MELOTOT, bukan saja membaca. Entah kenapa wanita lebih enak dipelototi dibanding lelaki.
Saat ini, saya sedang menikmati warta seputar kategorisasi 10 politisi tercantik di dunia. Jika dihimpun dari laman berdasarkan katakunci di mesin pencari, semua berlatar selebritas. Ada yang model, ada yang berasal dari pemenang kontes kecantikan.
Alina Kabaeva, asal Rusia banyak ditulis politisi tercantik pertama di dunia. Perempuan itu baru berusia 29 tahun. Berprestasi dan pernah menyumbangkan medali bagi Rusia di kejuaraan senam Internasional. Alina Kabaeva adalah atlet nasional dan memilih pensiun jadi pesenam pada 2007. Tahun dimana dia masuk gelanggang politik dan terpilih jadi anggota parlemen.
Soal perempuan cantik yang jadi politisi sukses itulah, mengingatkan obrolan-obrolan bersama Lek Tekat di kampung kami yang sangat tentram. Dia banyak bercerita seputar politik zaman lampau di era Bilqis, Cleopatra sampai bagaimana kisah Dedes yang lebih masuk akal dibanding dongeng-dongeng penuh mitos yang sebelumnya saya dengar.
Lek Tekat memaksa saya mengembarai banyak buku dan menggunakan mesin pencari di internet untuk lebih detail memahami para politisi cantik. "Negara ini akan menemukan kemakmuran dan kejayaan jika dipimpin perempuan cantik," kata Lek Tekat.
Saya selalu hanya mengernyitkan kening, belajar dengan tekun untuk menjadi pendengar yang baik bagi lelaki sepuh yang kial. Degil dan sering usil.
Lek Tekat sering paham, jika saya berkernyit, berarti pemberikan penyangkalan. Setidaknya akan memberi pertanyaan lanjutan. "Tidak usah kakean cangkem, dengarkan dulu," ketus dia meski penyangkalan saya tak terucap.
Kalimat itu membuat saya kaget. Lek Tekat, di kampung kami sering disebut Mbah Google. Sebab, pengetahuannya melampaui kelaziman. Dia dianggap weruh sak durunge winarah, entah pula apa artinya. Kernyit kening saya makin lama, nalar ingin tahu saya meledak-ledak, namun hanya bisa menatap dua pelupuk mata Lek Tekat untuk mencari kebenaran dan maksud ucapan-ucapannya. "Cah Bagus kan orang modern, apa-apa harus terbukti dulu baru dianggap sebagai kebenaran. Ini bedanya antara orang desa macam saya dengan awakmu."
Kalimat petik tersebut sengaja saya singkat, kira-kira arti dan maksudnya semacam itu. Sejak kenal Lek Tekat, saya banyak belajar arti obrolan dan maksud pembicaraan yang bertele-tele, penuh basa-basi dan muter-muter mirip obat nyamuk. Bayangkan, baru masuk bertandang ke rumahnya saya disambut dengan kalimat. "Wah, njanur gunung."
Saya tidak mengerti, sampai diuraikan makna janur gunung itu oleh Lek Tekat. Janur itu daun muda dari pohon kelapa yang multi fungsi, selain sebagai penjor, janur juga bisa dijadikan hiasan sebagai makna dari simbol fibrasi Rudra. Saya manggut-manggut menutupi kebingungan. "Janur itu bermakna pohon kelapa. Semantara gunung, makna dari bentuk penjor yang serupa gunung agung. Nah, di gunung itu, tidak ada pohon kelapa. Adanya hanya pohon aren. Janur gunung itu artinya aren."
Saya masih belum mengerti, namun ketika akan bertanya, disentak lagi. "Aren itu kata dasar dari dingaren."
Baru saya tertawa ditambah wirang nyengir kuda. Hanya untuk bilang tumben, ndingaren, tak dinyana, Lek Tekat memakai kata yang tak semua orang tahu maksudnya. Sama seperti ramalan atau primbon, sebagai pendengar yang baik tentu saja tidak berani menyangkal. Hanya menunggu pembuktian. Akan tetapi, sebagai anak muda yang banyak dilatih berdialektika oleh Lek Tekat, dijadikan bahan memperbarui ingatan masa lalu yang banyak dipendamnya sendirian, mungkin itu ada kaitan antara simbol perlawanan atas popularitas begal. Kami butuh dengan kelembutan kepemimpinan. "Hus, gak usah kakean cangkem." (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.














Add a Comment