LEBARAN atau riyaya 1995, saya diajak Lek Tekat nglencer. Silaturahmi ke tempat yang sangat jauh. Mengendarai sepeda motor merk bravo dan melintasi banyak daerah yang mencerminkan, Lampung adalah belukar, tanah tak terurus, membentang sejauh mata memandang.
Sembari jalan itu, beliau banyak cerita proses pertemuannya dengan Kiai Tolkah. Beliau disebut nginsinyure. Priyayi dan satu-satunya orang terpelajar dari kampung halamannya nun jauh di seberang lautan. Sebenarnya, antara Lek Tekat dan Kiai Tolkah tidak ada pertautan saudara. Namun sampai di rumahnya, mereka seperti keluarga dekat yang sangat akrab dan lama tak bertemu. Bisa cerita tentang guru SMP Negeri yang kalau tak salah ingat namanya, Pak Marni Adi. Namanya seperti nama perempuan namun guru lelaki paling galak di SMP tempat Kiai Tolkah pernah belajar. Tentu saja sebelum jadi nginsinyure. Gelar Ir yang hanya disandang Presiden Soekarno yang sangat dipuji Lek Tekat, yang semua rekan dan dirinya sendiri tak lulus SR.
"Jadi begini, Le," kata Lek Tekat pada saya. "Bertemu dengan Kiai Tolkah ini dulu tidak sengaja," tentu saja dengan kalimat yang berputar-putar dan penuh sanipan.
Intinya, kurang lebih, ketika Lek Tekat sedang ngarit (mencari rumput) untuk pakan sapi ada bocah bagus yang tiba-tiba menyapa. Kalau dilihat dari gagang sabitnya, lalu dengan sopan, Kiai Tolkah meminjam sabit dan membaca pande besi, identitas pembuat yang terukir jelas, Djalil.
"Pasti panjenengan, sederek kulo. Asal Tulungagung," kata Kiai Tolkah pada Lek Tekat.
Akrablah mereka, sampai menyebut banyak nama yang saling mereka kenal. Lek Tekat kemudian berkisah, hidupnya yang payah sekarang ini bukan karena tidak tekun bekerja macam Kiai Tolkah. Sebab, Lek Tekat tak punya majikan yang bisa memberi pangkat. Selain itu, alasannya, dia tak pernah mengenyam pendidikan sampai jadi insinyur atau doktorandus. "Sekolah rakyat saja tidak tamat, lak yo bosok nasibnya," kata Lek Tekat dengan tertawa.
"Akan tetapi begini," saya masih ingat betul bagaimana Lek Tekat dengan bangga menceritakan keunggulan dan kekurangan Kiai Tolkah setelah kami sampai rumah hingga
larut malam. "Di rumah nginsinyure tadi, apa coba yang kurang?"
Tahu karena itu hanya pertanyaan retorik, saya hanya menatap dan mendengar Lek Tekat melanjutkan omongannya sembari menyulut klembak menyan. Aromanya bikin ampek.
"Dia sudah benar-benar jadi priyayi yang lupa sangkan paran. Mulai kehilangan kendali. Di mejanya semua makanan dan kue modern, mungkin Kiai Tolkah lupa kalau semestinya orang Tulungagung itu punya jenang, tape dan madumongso," kata Lek Tekat.
Sepenangkapan dan seingat saya, penjelasan Lek Tekat seputar pande besi khusunya untuk cangkul, sabit dan golok merk djalil, pak guru Marni Adi, jenang dan madumongso adalah perekat jejaring anak-anak rantau yang telah menjadi keluarga besar. Namun tak dilembagakan macam paguyuban atau organisasi yang keberadaanya dibentuk jelang kontestasi politik. Mereka akrab secara organisme dan tak ada ikatan ekonomi apalagi politik. Mereka akrab hanya sebatas keluarga. Itu saya saksikan sendiri. Menatap Lek Tekat yang rumah gribiknya mau roboh, lalu mengintip istana dan keagungan Kiai Tolkah.
Di lain waktu, lebaran 2009 saya bermuka-muka dengan Lek Tekat. Beliau sudah mengeluh, tak bisa bikin jenang dan madumongso lagi. Sudah sepuh, anak muda tak ada yang mau mengaduknya. Bagaimana mungkin bisa mengaduk, jika pulang ke kampung halaman kami tepat takbir berkumandang. Termasuk tape ketan yang dibuatnya, sudah kebanyakan ragi hingga rasanya pahit. Kampung kami sudah tidak punya anak muda, semuanya merantau ke kota. Termasuk saya. Pernah bertanya, kenapa Lek Tekat tidak minta bantuan pada Kiai Tolkah? Agar perusahaan yang dipimpin itu menerima anak-anak mudavdari kampung kami. "Ya gak sudi," kata Lek Tekat yang kemudian mencaci maki saya. Nada suaranya meninggi.
Setengah menceracau Lek Tekat berkata. "Wat andah wat padah, khepa ulah khiya ulih," tentu saja saya tak mengerti arah pembicaraannya. Lalu dia menjelaskan, anak muda mestinya belajar pada Kiai Tolkah bukan dengan bekerja dengan dia. Melainkan mencontoh ketekunannya bekerja. Gemi. Dan termasuk, kegigihannya mewujudkan visi. Sebab, hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan.
Lalu Lek Tekat mulai membaca beberapa primbon. Seperti orang wirid dengan ruas jari. Lalu nyletuk seperti orang terkejut. "Lima tahun lagi, ya lima tahun lagi," Lek Tekat seperti orang gembira dan setengah melonjak. "Lima tahun lagi Kiai Tolkah baru bisa masuk ke rumah ini," kata dia, lebaran 2009.
Tentu saja saya terkejut. Menyangkal dengan ketus sembari tertawa mengejek. "Mana mungkin nginsinyure ke rumah sampean, orang melarat dan bernasib bosok. Dia itu sudah lupa
sama sampean, ampun kegedean rumongso, Lek," kata saya yang juga setengah terkejut, tiba-tiba berani lancang mencibir Lek Tekat.
Kisah pertemuan seperti langit dan bumi antara Lek Tekat dengan Kiai Tolkah itu seketika terbayang. Seolah ada tali temali yang menghubungkan dengan pikiran saya yang tiba-tiba keras menolak Plt Sekprov Lampung sekarang didefenitifkan. Yang jika perjalanannya mulus, tiga tahun tambah lima tahun lagi, jadi gubernur. Perancangan upaya yang terlalu dini, bagaimana pun saya akrab dan takzim dengan Lek Tekat, mesti dilawan. Sebab, hanya ada beberapa aturan yang ketika mendengar saya dilarang, tanpa ingin tahu alasannya pasti saya taat. Patuh dan meninggalkan sepenuh hati. Yaitu, ketika ibu saya melarang dan ada ajaran agama yang melarangnya. Atas larangan itu, tidak kakean cangkem, tanpa banyak tanya, mengucap samikna waatokna.
Kalau soal pendapat Lek Tekat, Kiai Tolkah, apalagi Mbah Suto, ramalan dan upaya mengonstruksi masa depan dan rekayasa kepemimpinan, tentu mesti dilawan sebelum ada dalil resmi yang menguatkan bahwa keputusan itu rasional serta manfaat bagi orang banyak.
Sebagai orang yang sudah mendalami ajaran semacam "wayni dang khubok, iwani dapok" saya justru menemukan, setelah berkuasa seseorang condong tidak arif dan bijaksana lagi. Kiai Tolkah dulu, dengan bawahan dan anak yang lebih muda saja bicara menggunakan kalimat-kalimat yang lembut dan halus, belakangan setelah pesantrennya jadi kiblat kekuasaan dan lahirnya kepemimpinan macam khalifah, mendadak sadis dalam berbagai tindakan politis.
Beberapa hari lalu, saya sempat bertemu Lek Tekat. Sungkem lebaran 2016 dan komat-kamit yang dijawab dengan mengelus kepala saya. Beliau masih bicara dengan lugas yang artinya, jangan gampang gumun. "Kamu punya kedaulatan bersikap, meski Kiai Tolkah, kalau salah, pisuhono. Nginsya Alloh dia sumeleh, kalau ada yang macam-macam, tunjukkan gagang arit atau doran cangkul djalil. Kalo belum diam, lolohono madu mongso."
Kalimat itu membuat tenang, setidaknya memotivasi saya berani bilang; "Pak Kiai Tolkah, jangan diancuki kayak begitu, sampean. Awas kalau Mbah Suto jadi ramapatih! Tak jejeli jenang, sampean."
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment