Pak Mukri dan Jadwal Piket
01 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 246 kali

TULISAN sebelumnya tentang "menghitamkan wajah islam" dan "pak mukri, kriwikan jadi grojokan" saya langsung menohok jantung pemimpin tertinggi di IAIN Radin Intan itu.

Dan berkat bersama Bang Heri, saya bisa salaman, sekaligus memandang wajah Pak Mukri secara langsung yang sebelumnya tak pernah ketemu. Saya mencari sosok guru muda, 
guru honorer dari SMP Islam di pedalaman Lampung di wajah sepuh dan kurus itu. Saya tidak melihat lagi dia pakai peci hitam. Mungkin menolak aksi teman-teman UKM-SBI 
yang membuat profile hitam.

Pertemuan singkat itu cukup menemukan, ada perubahan mendasar di kampus yang dulu sering kami ejek punya jadwal piket. Selain kemudian saya bisa foto bareng Pak 
Mukri.

Foto ini penting sebagai bagian untuk tetap mempertanyakan kenapa dia didemo, dan cenderung terlihat tidak tergerak sedikit pun untuk bersimpatik atas berbagai aksi mahasiswanya meski masuk rumah sakit.

Sekitar 2006, saya sering ke IAIN. Kadang, membuat olok-olok mahasiswanya pasti punya jadwal piket. Seperti piket untuk tanam padi, piket untuk jaga burung, serta mengenal musim panen dan melintasi pematang yang kadang berlumpur, kadang gatal daun padi.

Sebelum membahas tentang jadwal piket itu, saya akan cerita tentang Dawlah al Nizhamiyah pada periode Rezim Saljuk. Kekuasaan Saljuk, tak bisa terlepas dari pengaruh Nizam Al Mulk yang lahir di Tunisia pada 1018.

Nizam adalah pengendali utama ketika Rezim Saljuk berkuasa dan menemukan masa kejayaan.

Nizam juga membuat karya monumental, Siyar al Muluk. Karya itu kemudian jadi risalah yang disetujui sebagai hukum konstitusi negara. Siyar al Mulk atau The Lives of Kings, dikenal juga dengan sebutan Siyasat Nama atau Kitab Pemerintahan, mencakup "peran yang tepat dari tentara, polisi, mata-mata, dan pejabat keuangan" memberikan saran etis menekankan perlunya keadilan dan kesalehan beragama bagi penguasa.

Nizam juga mendefinisikan secara detail tentang keadilan kelas, serta menegaskan, penguasa itu bertanggung jawab langsung kepada Allah.

Nizam juga berperan penting dalam pembentukan struktur peradilan, perpajakan dan adiministratif di era kekuasaan Saljuk. Dia juga menjunjung tinggi kaidah umum, penguasa adalah pemilik semua tanah. Pada bab teori politik Nizam, dia menegaskan. "Jika seorang penguasa melakukan pelanggaran dan mengabaikan hukum Tuhan, maka kerajaan akan bergoncang, pedang pemberontakan akan diacungkan, darah akan tumpah dan siapa pun yang mempunyai kekuatan lebih besar, akan melakukan segala hal yang 
diinginkan."

Kita juga menemukan Nizam tidak begitu peduli pada konsistensi intelektual, bahkan terkait kekuasaan yang bisa tumbang, silih berganti, Nizam cenderung fatalis.

Pasca bertemu dan foto bareng Pak Mukri itulah, saya teringat sepertinya pernah membaca kisah Nizam al Mulk. Lalu membongkar bok untuk menemukan beberapa buku berdebu. 
Jelas tertulis. "Nizam kemudian mati dibunuh."

Kembali pada soal piket. Kampus IAIN itu, di era 2006 ketika jam 20.00 WIB, mirip perkampungan transmigran. Sudah tidak ada angkot, jika musim hujan masih banyak suara 
kodok, dan kesan sangat terbelakang begitu kuat. Akan tetapi, sekarang selain menemukan jalanan macet di semua sisi, kita serasa masuk ke dalam nuansa cemerlang nun 
indah, asri dan megah. Pernah saya sehabis pulang acara melihat Gamelan Jamus Kalimosodo di Kantor KPU Kota, muter-muter di dalam kampus tak bisa ke luar karena bingung jalannya. Di tengah kampus itu juga sedang ada festival musik.

Lalu, saya terpaksa mengintip masjid yang jadi dugaan pungli itu dan berbagai cerita kebanggan-kebanggan lain seperti, lima tahun lalu mahasiswa IAIN hanya ada 4 ribu, sekarang sudah 18 ribu. Seorang alumni bicara, apa hebatnya kuantitas jika tanpa disertai kualitas? Kulian di IAIN yang beaya SPP-nya 400 ribu itu, bisa disebut termurah sejagad. Membuat anak-anak muda berduyun-duyun mendaftar, dibanding tidak kuliah.

Pak Mukri bisa saja membanggakan pesatnya kemajuan IAIN selama kepemimpinannya. Saya juga ingat, di era 2010, ketika usaha warnet banyak berkembang dan kemudian 
seperti wartel, tutup karena orang punya komputer sendiri yang terkoneksi internet. Beberapa usaha warnet di sekitar kampung baru, pindah ke IAIN karena di sana rental 
komputer masih laku keras. :D

Banyak kampus sudah menerapkan sistem online untuk melihat KHS, di IAIN masih diprint, banyak mahasiswa rental komputer mengetik makalah, kebanyakan minta dibuatkan dan atau diketikkan. Maka munculah pertanyaan. Apa yang bisa dibanggakan oleh para alumni IAIN Radin Intan? Yang kalau munaqosah muncul keringat dingin serta banyak yang menangis itu?

Terkait aksi demo, Pak Mukri punya sederet alasan pembenar yang menurut saya logis. Ketika ditangkap polisi secara acak, kata dia, dari tiga mahasiswa itu tidak ada satupun yang jadi mahasiswa IAIN. Ketika ada larangan menginap di semua sekretariat UKM, adik-adik saya di UKM-SBI katanya justru bermalam bahkan campur antara laki dan perempuan. Serta sederet pertanyaan lain yang besok harus saya tanyakan pada para aktivis di UKM-SBI.

Pada soal ini saya sangat penasaran. Semoga bisa ketemu dengan adik-adik saya untuk kemudian saya belajar memahami, apakah ini benar ada tirani korup, upaya 
penggulingan kekuasaan, pemberontakan karena penguasa jauh dari kesalehan atau justru ada masalah lain?

Oh, ya, bukankah menjelang akhir tahun nanti ada pertemuan pemikiran islam yang berlevel internasional di kampus itu? Tiba-tiba saya ingat juga pernyataan "anjinghu 
akbar" serta sederet kisah, ada pemurtadan di IAIN. :D

Semoga daftar isi soal "Suar dan Kegelapan di IAIN Lampung" segera selesai. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )