BAGAIMANA mungkin anak-anak Spontan, yang kualitas makannya tak sadar gizi seperti itu bisa kuat-kuat, trengginas dan beberapa di antaranya, juara di kelas serta pahlawan di lapangan olahraga? Artinya, selain tubuhnya sehat, otaknya juga cerdas. Ini mulai masif dan terjadi era 80an. Di bawah itu, hanya satu dua yang terbukti mampu membuktikan diri sampai jadi guru besar.
Kualitas anak-anak Spontan era 80-90an nyaris selalu mendominasi kejuaraan apa pun. Cerdas cermat di tingkat kecamatan, MTQ baik bidang syarah maupun hafizd, turnamen bola volly, sepak bola, sampai NEM lulusan SD di tingkat kabupaten maupun provinsi sering diraih bocah Spontan.
Belakangan diketahaui, setelah salah satu anak Spontan yang berhasil jadi guru besar menyatakan, makanan anak desa disediakan oleh alam. Sehabis mancing, langsung membakar ikan sungai yang didapat, bocah Spontan melanjutkan berburu buah. Ada jambu air, jambu kristal, jambu monyet, santiet, serta aneka buah yang ditentukan musim. Disiapkan oleh alam. Dari sana nutrisi anak-anak Spontan secara simultan terpenuhi. Meski di rumah hanya ada nasi berlauk sayur santan. Namun di ladang atau sungai, makanan pendamping mereka kaya gizi. Sesuai musim yang juga tepat pada waktu itu, tubuh butuh asupan nutrisi yang dikandung makanan liar.
Potret "lingsang" anak Spontan, trutusan dan badan yang kotor, berbanding terbalik dengan kemiskinan anak-anak di perkotaan. Anak-anak Spontan tak mengenal istilah kelaparan. Namun sebaliknya, akrab dengan sebutan gragas. Sehingga ketika heboh, marak kasus busung lapar, tidak ada anak Spontan yang terkena penyakit yang akrab dengan orang melarat itu.
Meski tidak mengetahui secara benar tentang kandungan gizi sebuah makanan yang disediakan alam, tanpa sistematisasi edukasi gizi, anak-anak Spontan telah tahu, kalau membakar ikan biar tidak amis harus dicampur air perasan belimbing wuluh, biar awet kenyangnya, ikan yang didapat disantap bareng singkong atau mantang bakar, sehingga tanpa sadar, gizi yang seimbang terbangun walaupun menurut lidah bocah Spontan, makanan paling lezat adalah daging, santapan orang kaya saja.
Sekarang dunia sudah terbalik, orang kaya saat ini, justru banyak mengonsumsi sayur, orang miskin sering berlauk ayam. Orang Spontan di era 80an, makan ayam hanya jika ayamnya sakit atau ketika lebaran.
Perkampungan Spontan, mengubah wujudnya menjadi bentuk peradaban baru. Pemukiman orang-orang yang punya padu padan antara keselarasan, kebutuhan primer, skunder dan tersier. Secara pelahan mulai dimiliki orang-orang Spontan. Namun demikian, perubahan itu terus berkembang pesat, tak terkendali. Demi punya televisi, warga rela kredit yang bunganya mengalahkan sistem rentenir paling Ijon. Posyandu dan bantuan untuk tambahan gizi anak-anak Spontan, mulai dihentikan. Bantuan susu dan bubur kacang hijau di Posyandu dan SD-SD Inpres, diganti imunisasi yang baru diketahui belakangan, pakai vaksin palsu. Terjadilah kemerosotan daya tahan dan daya pikir anak-anak Spontan era 90an ke atas.
Pangan yang disiapkan alam, ikan di sungai, buah di ladang, sudah tidak ada lagi. Anak-anak menemukan makanan yang lebih lezat dan murah. Yaitu, ciki, kaka, dan mie instan.
Anak SD sepulang sekolah, tidak ada lagi yang menengok pancing lalu membakarnya bareng singkong, melainkan langsung menyantap makanan yang lebih lezat dan gurih di lidah, mie instan.
Telur bebek yang bisa mudah ditemukan di jalan sepulang sekolah, era 90an sudah tidak ada lagi. Bahkan, banyak terjadi, anak yang sehabis nyeser di kali, atau punya telur bebek, telur ayam, ke warung ditukar dengan mie instan dan penganan yang mengandung pewarna tekstil, padat MSG.
Semua itu dibiarkan melanda perkampungan sebab, anak-anak era 80an sudah bertarung hidup di perkotaan. Penduduk yang tinggal, juga berpikir instan. Tidak ada lagi buah jambu monyet sebab pohonnya ditebang diganti karet. Jambu bol yang tinggi menjulang, juga ditebang. Jambu-jambuan lain, berganti jadi kayu akasia atau sengon yang lebih menjanjikan harga. Belukar tempat santiet, dibabat jadi perumahan. Pohon-pohon kelapa, dijual murah perbatang Rp.150 ribu. Itulah kenapa ada iklan minuman yang berani menyatakan, "air kelapa asli" meski hasil fermentasi. Perusahaan seolah tahu, dugan dan air kelapa saat ini menjadi minuman mewah meski di kampung-kampung Spontan yang era 80an, kelapa kopyor pun dengan mudah didapat secara gratis. Termasuk ibu-ibu yang membuat minyak goreng dari kelapa. Dulu, sempat tersebar kabar dari pemerintah, dilarang membuat minyak kelapa karena tidak sehat. Sekarang, minyak kelapa dijual dalam botol-botol ekslusif yang orang Spontan pasti tidak mampu membelinya. Membuatnya, juga lebih mahal sebab tidak ada lagi kelapa jatuh yang diberi hukum, milik yang menemukan.
Keterbatasan alam, tak bisa dicegah. Anak-anak kurang nutrisi, tak terelakkan. Semangat untuk sekolah pun kian memudar. Era 2000an, anak-anak Spontan mulai merasa puas jika sudah lulus SMK/SMA/MA. Sebab, dengan ijasah tingkat SLTA itu, mereka yakin bisa bekerja di kota. Jadilah gelombang urbanisasi, semacam migrasi burung belibis yang tak terbendung. Yang lelaki, ke kawasan industri, yang perempuan, jadi TKI.
Ada yang sukses dan pulang bisa membeli sawah. Namun yang hilang tanpa kabar, banyak. Pulang tinggal jasad akibat penganiayaan, juga sering. Tertangkap sebagai pelaku kejahatan, jauh lebih banyak.
Sejak di atas tahun 90an, mulai jarang anak kecil yang diberi minum tajin dicampur garam. Dikenalah sukses fortifikasi yodium. Semua berubah karena kebanyakan diberi susu formula, produk perusahaan luar negeri yang disedu terlalu encer agar hemat. Susu itu berubah jadi racun. Sehingga anak-anak sering terkena diare. Kemudian, jika orang tuanya tak mampu membelikan susu formula yang luar biasa mahal untuk ukuran pendapatan warga Spontan, diganti pakai susu kaleng yang kandungan lemak jenuh dan gula-nya jauh lebih tinggi dibanding kadar kalium-nya.
Orang-orang tua hanya berpikir, balita mereka senang, tidak rewel, sama seperti era 80an, peduli setan dengan gizi. Bedanya, anak-anak 80an diberi minum tajin, dengan mudah memegang pisang yang sampai buahnya banyak busuk di pohon, ngrokoti pepaya atau penganan lain, tidak kenal biskuit, susu formula, mie instan, dan semacamnya. Era 90an, orang tua lebih suka memegangi anaknya dengan kerupuk yang gurihnya sampai tenggorokan dibanding jagung atau singkong rebus. Memberi minum limun yang bahannya dari siklamat.
Anak Spontan era 90an, seolah siaran video yang dipelankan, anaknya mudah mengatuk, sering terkena demam, gampang pilek, malas berlarian di sungai yang memang sudah jarang ikan, di sawah yang hanya penuh pestisida dan tak ada penganan alam lagi, anak era 90an tak ada yang bermain lumpur sebab tidak seperti era 80an yang bisa dengan mudah menangkap belut. Lapangan volly sudah berganti jadi rumah penduduk, lapangan bola dikapling kepala desa, ada yang jadi pasar dan ada yang jadi rumah gedongan. Tidak ada main perang-perangan, saling lempar tanah liat, berebut menggiring bola plastik, mencari burung dengan ketapel. Bukan saja burungnya yang tidak ada lagi, kerikil untuk peluru ketapel pun seolah hilang di telan bumi.
Tubuh anak-anak kian kurus, perutnya buncit. Areal rawa juga sudah hilang, burung truwok yang dagingnya manis sudah punah, ikan gabus yang dengan mudah dijegok tidak ada lagi.
Permukiman Spontan kini ramai, padat penduduk, rumahnya berebut tritis. Di latar pekarangan, tidak ada lagi padi yang dijemur, semua sudah punya televisi. Pulang sekolah, tidak ada anak yang ke kali, ke sawah, bertualang di tengah belukar, melainkan tiduran nonton televisi. Anak Spontan bukan lagi sebagai "Si Bolang" melainkan menonton anak-anak "Ngebolang" di televisi sembari memakan ciki.
Di belakang, mereka makan siang nasi berlauk kerupuk dan mie instan. Sulit ditemukan lauk ikan kali goreng, daun singkong disayur santan, bayam, ontong atau bunga turi rebus plus sambal kacang.
Hampir tidak ada lagi anak usia SD sejak era 2000an yang main hujan-hujanan, sebab, habisnya selalu demam, flu dan besoknya tidak bisa sekolah. Sama orang tuanya kemudian dibawa berobat ke Bidan Desa. Seperti awal-awal terbentuknya permukiman Spontan, Bidan Desa adalah dokter yang serba bisa. Bukan saja menolong orang melahirkan, anak sakit malaria, orang tua kena stroke atau gatal, dibawa berobat ke Bidan Desa. Setelah parah, sekarat, barulah dibawa ke rumah sakit yang jaraknya sangat jauh. Kebanyakan, pulang sudah meregang nyawa. Jika masih hidup, kondisinya semakin memilukan karena dipaksa pulang meski sakitnya sama sekali tak ada gejala sembuh.
Anak-anak Spontan yang jadi guru besar, pegawai sukses, tak pernah pulang lagi. Mereka hanya melihat kampungnya sudah ramai dan maju, jalanan sudah aspal semua, rumah-rumah sudah gedong pakai keramik. WC sentor, anak-anak mudanya main androit mengunggah foto. Setiap hari, calo atau agen tenaga kerja keliling dari rumah ke rumah, bertamu ramah, menawarkan sejuta mimpi orang tua dan anak perempuannya tentang perubahan nasib kalau mau menjadi TKI. Calo itu, dapat komisi satu juta sampai dua juta rupiah untuk satu orang TKI yang dibawanya. Tak cukup umur atau sudah punya anak suami, tidak masalah, memalsukan KTP bukan perkara sulit di republik Spontan. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment