Zaman Teklek, Lili, Skol, Karpil sampai Nyuera
26 Mei 2016 by: Redaksi - Dilihat 335 kali

SAYA sudah hidup di zaman teklek dan mengecap pergantian musim, kegumunan dan kegilaan anak-anak muda sampai kini yang sudah masuk zaman nyuera.

Setelah zaman nyuera, tidak ada lagi suasana yang benar-benar mencerminkan tren sebuah sandal. Semuanya produk tiruan atau penyempurnaan musim untuk sekadar menyempurnakan fungsi.

Zaman nyuera itu, ketika orang kritis, berani, fasih bicara, termasuk di dalamnya pintar baca tulis, bukan sebuah keunggulan. Pada ukuran tertentu, justru disebut orang- orang brengsek. Lalu dihabisi kredibilitasnya, agar sebenar apa pun capaian atas kritik, keberanian, kefasihan dan kedalaman pengungkapan, menjadi semacam kotoran yang keluar dari dubur. Tidak berguna dan mesti segera disiram, di kubur dalam- dalam.

Apa kemudian yang disebut kebenaran dari mulut? Semua yang lembut menyenangkan. Itulah ukuran kebenaran di zaman nyuera.

Kemudian, orang-orang mulia dan terhormat sudah dikapling hanya khusus untuk para politisi. Tentu saja, politisi yang tidak kritis, yang tidak punya keberanian, bicaranya pelo atau sebatas lembut menyenangkan, dan rabun baca tulis.

Orang yang mampu bicara dan berani menyerang seseorang yang "terhormat" itu kemudian disebut tendensius dan bisanya cuma omdo meski yang disuarakan adalah kebenaran. Di sisi lain, orang yang lembut bicaranya, terus-menerus mengeluarkan puji-pujian, melihat semuanya dalam perspektif positif meski terkadang membuat geli serta konyol. Kita menyebutnya, loyal dan punya dedikasi.

Sopan santun dimaknai seperti sandal. Hingga semua terjebak memberi makna yang sama atas senyum sinis pembunuh berdarah dingin atau senyum yang disebut, menggembirakan orang lain.

Orang tersenyum saja, sekarang ini jadi metoda bohong paling mujarab dan didorong pertimbangan rugi laba. Orang yang ramah dan lembut tutur katanya, seperti dilakukan operator seluler, sales, dan tukang gendam itu, jauh lebih mulia dibanding orang yang mendelik sebab mengingatkan atau bahasa orang-orang aneh itu disebut, tawasobilhaq tawasobisobri.

Semua terjadi dan bermula karena kita selalu menganggap, tidak ada orang yang bersuara keras itu membagikan berkat gratis.

Lihat saja para pengundang kenduri, semunya halus dan lembut, penuh permohonan. Sedangkan orang yang bersuara keras, khusus milik tukang sate. Teik, teik, teik...yang dengan gagah menawarkan, kalau ingin makan enak, harus membeli.

Kebaikan dan kelembutan kenduri, telah diambil dan dicopet para penipu. Sehingga kita sulit bahkan tak bisa menemukan di antara tutur lembut yang mengundang kenduri dengan tutur lembut yang digunakan untuk menipu.

Sampai-sampai kemudian, muncul postulat tembung manis iku lamis. Omongan lembut itu pasti berniat menipu.

Termasuk dalil, para penipu yang tutur katanya lembut menyatakan mencontoh Nabi. Dia lupa, Nabi itu sikapnya jelas. Kadang lembut, terkadang keras. "Lemah lembut pada orang mukmin dan keras pada orang kafir."

Artinya, ukuran akhlak mulia sudah tereduksi sedemikian rupa. Sebatas orang yang lembut tutur katanya, tambah memesona kalau dipoles dengan ketika jalan tertunduk-tunduk, lalu bibirnya tersenyum, dimana lebar dan ketipisan telah diatur agar tampak manis.

Semua itu, bisa kita lihat benihnya mulai tumbuh sejak zaman teklek. Zaman dimana sandal yang terbuat dari kayu pule dan menggunakan karet sebagai pengait sedemikian populer.

Teklek, sangat fungsional dan tepat ketika dipakai pada musim hujan. Ketika jalanan becek dan banyak yang berlumpur. Semua orang memakainya. Saat melintas di latar rumah yang kebanyakan sudah di semen karena untuk menjemur gabah siang hari, suara teklak-teklek begitu memesona. Kadang disengaja untuk lari agar mirip suara kuda di sandiwara radio.

Tak selang berapa lama, sandal teklek ditinggalkan semua orang. Dari anak-anak sampai para sepuh, berganti memakai sandal lili. Sandal dari karet olahan yang lebih lembut, halus dan kadang licin. Lebih awet dibanding teklek. Digemari orang kampung sebab, sandal lili tahan segala cuaca. Ketika berlumpur, bisa dibersihkan. Pada musim kemarau, ringan dan efektif.

Sandal skol, karpil dan nyuera sebenarnya hanya sebuah produk yang lebih menaikan kelas pemakai sebagai anak yang mecerminkan modernitas. Sandal dari olahan kulit, campuran karet dan kain yang halus dari tiga jenis sandal itu, pernah mengalami kejayaan yang urutannya, pasca sandal lili adalah skol, karpil, nyuera dan semacamnya. Namun di kampung kami, merk-merk selain itu, hanya tiruan model ketiganya, baik bahan maupun jenisnya.

Sebagai produk tiruan, tentu jangan berharap bisa masuk mewarnai zaman. Dan sebagai produk modern, jangan berharap dipakai orang-orang tua.

Namun demikian, di atas semua itu, ada sandal yang kehadirannya melintasi zaman dan dipakai meski tak pernah dominan menjadi mainstream. Termasuk mampu menembus skat antara kota dan desa, anak kecil, muda dan orang tua. Yakni, sandal cepit.

Jika teklek, lili, skol, karpil sampai nyuera adalah partai politik. Sandal cepit adalah PKI-nya. Lihat saja srampatnya, mirip logo palu arit bukan?! 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )