<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: "ca-pub-1095446486393148",
enable_page_level_ads: true
});
</script>
Kegembiraan itu sederhana. Namun selalu gembira, hanya ada dalam Orkes.
Kesedihan itu istimewa. Namun selalu sedih, hanya di lagu Obimesakh.
Suka dan duka itu semestinya, jangan berlebih.
Itulah tingkat kebebasan hidup. Terkadang yang membuat kita gembira hari ini, jadi kesedihan di hari esok. Begitu juga sebaliknya. Demikian dulu, kau sehari-hari menceramahi kami. Tak piker-piker, sampai sekarang saya nggak mudeng. Mempelajari seluk beluk rasa suka dan duka, lalu membuat ulasan dengan membicarakan cecapan rasanya itu. "Cuk. Opo yo tak piker. Membuat saya tampak tolol dan tua."
Ketika berkata kasar di tengah pitutur lembutmu dan lingkunganmu, saya justru disebut, lulus.
Kenapa? Saya tanya alasannya. "Kau terlalu bebal dan nyaman di sini. Pergilah, tuntut ketuaan dan ketololan hingga ke Sumangtera. Di sana cari galihe kangkung dan pring tempuk. Bawalah keduanya ke Ukdungle."
Lalu menemukan kisah Alkemis-nya, Paulo Coelho. Ketika menceritakan ini, saya justru diberi pengetahuan soal "pencerahan" dan teologi. "Aih, asu itu kalo lagi cari majikan, membicarakan apa yang tidak dimengerti, menjalankan apa yang tidak disukai, sepanjang menyenangkan sesiapa."
Itu kalimat yang tertulis di buku diari, ada merk Jhon Hopkins dan garis- garis kertasnya, berwarna keemasan. Sampulnya seperti kulit, berwarna coklat. Rasanya, dulu ketika membawa, seperti sedang nenteng tablet merk apel kroak saat ini. Pena untuk nulisnya merk pilot. Harganya zaman itu sudah Rp.6 ribu. Menyelipkan pena itu di saku depan, rasanya seperti tahun 2005 kalungan flashdisk.
Lalu menemukan potongan ayat yang artinya kurang lebih begini. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. Katamu ketika itu, jika tampak tolol dan tua, larilah ke Tuhan. Jika sedih luar biasa, larilah ke Tuhan. Jika bangga luar biasa, turunlah dari surga. "Njur aku kon ngopo?"
Lalu kau cerita soal bagaimana gembira dan takutnya saya ketika bersamamu mencuri rambutan Pak Bayan jebule empunya yang kumisnya nyrempang kayak werkudoro dan kulitnya seperti pantat panci itu sudah di bawah pohon, mencureng. Saya masih ingat kalimat tenangmu. "Maaf Pakde, ini kan bukan pohon dan rambutane sampeyan. Ini punya Gusti Allah. Coba kalau punya sampean, sampean bikin buahnya, gak bisa to?" di tengah kebingungan Pak Bayan itu, kami lari terbirit- birit. Tanpa sadar, pagar bambu setinggi dua meter dan dibatasi paret satu meter itu, kami lompati dengan cepat.
Menuturkan itu, kita terbahak- bahak. "Itulah rasa suka dan duka yang lompatan rasanya silih berganti dengan cepat. Mudeng ora?!" ucapmu menghardik. Saya masih menggeleng. "Babar blas, gak mudeng."
Lalu dengan terpejam, agung sekali wajahmu mengucap. "Ada tiga macam perasaan dan perasaan itu muncul dan lenyap kembali. Jenis perasaan apa pun yang ada setelah mengetahui, ini adalah perasaan, tidak bertahan lama, mengalami kehancuran, setelah menyentuh dan menyentuh lagi perasaan-perasaan itu, melihat lenyapnya perasaan-perasaan itu...."
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment