Baliho Seker Mustafa dan Mulang Tiyuh Bustami
24 April 2017 by: Redaksi - Dilihat 337 kali

PERIODE awal diluncurkan gerakan Mulang Tiyuh oleh Bupati Waykanan cukup mengejutkan sensibilitas publik. 

Banyak yang menganggap Bustami Zainudin sebagai tokoh muda dari ujung provinsi itu bakal berkarier moncer di ranah politik. Sebab, tercatat dia mampu melenggang jadi bupati baru setelah satu periode jadi wakil. Yang dikalahkannya, putra bupati dua periode yang juga seorang camat. Semua birokrat dan mesin kepegawaian seolah sudah dimobilisir lawannya. Takdir menyatakan lain, wakil bupati yang terkesan berkampanye apa adanya itu menang. Jadi bupati dan langsung membuat gerakan Mulang Tiyuh.

Kemudian, ada sederet gerakan turunan dari Mulang Tiyuh itu, ada pertemuan di Jakarta, dibuat buku, lagu, sampai jadi obyek penelitian untuk skripsi calon sarjana. Akan tetapi, soal baliho di bundaran gajah yang berada di tengah Kota Bandarlampung, kenapa Mulang Tiyuh memasang wajahnya, bukan esensi gerakan, seolah sudah dipesan khusus dan hanya milik Bustami Zainudin, saya termasuk orang yang sedikit cerewet ketika itu. Pakai APBD atau uang pribadi bupati?

Dijawab dengan tegas oleh Kabag Humas Waykanan, baliho foto Bustami di Bundaran Gajah itu pakai uang pribadi.

Karier moncer Bupati Bustami semakin mantap dan meyakinkan setelah aklamasi menjadi Ketua DPC PDIP Waykanan. Anak muda yang pernah berkiprah di Jakarta dan pernah jadi anak kesayangan Agung Laksono, berdarah Partai Golkar itu mengawali kiprah di PDIP.

Dampaknya, ternyata di luar dugaan. Orang Golkar dan sederet pendukungnya ketika masih jadi Wakil Bupati berbalik arah. Menyerang. Sementara kader PDIP, seolah setengah hati membelanya. Puncaknya, Bustami yang sukses mengalahkan anak bupati di periode pertama, kalah oleh anak tukang (mungkin tepatnya juraga) kebun karet di periode kedua. Kekalahan yang cukup menyakitkan. Kalah di tengah ucapan-ucapan congkak ketika masih jadi bupati. "Siapa pun yang bakal melawan saya pasti kalah, kalau pun menang pasti ngos-ngosan." Kalimat itu kabarnya, diucapkan langsung Bustami Zainudin meski kalau ditanya sumbernya, saya bingung sebab lupa, entah darimana.

Kemana Bustami setelah kalah Pilkada Waykanan dalam posisi incumbent itu? Hilang. Dan menariknya, langkah Bustami itu nyaris sama, dicontoh dan dijiplak Bupati Lampung Tengah, Mustafa.

Jika Bustami pakai gerakan Mulang Tiyuh, Mustafa pakai ronda. Pindah dari Golkar ke PDIP, Mustafa memilih dari Golkar ke Partai NasDem. Sama-sama memulai karier dari Wakil Bupati. Sama-sama punya semangat narsis di baliho di tengah Kota Bandarlampung. Daerah di luar kekuasaan mereka untuk mengejar citra yang menurut mahasiswa komunikasi ketika magang di kantor koran. Norak.

Norak dan narsis yang sama kualitasnya dengan bekas bupati, yang karena minim prestasi, demi popularitas dan citranya membuat ucapan selamat ulang tahun jadi iklan dan tentu saja dibayar pakai APBD. Cara lucu  yang membuat para calon sarjana komunikasi itu terpingkal-pingkal.

Apa beda baliho Mulang Tiyuh Bustami dengan baliho seker Mustafa di tengah Kota Bandarlampung yang ada di dekat Museum Lampung itu? Sampai apa beda lagu dan buku Mulang Tiyuh dengan ronda yang ditambah dengan senam, yang diakui sebagai citra Mustafa? Akankah keduanya sama-sama jadi tokoh potensial yang mati muda? Mungkin benar, mungkin juga tidak.

Mustafa bakal mati muda jika memenuhi tiga syarat ini. Pertama, memaksakan diri untuk tampil sebagai "satria paninggit" menurut istilah Pimred Lampung Post ini, tanpa daya dukung kebatinan dan spiritualitas akan menjadi bahan tertawaan masyarakat "hijau".

Kita ketahui, ciri utama pemimpin yang punya kriteria satria itu tidak memakai citra palsu. Dia dianggap pemimpin dan terlihat sebagai orang paling menonjol di tengah komunitasnya. Namun tampak biasa saja dan sama sekali tidak mengesankan dirinyalah sang pemimpin oleh komunitasnya. Dia hadir langsung ketika ada warga yang dipimpinnya kesusahan. Dia tampil dimuka menyelesaikan masalah warga.

Semua itu dilakukan dengan sikap tulus melayani. Bukan untuk dipublikasian sebagai alat citra . Apalagi jika demi legitimasi untuk mengambil jawaban. "Siapa tokoh muda yang lebih layak dibanding Mustafa?" sebagaimana diucapkan para pendukungnya.

Baru sehari saya membuat status "mari menolak Mustafa" mendadak muncul langsung keluhan warga soal rumit dan mahalnya membuat layanan kependudukan yang pernah dibanggakan, lalu diberitakan gratis. Itupun tidak selesai. Lalu para pendukungnya dengan lantang dan gagah perkasa bilang. Masyarakat bodoh, sok sibuk, dan semacamnya. Ternyata ini kunci utama Musatafa bukan satria paninggit itu. Gaya preman bukan saja dilakukan dalam mengurus birokrasi, bahkan sudah dilakukan para pendukungnya.

Kedua, warga adalah struktur masyarakat yang butuh pengasuhan, kasih sayang serta sederet pelayanan lain. Tidak ada masyarakat bodoh dan dianggap sok sibuk jika dia memakai jasa calo untuk membuat KTP. Ini sudah secara gamblang diceritakan Ary Nurohman. Apa fungsi KTP di negara ini? Selain bikin ruwet dan untuk mengais-ngais cari kerjaan?

Jangankan di Lampung Tengah, di kotamadya, ibukota provinsi, Bandarlampung ini, tetangga saya, sudah menetap dan beranak pinak lebih 25 tahun masih mengeluh soal pembuatan akta kelahiran dan surat-surat kependudukan lain. Terutama jika butuh cepat. KK dia misalnya, baru setahun sudah 4 kali ganti dan selalu bayar. Dimulai dari salah ketik nama istri, lalu nama dia, anaknya, sampai nama ibunya yang awalnya benar jadi salah di KK yang keempat kalinya. "Kalau tidak untuk mengurus KUR, malas buat surat-surat model ini," kata dia.

Menariknya lagi jawaban pegawai di kelurahan. "Kalau gratis dua bulan Pak, kalau mau cepat, dua hari biayanya seratus ribu."

Kejadian model ini sudah biasa dan lazim, tinggal diakui dan siap dibenahi. Kok, pakai ngancam-ngancam dan membodoh-bodohkan warga. Lak asu. Kayak begini kok ngaku satria paninggit.

Ketiga, menolak Mustafa layak dijadikan gerakan masif. Seperti masifnya senam ronda yang semua petugas kecamatan merasakan geliat dan intimidasinya. Bukan untuk jalan menghalang-halangi seseorang jadi calon gubernur. Melainkan agar tertata sistem orang yang maju sebagai calon gubernur itu benar-benar punya ketulusan untuk mengabdi membangun daerah. Tak perlu berlebihan memantas-mantaskan diri jika memang belum pantas. Mereligiuskan diri dan dianggap dekat dengan kalangan santri kalau sebenarnya preman. Pakde Karwo itu bukan santri dan bukan keturunan kiai besar tapi ternyata bisa jadi gubernur di lumbungnya kota santri? Kalau mau sedikit saja berkaca.

Jokowi itu kalah jauh dibanding Hatta Rajasa yang aktivis masjid Salman ITB kalau perbandingannya tingkat religiusitas dan kesalehan beragama. Nyatanya, Prabowo-Hatta kalah pada Pilpres 2014 lalu di Lampung? Maka pertanyaannya, Mustafa ini ingin mengikuti Mulang Tiyuh-nya Bustami atau mau jadi Gubernur Lampung? Kalau mau jadi gubernur, layani dulu, kami masyarakat Lampung Tengah satu periode penuh, sesuai sumpah dan janji jabatan atau orang-orang Lampung Tengah sendiri, tidak memilihnya?

Namun jangan khawatir, dalam politik itu orang bisa mati berkali-kali. Apalagi dalam kultur politik yang kumuh dan keruh. Memang benarlah, orang-orang yang tak punya malu dan bermental badak sering dianggap dan seketika, mendadak, ujug-ujug, welgeduwelbeh, menjadi tokoh. Istilah politikus ikan lele, makin keruh dan jorok kolamnya, makin rakus makan dan trengginas gelagatnya. Salam Perubahan. Tapi bukan Mustafa. :melet:

  

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )