"Saya ingin berterimakasih karna media di Lampung menjadi bagian dalam pembangunan di Lampung. Di tengah melambatnya pertumbuhan Global dan Nasional kita perlu bersyukur Lampung terus tumbuh positif dan kini pertumbuhannya terbaik nomor satu di Sumatera."
KALIMAT di atas adalah ucapan langsung Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo yang saya dapat dari rilis. Termasuk beberapa media yang juga menurunkan sebagai berita.
Kenapa judulnya "bohong"? Sebab, kalimatnya tegas. Pertumbuhan ekonomi di Lampung diucapkan gubernur pada acara dan sambutan resmi ketika pembukaan Konferwil PWI Cabang Lampung di Hotel Sheraton, Selasa, 8 November 2016. Yakni. "Terbaik nomor satu di Sumatera."
Kalimat itu juga didistribusikan lewat pesan siar sebagai rilis untuk semua media di sai bumi ruwa jurai dari email mrfmediacenter@gmail.com.
Faktanya, Provinsi Lampung bukan nomor satu. Melainkan di bawah Sumatera Utara dengan pertumbuhan 5,28 persen. Meski di atas Bengkulu yang nilai pertumbuhannya 5,19 persen. Dari data BPS yang dirilis 7 November 2016, sehari sebelum diucapkan Gubernur M Ridho Ficardo, Lampung dengan pertumbuhan 5,26 persen di Pulau Sumatera meraih nilai pertumbuhan ekonomi kedua. Ini bohong yang pertama.
Bohong yang kedua, meski ini masih bisa ditoleransi namun tak bisa dijadikan ucapan yang bernada congkak. Yaitu, penetapan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Pemprov Lampung 2016. Yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Lampung 6,35 sampai 6,50 persen. Artinya, capaiannya tidak sesuai target. Kecuali ada keajaiban menjelang tutup tahun. Bukankah semuanya tergantung BPS Lampung, toh media yang ikut konfrensi pers tidak pernah menanyakan metodologi dan apalagi punya data pembanding dari lembaga survei independen.
Belum lagi jika dirinci terkait kualitas dan dampak ikutan atas pertumbuhan ekonomi Lampung yang dibanggakan itu. 57 persen PDRB ekonomi Lampung disumbang konsumsi rumah tangga. Pemerintah hanya menyumbang 8,63 persen.
Termasuk di dalamnya, laju pertumbuhan sektor Administarasi Pemerintah, memiliki kecenderungan negatif. Sektor pertanian yang tidak begitu diperhatikan, bahkan cenderung tak diurus pun bisa diurus rakyat sendiri, justru berkontribusi signifikan dengan laju pertumbuhan tertinggi. Pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang 1,79 (y-on-y). Sementara administrasi pemeritahan, pertanian dan Jaminan Sosial Wajib hanya dikerjakan -0,19.
Dari data itu bisa dikatakan, pemerintah nyaris tidak bekerja atas fakta pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan Gubernur Lampung.
Term positif atas laju pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada meningkatnya lapangan kerja pun, tidak terbukti. Sebab, angka pengangguran di Lampung meningkat. Naik dari 4,54 persen menjadi 4,62 persen.
Namun demikian, dari data yang dirilis BPS itu (kalaupun benar dan survei betulan bukan kopas data lama) sektor pertanian dan pengangguran di Lampung punya daya tarik tersendiri. Prosentase terbesar ada di perkotaan. Akan tetapi untuk bulan Agustus, di perkotaan menurun penganggurnya. Yang meningkat penganggurannya di desa-desa. Mayoritas tenaga kerja di Lampung, terserap di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
Sementara harga komoditas pertanian tahun ini harganya jeblok, bayangkan. Harga jeblok dan para petani menjerit saja, para petani itu masih sebagai kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi. Apakah ini bukti hebatnya para petani kita?
Bagaimana pun, bohongnya Gubernur Lampung lebih baik dibanding yang tidak berbohong. Sebab, semua media banyak yang menuliskan nomor satu di Pulau Sumatera tanpa membaca data resmi BPS. Tabik. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment