SELAMAT dan sukses, pelahan namun pasti, kesadaran menolak Mbah Suto jadi Sekprov yang sah, kian dipahami maksudnya.
Bisa dibayangkan, belum juga dilantik sebagai pejabat defenitif, sudah banyak melampaui kerja-kerja elit politik yang punya hak prerogratif menunjuknya. Bahkan, meski banyak yang kasak-kusuk menolak, gerbong birokrasi kian jelas memihak dan mendukungnya secara terbuka. Entah jika batin dan hatinya, apakah masuk bagian yang berjalan tertunduk di depan namun membawa badik yang terhunus di pinggang belakang.
Setidaknya, itu tercermin dari 63 yang layak jadi Sekprov, tak satupun mendaftar di hari pertama dibukanya lelang jabatan Sekprov. Bisa saja dianggap, semua sudah merasa keok dengan kuatnya Mbah Suto membangun konsolidasi terutama, kedekatan dengan Kiai Tolkah.
Contohnya, Diskominfo. Anda bisa membayangkan, Mbah Suto itu media darling. Sumeh dan sumelehnya, disenangi semua orang termasuk koran, televisi maupun radio. Begitu juga di medsos. Mari membandingkan periode sebelumnya. Pernahkan wajah Arinal Djunaidi sedemikian masif mejeng di media? Termasuk dipromosikan langsung oleh akun-akun kepala dinas? Tengok di hari pertama masuk kerja pasca liburan, beberapa hari lalu. Sejak ditetapkan sebagai Plt. Semua sudah terlihat memujinya, langsung menggeser cacian pada SKPD ke jantung kekuasaan di bumi ruwa jurai. Gubernur dan wakil gubernur yang dibully. Meski harus diakui, wagub tak ikut apel perdana karena beralasan menerima tamu, demikian sibuknya mengklarifikasi ke semua yang mencecar karena secara vulgar dan kasar berkomentar. Tetap saja ada yang bilang buta, tuli dan idiot. Termasuk ada yang sampai menyitir ayat kabura maktan indaullahi antakullu mala tafaluun. Lebih parah, dianggap membuat posting yang membohongi publik di instagram.
Kemudian, di sisi acara yang mestinya bisa jadi ajang mejeng gubernur atau wagub sekaligus menunjukkan kemampuannya di pentas ASEAN dalam heritage parks, lihat saja situs berita hari ini. Semua secara gamblang menjadikan Plt Sekprov sebagai subjek keberhasilan gelaran acara di Waykambas pada akhir bulan Juli. Ini baru Plt, belum defenitif. Jangan-jangan lupa administrasi karena asyik populer. :melet:
Akan tetapi, soal hari ini kabarnya mulai dibuka lelang jabatan, meski janjinya Maret 2016. Kalau itu perbaikan kesalahan, harus kita puji sebagai prestasi. Sebab, memang semua bisa salah dan bisa benar. Itu berlaku universal dan dalam konteks apa pun. Termasuk berpendapat macam saya ini. Jangan terlalu serius disikapi, orang ini sekadar status di fb yang sama nilainya dengan update "lagi cari pokemon."
Namun jika itu hanya untuk melegitimasi Plt agar jadi defenitif, perlu kita syukuri. Sebab, semakin membuktikan sikap saya yang keras menolak. Lha, memang siapa saya? Tentu saja pertanyaan ini membuat tertawa geli. Ya saya rakyat, dipecat berapa kali pun posisinya tetap, jadi rakyat. Kalau gubernur dan wagub jelas, jabatan politik lima tahunan yang tetap akan meminta dipilih rakyat nantinya? Kalau maju lagi dan yah, kalau bisa terpilih lagi. =))
Kemudian kalau ada yang menyerang saya dengan pertanyaan, siapa yang membayar untuk menolak Sutono jadi Sekprov? Jawab saja, yang mendaftar pertama kali dalam lelang jabatan itu. :-bd
Kembali ke ajakan mari menolak Sutono jadi Sekprov. Siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan? Ya, jelas subjektif. Bisa ada dan bisa tidak ada. Kalau dimensi jawabannya diputuskan pada kesadaran magis. Karena takdir. Selesai semua persoalan. Dan itu diperlihatkan Wakil Gubernur Lampung dalam status fbnya. Semua terjadi atas takdir Allah. Jadi saya ingin mengakhiri serial ini setelah diberi wejangan kemarin sore oleh Mbah Mursyid. Agar lebih baik mencari kesalahan sendiri dibanding kesalahan orang lain.
Termasuk dimarah agar dalam hidup ini, jangan pernah punya suudzon. Melainkan selalu bersikap baik sangka, meskipun dengan orang yang terlihat jahat. Belum tentu orang yang terlihat sumeh dan sumeleh itu tidak jahat juga. Jadi bersikap biasa saja. Nasehat beliau membuat saya ingat pesan Lek Tekat, sekarang ini orang yang hebat bukan orang yang berani mengritik penguasa. Kalau sekadar mengritik dan nyaci maki, semua orang bisa dan sudah banyak. Yang dibutuhkan sekarang ini, orang yang tahu tatakrama tapi menolak takhluk. Termasuk yang banyak berkisah tentang inspirasi dan prestasi, syukur-syukur memuji keberhasilan seseorang yang kebetulan jadi penguasa, cair. :haha:
Benar, saya harus berhenti jadi orang macam Jonru meski sikap menolak Plt Sekprov jadi defenitif, tetap teguh pendirian. Semacam pepatah yang kami pelajari ketika belajar mulok, khatong banjikh mak kisikh, ratong bakhak mak kikhak.
Mohon maaf jika ada yang tersinggung, memang tujuan saya menyinggung. Anggap saja ini serius menolak, bukan goyonan. :D Jangan khawatir, kalau dia jadi kita akan terus meberi puji-pujian. Misalnya, menulis, tuh kan, orang diancuki kok dipilih. Sambil melet-melet dan ngiwi-iwi.
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.














Add a Comment