MALAM ini saya hanya bisa berbincang singkat dengan anak Spontan yang dulu terkenal sangat nakal. Kenakalan anak Spontan ini, jika dibandikan dengan aksi kriminalitas sekarang, jauh di bawah batas-batas normal. Bisa dipermaklumkan.
Usia kami hampir sama, lahir di atas 80an, di bawah 90an. Namun pengalaman nakalnya, jauh di atas rata-rata anak perdesaan. Dia berkisah, bagaimana caranya mencuri ayam dan bisa tidak bunyi sama sekali, bagaimana memanen buah durian, kelapa atau buah apa pun hanya dengan modal cabe dan pahat palu.
Sebelum saya tuliskan cara maling ayam dan memanen buah cara anak-anak Spontan itu, sebaiknya kita bahas kasus cangkul import yang tiba-tiba jadi persoalan.
Mungkin orang-orang itu lupa, semua jenis macam peniti, gembok, kunci, beberapa pernik-pernik rumah tangga sejak zaman baheula sudah bertulis ukiran "Made in China".
Lantas kenapa sekarang heboh soal cangkul yang import dari China? Mungkin orang-orang itu perlu minum kopi agar sedikit punya kewarasan. Kata halusnya, mereka sedang terjangkit penyakit gila. Sebab, dengan gila berbagai momentum politik bisa diraih. Dengan gila, sensasi dan popularitas didapat secara murah. Dengan gila juga, bajingan-bajingan rasis punya kesempatan berkuasa dan menguasai hajat hidup orang banyak.
Maksud saya begini. Cangkul dan berbagai pernik kebutuhan rumah tangga yang import itu bukan hanya kesalahan pengusaha, pemerintah dan rakyat yang tanpa proteksi apa pun dari pejabat negara. Melainkan kesepakatan kolektif antara ketiganya. Jika semua pengusaha ingin untung, jika semua pejabat pemerintah dari para bajingan yang berkuasa karena gila dan jika rakyat picak, maka trikotomi kegelisahan atas produk import hanyalah kegilaan yang lucu.
Artinya, karena pemerintah tak mau repot memproteksi kekuatan ekonomi rakyat, pengusaha mendapat untung dengan menjual produk import, dan rakyat membeli produk yang murah, maka apa masalahnya dengan cangkul import? Tidak ada. Kecuali sekadar informasi gila yang dibesar-besarkan.
Papak Palu ing Pande
Diketahui, dalam tulisan saya soal "gagang djalil" (http://endritorial.com/post-gagang-djalil-dan-khepa-ulah-khiya-ulih), pande besi yang sangat terkenal di area Spontan, sudah saya ungkap tentang bagaimana sebuah produk pande besi menjadi identitas dan perekat kekeluargaan. Namun sejak zaman kejayaan produk djalil, harga cangkul, sabit dan golok dari toko besi, jauh lebih murah.
Satu cangkul djalil ketika 80an sudah seharga Rp.60 ribu. Dibeli langsung oleh orang-orang yang datang ke Tulungagung, Jawa Timur. Sementara cangkul di toko besi Koh Liong, harganya Rp7500. Sabit djalil seharga Rp.30 ribu. Sabit Made in China Rp.2500. Soal kualitas, ketajaman, mudah goang, dan semacamnya, djalil memang lebih kuat. Termasuk sabit atau cangkul bermerk djalil mampu tahan sampai 4 tahun. Merk China, setengah tahun mesti ganti karena sudah ketul. Soalnya adalah, masyarakat tak punya uang sebanyak itu untuk investasi membeli alat utama pertanian tersebut. Maka Made in China adalah pilihan yang rasional. Dampaknya, perputaran uang pedagang cangkul, jelas memilih merk import. Karena menurut pedagang di pasar Spontan, cangkul merk djalil baru laku 20 buah dalam waktu setahun. Merk China, bisa laku lebih 500 buah.
Dari sinilah, pande-pande besi kualitas lokal mulai gulung tikar. Pak Pande, sebutan untuk nama tukang pande besi, beralih usaha. Belum lagi soal sulitnya mendapat bahan baku. Kalau sekarang tanya anak yang lahir era 90an, apakah pernah memompa dan merasakan berkeringat, melihat percik-percik api dan bebunyian dari besi yang ditempa Pak Pande? Pasti tidak pernah. Sebab, rumah-rumah pande berganti jadi ruko atau warung waralaba yang menjual kondom di barisan depan, ada penjaga dan kasir cerewet yang selalu berucap. "Selamat datang, selamat belanja..bla...bla..." Ketika membayar, pulsanya sekalian, koreknya sekalian, yang dua ratus disumbangkan atau macam tipuan yang sudah banyak disoal konsumen. Yaitu, kembalian receh diganti permen.
Namun demikian, apakah itu salah? Ketika kita perbandingkan belanja di warung kelontongan atau warung gerobak yang harganya selalu jauh lebih mahal, mencari kebutuhan ketika masih melihat-lihat langsung disentak dengan pertanyaan. "Apa lagi?!" Belum lagi soal pelayan warung karena dibayar murah, jangankan ramah dan senyum ketika melayani pembeli, bahkan sering membuat jengkel dengan ucapan-ucapan ketus. Sebab, semakin banyak yang beli semakin bertambah beban kerjanya dan itu sama sekali tak berdampak pada penghasilannya sebagai pelayan warung.
Produk import bertulis Made in China, harusnya disyukuri semua warga. Sebab, satu-satunya orang yang bernama Made, itu bisa dipastikan warga negara Indonesia. Made itu nama khas dan asli orang Bali, yang secara khusus diberikan untuk anak keempat. Pertama, Wayan, anak kedua diberi nama Nyoman, lalu Ketut dan untuk anak keempat, namanya pasti diawali dengan kata Made. Di area Spontan, sebut saja ada nama yang tekenal seperti Made Bagiase yang jadi anggota DPRD, Made Putu Wijaya yang jadi guru SMP Negeri, Made Pastika yang jadi pengusaha, dan lain sebagainya.
Tidak adanya orang yang keliling menjajakan cangkul, sabit dan golok merek djalil dan sejenisnya, matinya usaha Pak Pande, membuat orang-orang lupa istilah kuno yang sangat tenar. Yakni, papak palu ing pande. Nanti kita ulas tema ini di lain waktu yang pasti bersinggungan dengan anak-anak nakal.
Anak nakal di Spontan, sebenarnya adalah manifestasi kecerdasan namun tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang benar. Akibat terlalu cerdas, berani bereksperimen, membuatnya punya kepuasan dalam pembuktian sebuah pengetahuan. Seperti teman kami yang hobi maling ayam. Terkenal paling nakal karena kemana-mana cerita dia yang mencuri ayam warga namun tak ada yang bisa membuktikan kalau dia yang mencuri. Dulu sempat terkenal, dia hanya membual. Namun baru malam ini dirinya bercerita tentang teori seputar bagaimana caranya mencuri ayam supaya tidak berkeok dan berisik di malam hari.
Menurut dia, hanya ada dua cara yang sangat efektif. Pertama menggunakan gerusan bawang putih. Caranya, gerusan bawang putih itu dioleskan di dua tapak tangan, lalu secara pelan tapak tangannya didekatkan ke kepala ayam. Tangkap kepalanya, pegang kakinya. Pasti ayam itu tak akan berkeok-keok. Bawa dan bakar untuk makan malam hari. Rasanya sangat nikmat, sehingga mata saya masih segar ketika menuliskan cerita ini.
Cara kedua, yang juga tak kalah efektif adalah dengan menggunakan karung goni yang sudah dibasahi. Dekati ayam, bekap mennggunakan karung goni atau kain yang basah. Ayam secara ajaib tetap tenang, lalu bawa ke dapur untuk kemudian disembelih. Agar cepat, tak perlu dicabuti bulunya dengan sebelumnya direndam air panas. Cukup dibeset agar kulit dan bulunya terpisah, menyisakan daging ayam jago yang segar kemerahan. Goreng kering untuk sarapan besok pagi. Sebab, malam ini kenyang dengan ayam bakar.
Baru ketika menyaksikan bola antara FC Barcelon melawan Granada, tepat pada menit ke-46 gol untuk Barca, Pak Pande masuk dan ikut menonton. Lalu dia berkisah, dua ayam jagonya yang dikandangkan dekat sumur, hilang. Selilit daging ayam bakar di gigi yang masih dibersihkan pakai lidi, serasa hidup dan berkokok. Seolah tahu kami tergeragap, dia membahas cangkul import dari China. Mengisahkan bagaimana awal matinya usaha pande besi. Kami kemudian setengah gila, ikut-ikutan menyalahkan pemerintah. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment