KEHIDUPAN itu seperti kertas, mudah dilukis, diprint sebagaimana keinginan dan dibentuk serupa pikiran. Akan tetapi, mudah robek. Dirobek atau salah mencetak.
Saya mencoba menjalani proses distansiasi pikiran dengan pertahanan awal, berlatih puasa dalam beragam bentuk yang kemudian saya gambar sesuai keinginan. Semuanya tetap seperti semula, mudah salah.
Hasil cetak yang benar, selalu diiringi konsentrasi pada proses mengawal sejak memikirkan, mengerjakan, sampai membentuk pola cetakan-cetakan atas ingin yang ketat. Di sanalah berada kehidupan pikiran.
Membicarakan yang terpikirkan dan yang tidak terpikirkan, kemudian mencetak dalam wujud, ada, mengada dan sampai pada ketiadaan.
Proses berkarya, sering melampaui konteks. Sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas, dan menjadi sekadar data. Sebuah karya itulah yang kemudian menjadi fakta, meski sering pula faktualitas kehilangan maknanya sebagai faktisitas.
Kita, mungkin butuh sesuatu yang ganjil. Memberlakukan kenarsisan, dalam pepatah lampau kita kenal, keterkenalan bisa dicapai dengan hanya mengencingi air zam-zam.
Tak perlu khawatir. Sebab, hidup itu seperti kertas, mudah dilukis, diprint, sebagaimana keinginan dan dibentuk serupa pikiran, meski kemudian mudah robek, dirobek, dilipat dan digunting sesuai kebutuhan. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment