juga mengingatnya. Namun begini, berkat dua kutub pendapat yang jadi perdebatan sengit itu, saya pernah dipaksa mengikuti ritme kerja dan sistem yang dibangun perusahaan yang gudangnya ada di Campang Raya. Sampai saya benar-benar masuk di dalamnya. Menemukan kalau benar ada ijasah karyawan yang ditahan, termasuk saya sudah memfotokopi surat perjanjiannya. Benar ada proses obral barang yang nyaris kedaluarsa setiap hari Kamis dimana kebanyakan diborong warung-warung kecil dan dijual lagi pada warga yang kurang teliti melihat kode ekspayer.

Sampai pada pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah usaha bisa memiliki cabang sampai pelosok-pelosok dusun dengan tanpa kerugian yang berarti. Bayangkan, teman saya baru punya satu toko kelontong dan mencoba ngampas barang lewat beberapa sales pakai sepeda motor saja, setiap hari banyak barang yang dicuri karyawan. Masak ya, di Indomart dan Alfamart tidak ada karyawan yang mencuri?

Pencurian yang paling masuk akal adalah di jalur distribusi. Demikian nasehat teman saya yang keukeuh berpendapat, haram belanja di Indomart dan Alfamart. Dimana distribusi utama waralaba itu pakai mobil bok. Setelah antar barang. Pulangnya bawa duit. Oh, ternyata begini sistemnya.

Rekrutmen sopir mobil bok itu sangat ketat. Harus ada yang menjamin dan ada surat berharga yang ditahan. Kalau masih muda, ijasah. Orang tuanya tinggal dimana, anak siapa, semuanya harus jelas. Kalau sudah berumur, ada yang bertanggungjawab. Dan semacamnya. Beruntung, kemudian saya punya teman yang jadi sopir mobil bok itu.

Dia berkisah, awal mengantar barang. Mobil bok itu jelas dipasang GPS atau sejenis alat pelacak yang ketika berangkat ke luar gudang sudah dalam radar pantauan. Menyimpang sedikit, berhenti bukan di tempat pemberhentian yang ditetapkan, langsung ditelepon. Bahkan, ketika solar mobilnya habis tiga liter untuk ukuran jalan dua liter. Ada yang langsung ikut dan mengamati caranya mengendarai mobil. Meski tidak berhenti, ditemukanlah kesalahannya yakni, caranya memainkan kopling dan mengoper gigi. Kalau sopir yang lain punya cadangan solar yang bisa diuangkan dengan sebelumnya kerjasama dengan petugas SPBU. Baru seminggu kerja dia sudah bisa. "Yah, sekadar untuk uang rokok." Dengan bangga diungkapkan, ketemulah caranya menyopir irit solar. Yakni dengan dikiwil.

Apa sudah tahu cara nyopir dikiwil?

Begini, kata dia menunjukkan dan menceritakan caranya. Gas pol, lalu netralkan gigi. Sehingga laju mobil cukup kencang dan hanya memainkan rem. Makanya kalau lihat mobil bok, jalannya pasti kebut. Mereka irit memainkan gigi sebab di sana ada solar yang ditahan. Jadi, kalau simpangan dengan mobil bok, apalagi mengendarai sepeda motor, sebaiknya mengalah. Jangan sok melawan dan menahan lajunya. Bisa ditubruk. Apalagi kalau arah Campang Raya. Itu mobil bok bawa uang.

Nah, kok ngelantur...

Intinya begini, kenapa Indomart tak kerjasama lagi dengan Western Union? Setelah jual pulsa, bisa bayar kredit, ada kopi, bisa beli rokok kretek yang tidak teyengen dan jamuran, kenapa tak bisa kirim uang lagi? Meski pada beberapa poin saya menganggapmu asu. Percayalah jika soal WU, kau adalah asu yang dirindukan seiring kantor pos yang kinerjanya diancuki. :D

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )