SIAPA orang Lampung yang tidak mengenal Inox? Diucapkan sebagaimana lafazd Monoks. Pelawak yang selalu menggunakan huruf "s" setiap akhir kata. Di Lampung, dulu, kami sangat akrab. Sebab akrab itulah, tak ada kemarahan meski saya sering memanggilnya; "Inoks Kampang".
Dia selalu hebat dan penuh kejutan. Pertama kali datang ke rumah, Inox banyak bercerita seputar mimpinya menakhlukkan ibukota provinsi. Lalu, dia tidak ingin tetap terkungkung dengan kelampungan dan kekampungan seperti saya.
Terang saja, caci maki keluar ringan dari mulut saya yang sering dianggap tengil dan tajam. Anak kumel itu, tiba-tiba mengejutkan ketika berjumpa di jalan Asia Afrika.
Dia banyak menuturkan, beruntung dulu ke luar dari Lampung. Tidak terjebak pada lidah manis para lintah darat dan penipu yang tega meminum darah teman, memakan bangkai saudaranya sendiri.
Di kursi besi yang banyak menghiasi trotoar, Inox tertawa riang, berkisah tentang bagaimana inspirasi Lek Tekat dari Jawa dengan bermodal kolor saja bisa beranak cicit di Lampung. Masak ya, dia yang lebih cerdas tak bisa hidup di Kota Bandung? Bermodal tekad itulah, dia merantau.
Pamit ke rumah saya dan masih saya caci maki, agar sebelum pergi menyedu kopi lebih dulu. Harus saya akui, belum ada yang mampu membuat kopi senikmat Inox.
Mimpi Inox memang belum sepenuhnya terwujud. Akan tetapi, saya tak lagi berani memanggilnya Inox Kampang. Sebab, lewat jualan online dengan bermodal BB jelek itu, dia bisa memiliki omset ratusan juta dan terpenting, memberi jamuan istimewa. Ini intinya. Dia menraktir saya hingga merasakan nikmatnya jadi orang kaya.
Inox kini tak selalu lusuh dengan muka tertekuk. Dia mulai tegap berjalan dan penuh keceriaan. Wajahnya kini lebih bersih, tidak kucel dan gripis seperti ketika masih di Lampung.
"Hotel ini, tempat minap Presiden kalo ke Bandung. Mas Endri harus menginap di sini," kata dia seraya memberikan kunci kamar yang berupa kartu dan ada dua tiket berwarna biru bertulis "Batavia Bar & Lounge".
Saya yang memang lusuh sehabis pontang-panting naik angkot tanpa rute yang jelas, tak bisa menolak, meski tidak juga gembira berlebih. Sebenarnya saya minap di hotel merk bintang (masjid) atau merk kuda terbang (pom bensin) juga tak masalah. Sudah biasa ketika memutuskan jadi pejalan. Namun karena Inox memaksa agar saya menikmati suasana Kota Bandung dengan nyaman dan "tersenyum" karena ada tulisan yang berbunyi. "Bumi Pasundan Diciptakan Ketika Tuhan Tersenyum". Ya, tak perlu basa-basi untuk menolaknya.
Kemampuan Inox ini, jujur saja, sangat mengejutkan. Baru dua tahun dia pindah dari Lampung, bermodal BB jelek dan rajin menyebar pesan siar tentang produk baru yang siap kirim. Dia sudah bisa bertahan sekaligus memfasilitasi kunjungan saya yang sebenarnya gelandangan di negeri sendiri, mencicip liburan kaum berkelas yang tentu jika dibebankan pada saya, tak mampu membayarnya. Termasuk menyiapkan tiket pulang meski di sistem online sudah penuh semua akibat berbarengan musim libur anak sekolah dengan natal.
Saya memang tersenyum. Senang. Akan tetapi akibat sering dituturi Lek Tekat, membuat saya tetap kemaki dan sok menasehati kalau kesuksesan seseorang, bukan sekadar kemampuan dan kepandaian mengumpulkan materi. Apalagi kalau itu didapat dari menipu. "Jadi pesan saya, jaga kepercayaan orang dan jangan pernah meminum keringat orang lain, sebanyak apa pun hartamu, pun jika sedikit, pasti akan membuatmu bahagia. Tapi kalau kau sudah mulai menipu dan mengkhianati seseorang, apalagi teman, hidupmu pasti susah sebab alam beserta isinya yang akan membalas."
Huek cuih, sehabis berkata itu saya meludah dan membuang dahak yang berwarna putih kehijau-hijauan. Ada sisa sedikit masih nyangkut di kerongkongan, saya telan. Rasanya sedikit asin.
Entah sadar atau tidak saya berucap macam itu karena saya konsen menyecap dan merasakan dahak. Anehnya, Inox hanya mengangguk tanda setuju dan menjelaskan, bisnis online modal utamanya adalah trust. Kepercayaan yang bisa membuatnya mendapat untung berkelipatan.
Saya, sebagai orang kampung tentu sangat sulit memahami bagaimana sistem jual beli online itu bisa berlangsung. Akan tetapi itu sudah terjadi dan banyak ditekuni orang. Memang, Inox Shop mengaku masih kurcaci di tengah kepungan gurita raksasas jual beli online macam lazada atau milik olx. Meski kecil, dia sudah mampu mentraktir saya liburan yang luar biasa. Tak berlebihan juga jika saya ikut mempromosikan Inox Shop. Terutama orang Lampung yang butuh apa pun dari Bandung, Inox Shop adalah solusinya.
Sekadar tahu saja, Inox ini benar-benar menjaga "tersenyum" sebagai slogan dirinya. Selain dia juga sepakat, tanah lahirnya berjargon Bersenyum Manis.
Dasar Inox Kampang, di alun-alun dekat masjid yang ramai itu saya maki-maki dia dengan keras, gegara persolan sepele yakni, diajak jalan kaki ke hotel. Sementara, saya pakai sepatu dan jempol kaki sedang cantengan. Dia justru tertawa gembira, sembari nyerocos nyeraos sunda, dan masih belum bisa cawa Lappung. (*)
Bandung, 24 Desember 2015
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.














Add a Comment