Tentang Jurang Liechtensteinklamm dan Ndas Rowo
31 Agustus 2016 by: Redaksi - Dilihat 322 kali

KAU berkisah tentang jurang Liechtensteinklamm, letaknya nun jauh di sana. Dekat Filzmoos, katamu nyerocos, kalau itu pernah jadi tempat menginap bekas pacarku. Secara rinci kau bercerita, pacarku sudah menikah dengan bule dan tinggal di dekat jurang Liechtensteinklamm. Menjadi pemandu wisata.

Lalu, kau menceritakan kenapa jurang yang indah itu dinamakan Pangeran Johann II. Saya benar-benar tidak mengerti, mendengar tuturmu, apalagi ketika kau sebut extreem weather conditions. Saya hanya paham, nama "jurang kembar" yang ada di kampung kami. Sebelum banyak kepala dipenggal dan dipenuhi ribuan orang berwajah garang. Puluhan tahun lampau, rantai sepeda saya pernah putus di sana. Saya njungkel dan telungkup di lumpur sawah. Baju dan jiwa saya basah, sepeda masuk ke dalam kubangan.

Suatu ketika, beberapa tahun lampau saya berdiri dan berhenti di tengah jurang kembar itu tepat tengah malam, mengingat kejatuhan dan beberapa peristiwa sedih tiap hari Sabtu puluhan tahun lalu.

Mencecap masa bersepeda wandu dan terjungkal ke jurang tanpa penolong. Saya tahu, hidup itu hakekatnya sendirian, ketika kau terjatuh, dalam posisi basah dan susah, itu lucu bagi sebagian orang. Bahkan pada masa depan, kejadian susahmu susahku pun menjadi lucu dan indah juga bagi dirimu dan diriku.

Kau mencontohkan, setiap foto ramai-ramai, pasti pertama yang kita lihat adalah "aku di sebelah mana" meski posisinya di belakang dan hanya tampak kepala, kita fokus melihat ke arah "di sana". Memastikan keberadaan. Kau menyebut, itulah soal egoisme kemanusiaan. Kau kembali memancing cerita soal centrum Sankt Johann. Saya seketika mengantuk dan ingin memutuskan obrolan di senja yang matahari kuning menyorot dari jendela.

Obrolan sengaja saya putus, seperti biasa, tanpa pamit, tanpa permisi dan tentu tidak disertai salam perpisahan atau entah akan membingkai perbincangan lagi atau tidak. Sebab, sudah lama sekali saya meninggalkan tradisi salam-salaman atau ucapan manis basa-basi ketika hendak berpisah.

Jurang kembar yang ada di kampung kita, dulu adalah area terlarang untuk bermain. Di sana disebut sebagai ndas rowo. Kepala sungai yang menjadi hulu sebuah kali, dimana tembus ke areal sawah yang pernah menjadi rawa-rawa nun sejauh mata memandang. Di jurang kembar itu, ada mata air yang terus memancar, tidak terlihat namun tak pernah kering. Bahkan ketika musim kemarau yang pada bagian kampung lain, dilanda musim pagebluk, musim kering dan kesulitan mendapat air bersih. Warga kampung kami tetap tenang, punya jurang kembar yang tak terpengaruh musim, kadar air di tempat itu justru semakin jernih. Daun lingi juga banyak diani-ani kaum ibu di kampung kami. Dirajut menjadi tikar pandan yang empuk dan nyaman ketika dijadikan alas tidur. Sajadah salat atau sekadar dijadikan tempat duduk di depan televisi.

Ndas rowo itu daerah terkutuk. Tidak ada yang berani membeli tanahnya, termasuk menggunakannya untuk bercocok tanam atau mencari ikan. Para perempuan tua yang memetik
daun lingi juga sebatas "yang ada" di pinggir jalan. Kakinya, tetap kering, tanpa perlu masuk lumpur seperti ketika memetik di areal rawa lain. Sebab, di sana jadi perkumpulan dedemit
dan memedi berumah tangga, beranak pinak, serta mengadakan permusyawaratan untuk menguasai alam, merebut dari kuasa manusia.

Ndas rowo adalah pasukan Orc di film Warcraff. Ndas rowo adalah kearifan dan kekayaan kampung yang sebenarnya bisa jadi pariwisata untuk membuat film fiksi ilmiah. Sayang, kemisteriusan, hantu dan berbagai "yang gaib" di ndas rowo telah hilang. Seiring seringnya orang modern tahu potas, pestisida dan sudah hilangnya lumpur rawa-rawa di kampung kami. Yang pada musim kemarau sejak 1998, terbiasa retak-retak tanahnya. Kering airnya dan mati dedaunan linginya. Sejak reformasi, tidak ada lagi kaum ibu yang menganyam tikar pandan lagi. Termasuk anak muda membawa cangkul berburu belut di lumpur rawa yang mengering. Belut dan ikan kali jadi makanan langka. Di perempatan kampung, sekarang laris orang menjual KFC model wajan. Mie ayam dengan gerusan aci bermicin yang mirip daging giling. Sudah tidak ada anak kecil yang gembira membakar ikan di tepi rawa. Permainannya adalah game online tentang menggencet, membunuh, menembak, memetik, dan atau menjatuhkan lawan. Bukan lagi permainan anak kampung yang berlomba renang melawan arus sungai, bertahan slulup atau tahan lama ketika tengkurap di lumpur penuh lingi agar tidak ditemukan saat main petak umpet. Tidak ada lagi yang kenal apa itu misteri ndas rowo. Meski tidak juga tahu taman wisata jurang Liectenstenklamm. (*)  

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )