Tubuh yang Melawan Kemanjaan
13 Februari 2018 by: Redaksi - Dilihat 466 kali

SAYA pernah bercerita tentang bagaimana ketika mabok pasca naik bus antarprovinsi di kelas ekonomi. Mabok sampai yang dimuntahkan sudah tidak ada lagi selain lendir kuning berasa pahit. Kepala seperti mengalami putaran, dimana seolah rotasi bumi membawa pendulum yang terikat di ubun-ubun. Putaran itu terasa nyata dan mengikuti kemana pun pandangan di arahkan. Tubuh yang mabok tak mampu berjalan sampai sulit membedakan, di mana arah utara dan dimana selatan.

Akibat mabok kendaraan, semua menjadi sudut-sudut bokeh. Ruang-ruang kedap yang hampa.

Mabok yang istilah sekarang, mungkin lebih tepat disebut jetlek. Jetlek itu, gambaran untuk menjelaskan tentang puncak rasa lelah sekaligus bingung, confusion, disorientasi, dimana intinya adalah tubuh yang belum mampu menyesuaikan diri dalam ruang dan waktu yang baru disinggahi.

Kita ketahui, semasa kecil, tidak boleh langsung mandi setelah berlari-lari penuh keringat. Namun dalam rentang waktu yang lama, hampir setiap sore saya pernah dipaksa lari, dan begitu sampai pantai, langsung berenang menerjang gelombang. Harus ke tengah laut, tempat kapal meletakkan jangkar untuk kemudian istirahat dan makan.

Ketika kecil, lepas isya kami diperdengarkan berbagai bacaan bergaya nahawand, baik itu variasi Awal Maqom Nahawand, Nawa, Jawab, atau Quflah Mahur. Kami juga diceritakan epik dan segala perjuangan dalam kisah-kisah 60 pejuang dalam buku tebal berwarna coklat tua, bahan sampulnya dari kulit, sebagai dongeng pengantar tidur, hingga yang digruguhkan, yang dingorokkan adalah semangat-semangat perang, jihad, tanpa sadar kemudian menjejak-jejak selimut atau melempar bantal sambil memekikkan takbir.

Namun demikian, pernah setiap malam saya tak boleh tidur. Harus tetap terjaga dengan tubuh berendam di dalam lumpur yang penuh lintah. Saat dimana bulan masih memuncak, sumringah di ufuk cakrawala sebelah timur hingga condong ke arah barat. Tubuh ketika subuh, sudah bergerendel lintah di hampir setiap sela pakaian tanpa sadar. Pernah pula karena gerimis semalaman di dalam kubangan lumpur itu. Menggigil dan memaksa berdiri antara sadar dengan pingsan. Saat berjalan, berbaris, antre di pemandian masjid yang mengumandangkan tarkim sebelum adzan subuh saya melihat anak-anak muda yang begitu bengal mengucurkan air mata dan terguguk tanpa malu lagi, menunjukkan tangis dan raungan manja.

Saya yang terbiasa cengengesan serta bengal, menahan gemeretak gigi yang bunyinya bercampur suara isak. Juga tanpa malu meraung-raung, meratap-ratap. Oh, alangkah indah selimaut bergaris biru putih, bantal kapuk dari guguran buah pohon randu, atau bahkan, sarung dan bongkahan bantal dari balok kayu.

Masa kanak-kanak kita, setelah berlari-lari, kaki tak boleh ditekuk dan bermanja duduk, jongkok, agar tidak punya otot-otot varises. Namun pernah hampir setiap pagi, setelah lari kami harus jalan jongkok menghindari paku dan melewati kawat-kawat berduri untuk mendapatkan jatah sarapan. Dimakan dengan berendam di kolam mujaer sedalam leher.

Makan di danau, di kolam, termasuk di pantai ketika ada ombak, harus tepat mengangkat kertas bungkus nasi, agar tak basah dihajar gelombang pernah saya jalani hampir 20 hari. 10 hari di areal hutan tanpa penduduk. Itu adalah bulan dan waktu terpanjang sepanjang hidup saya.

Fisik yang ditempa aneka pembangkangan ajaran masa kecil, membuat tubuh kami pernah menghitam, berjelaga daki dan tak pernah tahu lagi rasanya hidung tersumbat, bersin-bersin, atau kepala pusing. Bahkan, muntah karena perjalanan berjejal di bus ekonomi pun, tak pernah terjadi lagi.

Di kapal yang dihantam gelombang berjam-jam, di bagan yang diserang hujan badai, saya pernah terkejut sebab, sama sekali tidak ada istilah mabok atau hidung meler, apa itu jetlek, flu atau demam. Tubuh masih tetap kokoh berdiri penuh konsentrasi ketika kapal kecil kami dihajar badai sampai nyaris terbalik. Saya masih gesit, ikut menarik layar, membenahi bambu dan kayu peyangga jala yang patah. Termasuk tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan teman kami yang teriak salawatan dengan kalimat-kalimat salah sembari memegang tiang penyangga layar, penuh ketakutan dihajar badai dengan sedapat dan seingatnya menyebut-nyebut nama Tuhan.

Sudah sangat lama, saya tak pernah lagi merasakan sengatan angin yang membawa hujan sembari terus nyalang menatap arah rasi bintang fajar. Memegang kemudi sembari teriak-teriak pada kelasi dan kerani. Tak ada lagi rasa pedih ketika tubuh terbeset ekor ikan pari, karena pernah memakan ikan itu mentah-mentah. Lalu berteriak-teriak; "Wes manjing! Sudah subuh! Sudah subuh!"

Akibat pelatihan-pelatihan itu, nyaris bertahun-tahun saya merasa, alergi dengan olah raga. Saya tak pernah sekalipun, berjalan atau berlari dengan tujuan olah raga. Malam ini, ketika bersin tak pernah jeda, ingus terus mengucur sampai tiga handuk terlempar karena sudah kuyup semua, hidung saya seperti lecet, merah semua. Kepala saya, rasanya seperti terendam di tengah kuala. Serba berat dan semua persendian lunglai. Seolah tulang dan sumsum, mengurai, terlepas satu persatu.

Mendadak, saya merindukan hari-hari dikarantina dan menjalani penempaan fisik yang sepenuhnya membangkang ajaran masa kecil. Lari di jalan beton tanpa alas kaki ketika matahari bersinar lebih 30 derajat celcius. Berendam di tengah danau dalam kabut ketika suhu sampai 18 derajat celcius. Atau lapar sampai usus saling menggerus meski posisinya di tengah hutan pinus dengan hanya punya pisau dan korek api kayu di dalam kantong celana berbahan plastik. Di pencarian tanda jalan pulang, tepat 84 jam saya baru menemukan jalan aspal yang sepi namun seperti menemukan sebuah harapan untuk bisa bertahan dan menakhlukkan kehidupan yang penuh kesengsaraan itu.

Diam-diam, saya merindukan salat asar berurai air mata di tengah hutan bersajadah daun dan melompat ketakutan karena tepat di kepala untuk sujud, ular berwarna hijau menjulur-julurkan lidahnya. Saya merasa sendirian dan ketakutan di bumi ini. Bumi yang penuh pepohonan dan serangga. Oh, alangkah lezatnya daging landak. Dan saya gembira, sakit apa pun, obatnya tetap, Decolgen.(*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )