PRODUK China, sekarang adalah bentuk penghinaan. Sebutan untuk mengejek bahwa barang yang dimiliki, berkualitas rendah, harganya murah, serta mudah rusak. Misalnya sepeda motor, ponsel maupun berbagai peralatan elektronik lain. Akan tetapi, bagi anak-anak Spontan di era 80an, made in China adalah lambang gengsi dan menunjukkan kelas. Sepeda RRC dikenal paling mahal, batangan dan rangka besinya kokoh, slopnya kuat dan membuat empunya menepuk dada. "Sepedaku ini asli produk China." Kadang disebut juga RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Begitu juga jenis ban-nya, RRC jauh lebih mahal dibanding merk ban lain.
Anak-anak memakai baju baru, juga disebut sedang lebaran China. Masih beraroma Cino. Bajunya China. Sedangkan kalau bajunya jelek, disebut "Gombale Mukio."
Vokabuler warga Spontan, menyebut rumah-rumah yang punya pagar sebagai "Rumahnya China". Maka, umumnya perumahan di Spontan, tak punya pagar. Jika pun ada, pasti dari tanaman sejenis rumpun bunga atau batang dahan yang tumbuh berjajar rapi, kalau tidak salah dinamakan Clementis. Dipapras ranting dan daunnya setiap tiga bulan sekali untuk mempertahankan keindahan dan kerataan pagar hidup itu. Rumah-rumah warga Spontan, asri. Meski terbuat dari geribik dan panas, tanpa punya kipas angin maupun minuman kulkas yang maha anyes. Warga Spontan selalu punya minuman dingin yang sangat segar. Yaitu air putih yang didiamkan dalam kendi.
Bertamu di rumah warga Spontan, pasti ditawari minum. Jika dianggap terhormat dan tamu penting, pasti terhidang minuman panas. Teh maupun kopi. Kalau dibiarkan, bahkan tak ditawari minum sama sekali, pasti empunya rumah akan dikenal dengan sebutan. "Cino ireng." Orang China yang berkulit hitam adalah sinonim untuk menyatakan seseorang itu sangat pelit atau kikir.
Siang hari, tak ada warga Spontan yang mengungkung diri dalam rumah. Semua turun ke sawah. Termasuk anak-anak dan kaum perempuan. Jika ada yang mengurung diri dalam rumah, masih berkain sarung. Bisa dipastikan sedang sakit. Jenis apa pun sakitnya, disebut "masuk angin." Sebelum ada dekolgin atau obat warung sejenis aspirin dan paracetamol mereka pakai obat-obat yang diracik dukun kampung. Biji sawi, brutowali, kencur dan kunyit.
Sakit, bagi orang kampung di permukiman Spontan adalah waktu istirahat. Tidak pernah lebih dua hari dua malam. Lebih dari waktu itu, semua warga pasti membuat olok-olok, dasar China pemalas. Pasti mereka memaksakan diri turun ke ladang atau sawah, meski tak maksimal, memang ada yang kemudian sakit lebih parah. Namun lebih banyak yang flu atau peningnya sembuh setelah badannya mengucurkan keringat.
Soal koreng, hampir semua anak Spontan punya. Beberapa diantara jadi borok dan basah. Keluar nanah. Barulah dibawa ke Mantri Desa, obatnya pun tak macam-macam. Pasti pinisilin. Ada yang disuntik di pantat dan ada yang dioleskan di korengnya memakai bulu ayam yang sudah dibersihkan dan disisakan sedikit bulu di ujungnya. Jangan heran, jika di semua betis, lutut, dak seputar kaki anak Spontan ada bekas koreng. Kalau ada kaki lelaki warga Spontan namun mulus seperti kaki meja, tanpa gambar biji melinjo, pasti diolok-olok kakinya China. Anakan Cino. Lantas apa masalahnya sentimen rasial macam itu?
Intinya, warga Spontan menjadikan bahan dari China sebagai lambang gengsi namun menyematkan orang China sebagai ejekan. Sepeda China, puji-pujian. China ireng, ejekan.
Sekarang sejak era 2000an, terbalik, barang China, ejekan. Orang China, puji-pujian. Pekerja China, pemimpin keturunan China, banyak yang memuji sampai menanggalkan akal sehat. Namun barang dari China seperti ponsel, sebagai penghinaan. "Kok fotonya buram, apa hapemu merk China?"
Dan hampir di semua permukiman orang Spontan, di pasar atau pusat perempatan kampung yang paling ramai sejak tahun 70an, sudah ada warung yang dimiliki orang-orang China. Mereka sangat fasih menggunakan bahasa lokal meski dengan keluarganya pakai bahasa ibu. Jika ada edaran untuk membangun masjid, toko milik orang China dilewati, mereka marah. Langsung memanggil pengurus masjid dan memberikan bantuan yang jauh lebih besar dibanding jimpitan warga. Pada urusan-urusan politik kampung seperti Pilkades, mereka abstain. Tak pernah ikut memilih termasuk pada waktu pemilu. Namun gelombang apatisme politik berubah ketika Pilpres 2014. Semua warga yang masih keturunan China, berbondong-bondong antre di TPS. Ikut memilih dan banyak yang mengaku baru pertama kali ikut pemilu.
Toko-toko orang China di permukiman warga Spontan, sudah tidak ada. Mereka sudah berkelompok di pusat-pusat perkotaan, dekat pantai, punya toko-toko besar dan berpendingin ruangan. Yang terjun di gelanggang politik punya mall dan pusat kebugaran. Kemana-mana selalu bilang. "Kemerdekaan RI tak bisa dilepaskan dari perjuangan orang-orang Tionghoa." Politisi itu diletakkan dalam nomor urut berapa pun dari parpolnya ketika maju sebagai Caleg, selalu menang dan duduk sebagai anggota DPRD. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment