Pak Mukri, Pak Harto dan Ashabul Ukhdud
01 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 200 kali

SEBAGAI orang yang lahir 82, beruntung. Sebab merasakan pemerintahan Soeharto. Tahu bagaimana ketokohan seseorang mampu menjadi bius, sehingga banyak mempermaklumkan langgengnya kekuasaan.

Termasuk di era itu, kita bisa menghafal semua nama menteri, hafal GBHN, UUD 45 dengan setiap pasal-pasalnya dan tidak ada yang tak hafal Pancasila.

Beberapa ayah teman saya justru kelewat gila mengagumi Pak Harto. Hal itu bisa dilihat dari nama-namanya. Ada yang Suhartono, Suharno, Suharto, Soeharto, Suhartino, termasuk yang perempuan. Diberi nama Suhartini, Suhartinah, Suhartinem dan berbagai nama sejenis.

Seorang teman, bahkan tidak mau membaca buku lain selain biografi Soeharto yang ditulis Ramadhan KH. Dua jilid buku tebal-tebal itu, bahkan sering menjadi bantal tidurnya ketika kami menjadi gelandangan dengan kontrakan 3 kali 4 meter dan diisi orang lima.

Mungkin Pak Mukri mau menjadi Soeharto? Entahlah. Saya menemukan beberapa jenis kesamaan dalam alur kepemimpinannya. Mampu hegemonik, mampu mengendalikan keadaan, sekaligus mampu berusaha memaksimalkan semua potensi termasuk rencana memperpanjang kekuasaan di dalamnya.

Ini jika benar, bakal ada pergantian statuta pada pemilihan 
Rektor UIN Raden Intan.

Intinya, kita perlu mendukung IAIN menjadi UIN namun harus berani menolak Pak Mukri jadi Rektor kembali untuk periode ketiga. Atau kita akan menemukan kebenaran adagium Lord Acton. :-) Bukankah bisa saja berdalih dua periode itu aturan IAIN, kalau bertambah sekali lagi jadi Rektor UIN, seharusnya boleh. Nah, di sini nanti akan 
berulang, bukankah aturan hanya menyebut Pak Mukri baru sekali jadi Rektor UIN, boleh dong dua kali? Lengkaplah, beliau jadi sejarah, menjabat rektor sampai empat periode.

Ide-ide dan interpretasi ini muncul setelah saya berbincang dengan seorang intelektual muda yang cukup bernas, membawa aras baru dalam beberapa kultur pengajaran di IAIN. Kami saling berpamit sebab sudah malam. Sebab, tak mau larut pada kupasan yang sifatnya personal.

Ternyata, perbincangan soal IAIN tak berhenti. Selain ada kabar nanti siang ada kuliah umum Pak Kapolda di kampus yang luar biasa indah itu, seorang ideolog, demikian saya sebut menculek mata saya agar melafazdkan Surat Alburuj. Tentu saja, banyak yang telah lupa sebab jarang salat menggunakan surat-surat panjang macam itu lagi. Bahkan, saya memukul kening berkali-kali kenapa bisa lupa. Sampai kemudian beliau menuntun pengucapannya.

Seketika saya terkejut, ini bukan soal hafalan Alburuj namun ini adalah soal Ashabul Ukhdud yang ada di ayat empat.

Saya awalnya kaget ketika, seperti diinterogasi tentang kebaikan IAIN, kekurangan, demo, infak, dan berbagai macam hal termasuk sisi-sisi paling personal sejumlah nama, tokoh-tokoh yang sebenarnya, saya kagumi karena sukses.

Dengan berapi-api, teman saya menyatakan, Pak Mukri tidak sama seperti orang-orang yang membuat parit untuk membakar banyak orang. "Kalau saja beliau datang menjenguk mahasiswa yang digebuk dan membuat pernyataan secara tegas, saya minta maaf atas berbagai kejadian ini, saya juga sebagai rektor akan menanggung semua beaya, bla..bla..," kata dia.

Ada sisi kebenaran dalam caranya memadamkan api. Nah, bagaimana ketika momentum itu sudah terlewat? Teman berbincang saya secara tegas menyatakan, ashabul ukhdud.

Kalau Anda belum tahu apa itu ashabul ukhudud, baiklah sedikit saya kutipkan ceritanya dari google. Lebih lengkap ada dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Dulu, ada anak muda yang ditugaskan raja agar mewarisi ilmu sihir pengawalnya. Sebab, tukang sihir itu sudah tua, butuh pewaris.

Anak muda itu kemudian berlatih pada tukang sihir. Namun setiap berjalan hendak belajar sihir, anak muda itu selalu mendengarkan ceramah seorang rahib yang berada di tengah perjalanannya. Sering terlambat dan marahlah tukang sihir. Dipukulnya anak itu.

Anak muda itu mengadu pada rahib. Disarankan, katakanlah, keluargamu menghalangimu, yang membuat terlambat. Bila takut pada keluargamu, katakan juga kalau tukang sihir 
yang mencegahmu sehingga terlambat pulang.

Suatu ketika, ada binatang buas yang sangat besar menghalangi jalan. Orang-orang tidak bisa lewat. Anak muda itu bergumam. "Pada hari ini akan aku buktikan apakah tukang sihir itu lebih utama dari pada rahib, ataukah sebaliknya.” Diambil batu dan sembari berdoa. “Ya Allah, apabila perkara rahib lebih engkau sukai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas itu.” Dilempar batu, binatang yang menggangu lalu lalang orang itu pun mati dan orang bisa lewat kembali.

Anak itu bercerita pada rahib dan diberi pesan, itu capaian iman yang akan diuji. Sampailah dia punya kemampuan menyembuhkan penyakit kusta, orang buta dan berbagai macam penyakit.

Kesaktian anak itu didengar teman duduk raja yang buta. Anak itu berkata, tak bisa menyembuhkan kecuali teman raja itu beriman serta berdoa pada Allah. Sembuhlah dia, dan ketika kembali duduk bersama raja, terjadi dialog siapa yang menyembuhkan. Merasa tidak lagi dipercayai sebagai Tuhan dan sesembahan teman duduknya, murkalah sang raja. Disiksalah temannya sampai berhasil menunjukkan sang rahib dan anak muda itu.

Karena enggan mengubah keimanan pada Allah, teman sang raja digergaji dari kepala sampai tubuhnya terbelah jadi dua. Meninggal seketika.

Giliran sang rahib, begitu juga. Tak mau mengakui raja sebagai Tuhan, maka digergajilah dari kepala sampai terbelah, meninggal juga.

Ketika giliran anak muda itu, raja juga meminta hal yang sama. "Berhentilah dari keimananmu."

Anak muda itu juga menolak. Kemudian ia dilemparkan pada sekelompok prajurit raja dan diperintahkan agar dibawa ke gunung, jika tidak mengubah keimanannya, lemparkan anak itu dari gunung.

Sampai di gunung, anak muda itu berdoa. “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Tiba-tiba gunung terguncang, prajurit tangguh raja berguguran, semuanya mati.

Anak itu kembali menghadap raja. Semakin murka sang raja dan meminta sekelompok prajurit kembali membawanya naik sampan ke tengah laut. Jika anak itu mau berhenti dari agamanya, 
selamatkan dia, jika tidak, lemparkan sampai tenggelam.

Anak itu kembali berdoa dan selamat, semua prajurit raja, mati. Anak itu kembali menemui sang raja. Terkejut, raja bertanya. “Apa yang terjadi pada para prajurit itu?” Sang anak menjawab; “Allah telah menjagaku ”

Kemudian anak itu, bisa jadi karena kasihan atau mencegah lebih banyak korban, berkata pada sang raja. “Sesungguhnya engkau tidak akan pernah bisa membunuhku, kecuali bila engkau mau menuruti permintaanku.”

Sang raja memenuhi permintaan anak itu agar mengumpulkan semua manusia di suatu tempat. Lalu disaliblah anak itu di pohon, ambillah satu anak panah dari tempat anak panahku, kemudian panahlah dengan membaca. "Bismillah robbil ghulam."

Sang raja menurut, memanah dengan mengucapkan bismillah robbil ghulam. Meninggallah anak itu dengan disaksikan orang ramai. Anak muda yang mati itu seketika membuat 
banyak orang langsung mengucapkan, dengan nama Tuhan anak itu, kami beriman pada Allah. Rabbnya anak itu.

Raja semakin murka, seperti diejek,sebab apa yang dikhawatirkan justru terwujud ketika anak itu mati. Semua orang telah menolak menuhankan raja. Semua orang ikut pada agama anak yang telah dibunuhnya.

Raja itu bukan sadar, justru marah agar semua prajuritnya membuat parit-parit yang luas dan panjang kemudian dilempar kayu bakar, api menyala-nyala, dia bersabda. “Barangsiapa yang tidak mau kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam parit.” Sehingga dikatakan; “Lemparkanlah!” mereka pun melemparkan seluruhnya.

Sampai datang seorang wanita bersama bayinya, wanita itu pun ketakutan dan berputus asa, lemas di bibir parit yang apinya menyala berkobar-kobar. Tiba-tiba sang bayi berucap. "Wahai ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau dalam kebenaran!”

Teman berbincang, menghela nafas dan mengajak agar membayangkan kalau Pupung adalah anak muda itu dan Pak Mukri seperti Sang Raja dalam kisah ashabul ukhdud. "Kebenaran 
memang terkadang sering terombang-ambing, namun yakinlah, kebenaran yang akan menang," kata dia.

Saya kaget, sudah hampir subuh. Maka saya izin pulang dari rumahnya. Ah, tidak mungkinlah kiranya Pak Mukri seperti Pak Harto yang ingin melanggengkan kekuasaan, apalagi mirip Raja Najaret di kisah ashabul ukhdud. Beliau kan orang yang sudah beriman. Entahlah. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )