Mendadak Muak dengan Mustafa
21 April 2017 by: Redaksi - Dilihat 555 kali

PERTANYAAN yang relevan diajukan mestinya bagaimana kriteria calon gubernur ideal itu? Bukan ketika tidak mendukung A, pasti sudah mendukung B dan semacamnya. Namun sebelum mengumpulkan berbagai pendapat orang yang lebih berkompeten tentang sosok calon gubernur Lampung, izinkan saya mengungkapkan seputar muak sekaligus sayang atas fenomena taburan citra palsu ini.

Misalnya, kenapa saya mesti ujug-ujug menyatakan anti dengan calon penebar citra kosong model di tulisan ini.  Sebenarnya bukan karena kita layak menghalang-halangi seseorang untuk adu peruntungan atau mengocok dadu takdir. Sikap yang mesti kita tumbuh kembangkan adalah keberanian menolak atau menyatakan pendapat. Mungkin sikap semacam judul tulisan ini tidak akan pernah muncul jika ular krokos model beginian tak mengotori pandangan kita. 

Mari menarik sedikit ke belakang, saya memang bukan warga Lampung Tengah. Akan tetapi, beras yang saya konsumsi tumbuh dan dipanen dari tanah Lampung Tengah itu. Sehingga saya tahu betul, bagaimana suara perolehan partai yang di banyak TPS tidak menang namun hasil akhirnya, partai itu bisa menjadi ketua dewan. Calon utusan daerah yang di kampung kelahiran saya tidak ada suaranya sama sekali, mendadak dia yang jadi. Hampir semua orang faham kondisi ini. Meski sebagaimana lazimnya kejahatan dalam politik dan high class. Terasa namun tak bisa dibuktikan.

Sebenarnya, kehadiran tampil memimpin partai yang digelorakan periode awal oleh Bang Djadjat, penuh antusiasme dan harapan untuk perbaikan demokrasi ini, banyak dijadikan sandaran masyarakat untuk benar-benar membawa semangat restorasi sebagaimana tagline utamanya. Ternyata, maaf, selain sentralistik dan justru tak demokratis dalam proses penetapan dan pencopotan kader-kadernya, juga sebatas jadi penampung libido berkuasa. Ups, memang masih ada ya, parpol yang tidak sentralistik, oligarkis dan mengejar kekuasaan? Welgeduwelbeh.

Oke, soal ini sebenarnya tidak masalah jika yang tampil dari partai ini Bang Djadjat, Mbak Baya, atau bahkan Fauzan Sibron. Soal Fauzan ini sebenarnya jauh lebih menarik. Sebab, siapa yang awalnya tahu dan kenal? Dia menebar baner juga ketika calon lain mulai bergerak, aktivitasnya tidak banyak diketahui publik. Hanya beberapa kalangan tahu, dia jadi Ketua KNPI Kota Bandarlampung, ketika zaman mahal-mahalnya tiket untuk jadi pimpinan organisasi kepemudaan itu. Kehadirannya mengejutkan publik ketika diumumkan hasil Pileg 2014, semua orang terpana. Sebab, melambung dan tertinggi, bahkan jauh di atas Bunda Sigalo-galo. Apakah mungkin ini soal uang juga? Ah, ini yang menarik. Sebab, tokoh utama partai ini pernah berujar. "Uangmu jika tak terkendali seperti itu, adalah harimaumu." 

Status di facebook Bang Djadjat ini saya kutip sebatas untuk pepeling. Bahwa langkah yang masih panjang dan penuh potensi, jangan sampai terperosok mengikuti pendahulunya yang jauh lebih ngartis, lebih penuh selebritas dan menasional. Terlihat jauh piawai dalam memompa popularitas meski akhirnya terjebak di terali besi akibat ketidakcermatan membaca langkah maju sebagai calon dalam pemilihan gubernur.

Bagaimana mungkin, anak yang baru kemarin sore berkuasa mendadak mampu menabur uang di semua lini, merilis dukungan-dukungan kiai besar meski ada yang kemudian diralat sendiri karena Pak Kiai marah dan membantahnya. Jangan disamakan kemampuan meredam kasus misalnya, ketika mengerahkan ribuan pelajar untuk ajang kampanye parpol yang baru masuk dan ujug-ujug jadi ketua ini bisa efektif ketika serangan mulai datang dari luar daerah kekuasannya. Ngurus traktor yang bantuan pemerintah pusat saja petani yang memenangkan dirinya masih diminta tebusan kok, mau didukung untuk yang lebih besar. Ingatlah, penyesalan itu datangnya belakangan. Jangan sampai yang mestinya bisa berkuasa lima belas tahun, hanya karena mendadak jadi ular krokos, kehabisan nafas dan mesti terjungkal. Jatuh ketika terjungkal itu jauh lebih menyakitkan dibanding terpeleset. Dan teori seseorang bisa terjungkal itu sederhana. Yakni, didorong orang dekatnya atau kursi yang akan diduduki, digeser atawa diambil teman dekat yang dipercaya.

Kenapa mesti diingatkan? Saya baru pertama kali bertemu dan menatap sorot matanya. Sekitar akhir 2013. Ketika bertemu itulah, dia minum obat tolak angin dan tutur katanya sangat manis. Satu hal yang saya yakini sebagai postulat, tembung manis itu lamis

Di tengah pencarian saya tentang apa kesalahan dan rasionalisasi agar dirinya mengkaji ulang semangatnya maju menggayuh jabatan yang lebih tinggi itu, dengan mudah ternyata sudah bersliweran di lini masa. Foto surat tentang bagaimana, bawahannya sendiri melaporkan darimana dirinya mendapat sumber uang yang terlihat tak ada habisnya itu. Tentu saja persoalan jual beli jabatan yang tarifnya sampai dua miliar itu benar atau tidak, bukan urusan kita. Urusan kita adalah mencari gubernur yang ideal. Bagaimana ciri-cirinya? Satu hal yang pasti, bukan bermental ular krokos. Namun yang mestinya merumuskan itu ya akademisi dan para aristokrat kita. Yuk, kita tunggu sikap para intelektual dari kampus terutama Itera, Unila dan UIN. Atau sudah jadi profesor kampang semua. :melet:      

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )