SAYA punya banyak guru dalam kehidupan. Sebagai murid, nyaris dalam semua pelajaran tidak ada yang membuat saya "paling" menonjol. Di ranah hafalan, saya sering mutar-mutar, yang diteriaki, kapan sampai terminalnya. Ketika baca surat Al Kafirun misalnya, sudah mengulang-ulang ma akbuud, ma akbuud, ma bektum, terus berputar tak pernah lakum dinukum. Atau ketika baca tabatyada abilahu waabitabat yada...terus mengulang, lupa lanjutannya.
Pada soal berhitung, jauh lebih payah. Apalagi jika sampai pembagian, porogapit membuat mata saya seperti alergi angka. Jajaran aljabar itu secara pelan, berloncatan, lalu terbang menubruk plafon sekolah kami yang penuh jamur dan mengendapkan air hujan. Apalagi jika mesti menghitung jumlah gaya, jarak cahaya, pantulan suara, tinggi bangunan, lebar balok, ah, sempurna sudah. Sebagai anak yang bebal dan berotak jongkok.
Ketika pelajaran olahraga, parah lagi. Saya bahkan hanya menyesali tubuh ringkih, badan kaku dan otot yang lemah. Rekan kami secara cepat melompat jauh, berlari, adu otot, pamer ketangkasan, memperlihatkan atraksi kecanggihan menguasai keseimbangan. Saya hanya bisa bengong menatap dengan nafas tersengal. Bahkan, pernah ketika bermain sepak bola di lapangan besar, ketika menggiring bola dari tengah lapangan, semua teman saya, termasuk yang jadi kesebelasan lawan. Berteriak bersamaan. "Biarkan saja, jangan ditekel." Mereka hanya berlari di samping saya yang dengan gesit menggiring bola. Namun malang, sebelum dekat gawang dan sebelum menendang agar menjebol pertahanan kiper lawan, nafas saya habis. Saya jatuh dengan telentang dan bernafas dengan mulut mangap-mangap.
Keringat dingin keluar, melihat samar-samar, semua pemain baik teman maupun lawan, tertawa terkial-kial, lalu menggotong dan melempar saya ke pinggil lapangan. Terdengar samar-samar tawa mereka dan membenarkan langkah membiarkan saya menggiring bola tanpa hambatan dari tengah lapangan.
Tubuh yang lemah, otak yang jongkok, seringkali membuat saya merasa tersindir jika ada teman yang terus mengulang-ulang hadist, Allah lebih mencintai muslim yang kuat.
Guru, bagi saya adalah orang yang mampu menunjukkan berbagai kelemahan. Menyadari kekurangan seorang murid.
Mempunyai banyak guru, membuat saya sangat paham, sebagai orang bodoh dan lemah, meski saya tak sepakat dengan pendapat guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, namun saya sangat menghormati guru. Selalu tak berani menatap matanya atau melawan meski sering mendebat argumennya. Bukan untuk terlihat pintar atau memperlihatkan sisi lain dari sebuah perspektif, hanya untuk menguji apakah kebodohan dan kelemahan itu bisa diubah sebagai kepandaian dan kekuatan.
Sebagai orang yang bertubuh ringkih, ketika naik bus atau perahu apalagi dalam jarak yang cukup jauh, bisa dipastikan, saya mabok. Bukan sekadar pening, bahkan muntah-muntah sampai seluruh isi perut keluar dan tak ada lagi yang bisa dikeluarkan selain lendir kuning yang rasanya pahit. Dunia bergoyang seperti gempa dan merasakan benarnya teori kalau ada rotasi bumi. Biasanya itu bertahan sampai berhari-hari setelah sampai tujuan.
Guru olahraga kami pernah bilang; "karena kau jarang latihan keseimbangan." Atas saran beliau, akhirnya saya seperti orang gila, tak peduli hujan atau kabut, setiap habis subuh selalu lari sejauh matahari terbit. Berbulan-bulan lari pagi itu saya lakukan dan ternyata betul, kaget. Di bus jurusan Lampung-Tulungagung, saya hanya tersenyum menunggu kapan dan bagaimana rasanya mabok naik kendaraan itu. Namun sayang sekali, mudah terasa lapar. Sementara ongkos yang saya bawa hanya cukup untuk kendaraan. Terpaksa saya mempraktekkan pelajaran ekonomi, ilmu melempar barang, ketika itu, pengalaman menjual barang di terminal Nganjuk, kodak 555 yang selalu saya bawa, sudah resmi berpindah tangan. Dan saya terkejut kembali, meski bodoh dalam pelajaran matematika, soal jual beli barang, pasti membuat saya untung. Ini akibat pelajaran dari guru yang menjelaskan teori singkat. Bisnis itu bukan soal modal ditambah untung, namun perlu pembagian yang dinamakan kenangan dan pengalaman. Orang membeli barang itu bukan lantaran kebutuhan, melainkan seberapa yakin dia mampu dipengaruhi iklan. Kodak yang saya beli seharga 445 ribu, dibeli orang seharga 570 ribu. Tanpa tawar menawar, kami salaman dengan penuh persahabatan dan saling mengucapkan terima kasih.
Saya bukan orang pintar, orang kuat, apalagi orang cerdas, namun karena guru, hidup saya menjadi penuh tumpukan nikmat. Kesadaran sebagai orang bodoh, orang lemah, dan anak ndesit membuat saya tak pernah sekalipun dianggap bodoh apalagi lemah. Di terminal Ponorogo misalnya, ada orang aneh yang pernah menganggap saya lemah. Memaksa dan merampas ransel saya yang berat karena berisi tiga jilid tafsir Al Ibrizi dengan huruf-huruf pigon berbahasa kawi itu, membuat saya berani meninju mulutnya, belum sempat dia membalas, kursi kayu tempat saya makan popmie, saya hantamkan di kepalanya. Semua orang geger, berkerumun. Menyembunyikan takut dan nafas yang tersengal, saya bilang. "Dia mau merampok saya." Polisi lalu menggelandangnya di pojok terminal dan saya bisa melanjutkan naik bus arah Madiun dengan aman, tanpa beban, sebelumnya banyak orang memuji dengan menunjukkan jempol jari kanannya. "Sip, dek, biar tahu rasa preman itu."
Dalam perjalanan itu membuat saya heran, bagaimana mungkin ketika pelajaran olahraga tak pernah unggul, membuat saya berani beradu tanding dengan preman terminal? Ternyata saya ingat pesan guru olahraga. Kuat itu ketika mempertahankan hak dengan memukul lawan agar tak bisa bangun lagi. Sebab, jika kita merelakan hak kita ketika dirampas, itu sama dengan orang lemah.
Ketika menempuh perjalanan dari Yogya ke arah Muara Enim dengan bus yang penuh orang seperti saya, berhari-hari tak mandi. Saya pernah kehabisan ongkos lagi. Menyadari sebagai anak yang bebal, membuat saya tak bisa menipu seperti anak-anak yang berkisah tentang manisnya tipuan. Keberhasilan menipu itu butuh kecerdasan. Sementara saya bebal, sejak kecil diajari jujur dan lurus dalam hidup, tak kenal apa itu menipu dan tentu, justru sering tertipu.
Akhirnya, membuat saya menyerah pada nasib anak yang berjalan naik bus tanpa ongkos. Mengganti celana pendek, dan setiap mobil berhenti di rumah makan, sigap mengelap kaca, menenteng ember, mencuci ban, menendang-nendang seolah memastikan tidak kempes, lalu duduk jigang dekat kondektur dan sopir, ikut makan dan menceritakan, habis ongkos serta lapar. Saya bercerita, orang perjalanan kehabisan ongkos dan lapar, itu seperti anak angon, bebas hukum. Jangankan minta, maling juga boleh. Di sana saya diberi rokok, meski belum merokok ikut belajar memainkan asap. Terbatuk-batuk, ampek. Lalu di suruh duduk di depan dekat kondektur yang sudah berganti jadi sopir selama perjalanan, saya dengan lancar teriak, terus, awas truk, melambaikan tangan di jendela setelah bus berhasil nyodok, sesekali bersuit-suit. Ongkos bus yang saya bayar di pol justru dikembalikan, ditambah diberi ongkos untuk naik angkot.
Saya punya banyak guru, membuat kehidupan seperti terarah dan mudah. Terima kasih guru, selamat hari digugu dan ditiru 2016. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment