Pak Raden dan Film Unyil di Sebuah City
01 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 222 kali

Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

PENGGALAN Sajak berjudul "Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta" karya WS Rendra itu, seketika terbayang ketika sebuah kota yang masyarakatnya hedon dan mulai individualistis, tak punya lokalisasi. Bahkan ada Perda Nomor 11/2002 yang dengan tegas melarang segala bentuk praktik pelacuran.

Tidak adanya tempat pelacuran, membuat masyarakat penyuka “jajan” kebingungan memuncratkan libidonya. Maka, tetap beroperasilah beberapa titik lokasi bekas porstitusi yang ditutup paksa. Beberapa perempuan menjajakan diri di tempat terbuka, di pinggir jalan, pojok lapangan, ruang-ruang gelap di sudut keramaian. Bahasa halusnya, mungkin sekarang bisa disebut berada di Lapangan Samburat, PKOR Waihalimah, Lorong Pasar Nengah, dan tentu Pemandagan, Pajang.

Tempat-tempat itu adalah sasaran saudara-saudara saya yang miskin, dari Pulau Kepala, dari beberapa daerah pedalaman yang istrinya merantau ke luar negeri dan ada yang minggat entah kemana. Meski banyak di antara mereka kemudian kena penyakit Lion King. :D

Sementara saudara-saudara saya yang punya banyak uang, memilih tempat yang sedikit mewah berbalut layanan kesehatan, jasa pijat, perawatan kulit, semacam salon-salon yang akan kita diskusikan dan korelasikan pada kisah Pak Raden dalam film unyil.

Beberapa bulan lalu, media di sebuah city menulis besar-besar tentang porstitusi terselubung. Memaksa para pendekar pengawal Perda, secara gagah berani menyegel dan menutupnya.

Orang-orang yang paham hukum, karena dibayar empunya porstitusi terselubung itu, mencari celah. Didapatlah fakta dan bukti kuat adanya rekayasa. Kemudian, kasus bergulir dari politik, ekonomi, ke penegakan hukum. Berbalik lagi menjadi penegakan hukum, ekonomi, dan motif persaingan politis.

Siapa yang tidak jengkel dengan ulah Pak Raden dalam film Unyil di TVRI era 80an. Orang dengan kumis melintang, suaranya keras seperti petir, bicaranya seperti marah, terkenal pelit dan rakus. Bayangkan, berapa lapak Pak Ogah yang direbut dan dikuasai secara arogan oleh Pak Raden. Dari penggrebekan rumah kos Unyil, sampai tugas cepek Pak Ogah di jalan-jalan, ngepam di pusat-pusat perbelanjaan, pasar dan para pedagang di trotoar, semua diserobot Pak Raden.

Pak Ogah tidak salah ketika akumulai perampasan lahannya oleh Pak Raden membuatnya marah dan berusaha menghukumnya. Pak Raden juga tentu tidak salah karena menutup jalan Pak Ogah dapat cepek, sebab itu tugasnya sebagai orang yang paling tua dan berkuasa.

Namun pada kasus porstitusi terselubung di sebuah city itu, lucu. Mungkin juga Pak Raden lupa, lawannya adalah "ogah" dan "bagi cepek, dong"

Kita benar-benar dipertontonkan kelucuan-kelucuan hukum. Sebuah rahasia umum dan banyak yang mengakui layanan macam itu meski namanya jasa kesehatan. Beberapa teman yang pernah masuk bisa cerita detail terselubungnya yang sebenarnya semi terbuka.

Mungkin masalahnya, hanya di satu tempat yang kebetulan akan menjadi pesaing politik maka direkayasa agar bisa disegel.

Sementara beberapa tempat yang lokasinya berdekatan, sama sekali tak digrebek.

Pak Raden memang mesti belajar pada tokoh Meilani. Kenapa mesti Meilani, bukan pada Unyil atau Usro yang sebenarnya tokoh utama? Karena Meilani digambarkan sebagai tokoh keturunan Tionghoa yang rambutnya berkepang dua.

Tentu kita masih ingat aturan bermain monopoli ketika masih anak-anak dulu? Hati-hati dengan orang yang rambutnya dikepang dua, licik dan sadis. Bisa membunuh dengan mulut mengembangkan senyum dan selalu menang dalam semua permainan.

Selamat jalan Pak Raden, semoga tenang di alam sana. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )