Iktikaf Saya dengan Nonton Film
25 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 688 kali

PADA kajian Ramadan di Menteng, entah tahun berapa, saya lupa. Buya Syafii Maarif ketika itu jadi pembicara, ketika sampai sesi dialog, ada peserta yang punya janggut panjang, celana cingkrang dan ada tanda hitam di jidatnya menyangkal semua dalil pembicaraan Buya.

Sebagai penanggap pertama dan terakhir itu, langsung ditanggapi Buya Syafii Maarif dengan pernyataan ketus. "Saya sudah malas bicara soal khilafah dan negara islam." Beliau langsung beranjak meninggalkan ruangan diskusi. Otomatis, acara langsung bubar, banyak yang ikut ke luar ruangan.

Malam ini saya langsung mengingat-ingat beberapa point pertanyaan peserta itu. Kalau tidak salah, seputar hukum islam dalam negara islam, pentingnya khalifah dan pemerintahan islam yang semuanya dijelaskan Buya Syafii tidak kontekstual, Indonesia sudah cukup baik sebagai negara bangsa untuk berkiprah bagi umat islam sebagai media menjadikan masyarakat utama dalam dakwah kebangsaan.

Penanggap menghujani Buya Syafii dengan dalil-dalil dan condong menyalahkan.

Usai menonton film Imam Hasan bin Ali, baru saya memahami kemarahan Buya Syafii. Tentu disertai bacaan "Memoar Anak Kampung" yang berisi seputar pemikiran-pemikiran islam, keindonesiaan dan parpol islam oleh Syafii Maarif.

Ada salah satu hadist Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan. "Khilafah sesudahku 30 tahun. Setelah itu akan muncul raja-raja." Secara gamblang diungkapkan dalam film Imam Hasan bin Ali.

Dimana menurut Ibnu Katsir pada al-Bidayah wa-Nihayah, Hasan bin Ali dibaiat ketika bulan Ramadan, setelah Ali bin Abi Thalib meninggal pada malam Nuzulul Quran, 660 Masehi.

Ada potret yang jelas pada kerajaan dalam kepemimpinan Muawiyah pada film itu. Terutama setelah Hasan bin Ali memerintah kurang dari satu tahun, kemudian undur diri dan menyerahkan kekuasaan Amirul Mukminin pada Muawiyah bin Abu Sofyan.

Periode menarik dari ancaman perang antara Imam Hasan dan Muawiyah adalah ketika umat muslim terbelah dua. Pendukung Hasan dan pendukung Muawiyah, nyaris terjadi pertumpahan darah. Beberapa suku, dilobi Muawiyah agar mendukung kekhalifahannya, banyak yang menolak. Namun, karena kekayaan Damskus yang dipimpin Muawiyah, kabilah-kabilah banyak yang memilih netral. Sikap netral yang tidak berpihak pada Hasan atau Muawiyah itu pun, diberi kompensasi. 500 dirham. Dan gaji 300 dirham bagi kepala suku setiap bulan.

Beberapa loyalis dan pecinta Ali bin Abi Thalib, mengutuk para kabilah yang menyatakan netral dengan sebutan kaum munafik yang menjual ahlul bait, memilih menukar kecintaan pada Abu Muhammad SAW dengan beberapa keping emas. Dalam film itu, orang yang netral sama jahatnya dengan perusak islam.

Saya jadi teringat, sebuah candaan seorang teman. Ketika ada sahabat kita yang sedang maju, dan kita menyatakan berposisi netral, maka yakinlah, dia secara tegas menyatakan, tidak sedang membela sahabatnya. Dia sedang mendukung lawan sahabatnya. Seperti kabilah fusi, yang karena sikap netralnya, dibayar Muawiyah.

Diktum itu berlaku dalam semua hal. Kenetralan sikap yang diungkapkan, sebenarnya sebuah pembelaan dan dukungan pada lawan.

Saya sepertinya kesulitan sekali memahami, kenapa masih ada orang yang sedemikian senang dengan penderitaan orang lain dan sedih dengan kesenangan orang lain di era yang sangat terbuka macam sekarang. (*)

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: "ca-pub-1095446486393148",
enable_page_level_ads: true
});
</script>

 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )