Lacofest dan Ketika Orang Turki Ngupi
07 Desember 2016 by: Redaksi - Dilihat 758 kali

SAYA merasa ada yang kurang sepanjang hari ini. Tentu bukan soal kopi. Sebab, saya adalah bagian dari wujud hidup almarhum Mbah Surip. Selain kuat tidur, kuat ngopi.

Dimana ketika beliau meninggal, ramainya liputan media membuat Lek Tekat marah-marah tak karuan. Jika Lek Tekat bisa kuat minum kopi sehari 20 gelas, saya hanya mampu maksimal 8 gelas. Maka, saya dan Lek Tekat adalah manifestasi utuh Mbah Surip. Ya, Lek Tekat di bagian ngupi-nya. Saya di bagian bangun tidur, tidur lagi. Pedom luwot.

Kekurangan hari ini baru saya tahu dini hari, ketika mulai mengetik ini sembari bengong mengisi formulir dan membaca WA keponakan Lek Tekat yang jago statistik. Yakni, merasa kurang karena tidak bisa hadir di pembukaan Lacofest.

Saya merasa ada yang kurang, membuat tak bisa tidur luwot. Sebab, tidak mendengar secara langsung berapa jumlah kopi yang dihasilkan dari Lampung. Dibawa kemana saja, berapa yang dikonsumsi warga Lampung dan siapa saja yang diuntungkan biji-bijian yang bisa jadi tebak-tebakan porno oleh Lek Tekat itu. Kalau tidak salah, begini; "Apa yang kalau tengkurap metutuk, kalau terlentang mekekeh." Mungkin kalau tebakkan itu ditanyakan anak muda sekarang, dijawab secara tepat. Yakni video dari model di aplikasi nonolifedotcom, bigo atau redtube. Karena anak-anak sekarang tak pernah melihat biji kopi sehabis dikupas yang dijemur di pelataran rumah lagi.

Kenapa jawabannya redtube, kalau soal itu, Ahmad Fatoni yang faham. Begitu juga nonolife atau bigo, yang langsung dihapus dari ponsel saya karena dianggap vulgar dan tak layak ditonton ketika habis salat magrib. Kejadiannya, beberapa minggu lalu, ketika imam baca zikir dan memimpin doa, saya asyik nonton aplikasi itu seraya mengirim jempol dan point. Lalu seisi masjid istigfar sebab pas volume ponsel kuat, jek salon kuping kurang kuat saya colokkan. Pas, suara perempuan mendesah-desah sembari goyang dangdut. Untung saja, sudah diajari Lek Tekat bagaimana cara menutup malu. Yakni, atas nama seni budaya dan kepentingan fatwa, boleh nonton beginian. =)) 

Beruntungnya lagi, setelah berbincang dengan anak muda yang bisa buat film dokumenter dan pernah menelisik pasar gelap kopi sampai pelabuhan menuju luar negeri, saya berkesempatan ngupi bareng Kang Yan dan Kang Budi. Yang menurut Lek Tekat, mereka adalah orang-orang keturunan Turki. Pasukan yang tercatat berkualitas hebat di medan perang, piawai berdiplomasi, sekaligus berperawakan harmonis, bahasa lain dari cakep.

Turki, bukan Turkiye seperti merk kaos yang dibeli dari pasar Istambul pemberian Bu Nyaik, lho ya.

Bagi orang Banten, pasti tahu makna Turki. Artinya, Turunan Kidul. Dimana semua anak gadisnya, cantik-cantiknya masya Allah. Yang ganteng-ganteng lelakinya, kayak Arjuno Menek Kates. Semua orang, ketika melihat artis atau orang ganteng/cantik, kemudian mesti menyebut. "Biyuh...anak Turki."

Cerita Turunan Kidul ini, pernah saya dengar dari Lek Tekat pada suatu petang. Tidak ada orang Turki di Banten itu yang jelek. Bahkan, senada dengan omongan Cak Sul yang sudah salat di masjid biru. "Pengemis perempuannya saja cuantiiknya masya Allah." Karena cantik dan memabukkan itulah, semua barang istimewa diberi nama Turuk atau Turk. Termasuk semua ajaran yang menentramkan, diberi julukan Thurikot.

Contoh perempuan paling jelek di Turki itu, kata Cak Sul dan Lek Tekat, wajah mudanya Desi Ratnasari waktu main film Kabayan. Bisa kita bayangkan, jeleknya saja begitu coba, bagaimana cantiknya? Omas-lah ya.

Maksud saya begini, hari ini ada yang kurang karena saya tak bisa hadir di pembukaan Lacofest, jadi tidak mendengar secara langsung serangkaian data-data dari pejabat yang sambutan dalam pembukaan. Yang katanya, ada 150 ribu ton kopi pertahun. Ini menarik, menurut ponakan Lek Tekat, hitungan kasar perkapita pertahun, ada kurang lebih setengah triliun uang yang digunakan hanya untuk minum kopi. Kalau total dari jenis minuman, baik itu kopi, jus, susu dlsb, toal mencapai lima triliun. Sebagian besar, kisaran uang itu hanya dipetik perusahaan besar yang sudah level transnasional namun punya pabrik di Lampung. Wah, pening saya kalau urusan data-data macam beginian. Bukan saja tidak maksud, bahkan mata dan kepala saya serasa berat, seperti alergi di kulit dan atau merasa hidup seharian belum ngupi. Apalagi kalau lihat tabel dari AEKI untuk Konsumsi Kopi Indonesia. 2011, ada 237 juta jiwa penduduk dengan kebutuhan kopi 190 juta kilogram. 2012, ada 245 juta jiwa, butuh kopi 230 juta kilogram. Kebutuhan konsumsi perkapita ada 0,94 kg.

Tahun ini, 2016 meski masih diberi tanda bintang yang artinya estimasi, ada 260 juta jiwa dengan kebutuhan kopi 300 juta kilogram yang rata-rata 1,15 kg/kapita/tahun.

Dari sederet angka itu, kopi sangat menggiurkan untuk bisnis. Termasuk berbagai turunannya. Seperti untuk kebutuhan politik, budaya, bahkan untuk revolusi menumbangkan kekuasaan. Sebab, lada yang (katanya) berarti emas hitam, sudah mulai pudar kejayaannya. Alasannya, sedikit petani yang punya tanamannya. Akan tetapi kopi, mahasiswa asal Moro-moro, Mesuji di Unila seperti Rico Galumut pun, ikut terlibat jadi penjual. Orang-orang bule juga, pakai gelas plastik ikut jual minuman kopi, kalau tak salah merknya diambil dari jenis penyakit. Yakni, Stroke ditambah kata Buk, untuk mempertegas menel dan centil, wujud penjajahan serta pengkhianatan pada tradisi ngupi. Ainduh, lebai pulak ini. Tapi terserahlah, mari besok ke Lacofest, mumpung bisa icip-icip kopi gratis. Lacofest ya, bukan Locofest. Kalau Lacofest itu Festival Kopi Lampung. Nah, kalau Locofest itu artinya Lombok Clothing Festival. Semoga saja 2017 nanti Udo Z Karzi mengubah namanya bukan Lacofest atau Lampung Clothing Festival, eh, Coffee. Soalnya, Locofest itu sudah lebih dulu terkenal, nanti orang barat malah bingung, ini LA apa LO (?)

Maklum bagi orang Turki memang, Clothing itu artinya kopi juga. Sehari gak ngupi, sama artinya, seharian gak pakai baju. :metal: 

Oya, jangan lupa datang soalnya tadi kawan saya, ponakan Lek Tekat juga, nelepon marah-marah, sebab gak asyik dunia ini kalau ngelihat perempuan Turki di MBK, tidak ada yang nakal model saya. Yang tanpa beban mendekatinya, lalu berbisik; "hi, tukeran hp yuk." Pasti selalu dijawab. "Najis, loh." Kadang lebih halus. "Ingat anak bini di rumah, Pak." Yah, paling perasaannya sama dengan nonton bigo di masjid habis salat maghrib. :malu

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )