APA agamamu? Pertanyaan ini menjadi relevan dalam konteks kekinian. Selain sebagai identitas sekaligus pembuka ruang dialog untuk bertukar paham. Jika mendengar pertanyaan ini, pikiran saya langsung teringat seorang teman ketika melamar calon istrinya.
Pertanyaan yang diajukan oleh kakek calon istrinya membuatnya gugup. Terlihat dari penampilan dan kelembutan tuturnya, kakek ini seorang muslim yang taat. “Wah saya mah, nasionalan, Pak.” Teman saya lalu menjawab pertanyaan kakek setelah menengok kanan kiri, sambil cengar- cengir.
Ternyata agamanya disebut nasionalan yang berarti generalisasi paham sekaligun inherenitas imanen. “Yah, disebut islam tapi saya tak pernah sholat, bahkan lupa entah pernah sahadat apa belum. Disebut Kristen, saya gak pernah ke gereja. Hindu, saya tidak tahu Hyang Widhi Wase, Budha, bukan juga. Lhah, pokoknya mah, agama saya nasionalan, Pak,” jawabnya tegas, menutupi gugupnya.
Dari situlah, pertanyaan ini menjadi penting sebagai diskursus untuk pemetaan ruang kebudayaan kita. Berapa banyak anak muda yang sigap dan yang gamang menjawab ketika ditanya “apa agamamu?”
Pertanyaan yang diajukan oleh kakek calon istrinya membuatnya gugup. Terlihat dari penampilan dan kelembutan tuturnya, kakek ini seorang muslim yang taat. “Wah saya mah, nasionalan, Pak.” Teman saya lalu menjawab pertanyaan kakek setelah menengok kanan kiri, sambil cengar- cengir.
Ternyata agamanya disebut nasionalan yang berarti generalisasi paham sekaligun inherenitas imanen. “Yah, disebut islam tapi saya tak pernah sholat, bahkan lupa entah pernah sahadat apa belum. Disebut Kristen, saya gak pernah ke gereja. Hindu, saya tidak tahu Hyang Widhi Wase, Budha, bukan juga. Lhah, pokoknya mah, agama saya nasionalan, Pak,” jawabnya tegas, menutupi gugupnya.
Dari situlah, pertanyaan ini menjadi penting sebagai diskursus untuk pemetaan ruang kebudayaan kita. Berapa banyak anak muda yang sigap dan yang gamang menjawab ketika ditanya “apa agamamu?”
Sekarang, bukan hanya berkembang dalam tataran memadukan semua agama sebab takut kalau ditolak calon mertua ketika melamar, yang memang sejak berpacaran agama menjadi tidak penting lagi untuk dipertanyakan.
Di ranah dunia maya pun, kolom agama di facebook misalnya menjadi ajang lelucon. Beberapa hari belakangan ini, ketika online, mengintip status-status teman, yang saya lihat adalah agamanya. Banyak yang tidak diisi. Banyak juga yang mengisi kolom ini dengan, Al-Fesbukiyah, Penyembah Pohon, Hai Fesbuk Agamamu Sendiri Apa, dll, meski banyak juga yang menjawab dengan jujur.
Agama sama dengan kepercayaan
Menilik definisi agama menurut Durkheim (The Elementary Forms of The Religious Life,1965) yang menyatakan agama sebagai;...unified system of beliefs and practices relative to sacred things, that is to say, things set apart and forbidden—beliefs and practices which unite into one single moral community called a Church, all those who adhere to them..
Dari pengertian ini Durkheim menyimpulkan bahwa ada tiga elemen penting dalam agama, yaitu kepercayaan akan sesuatu, bersifat sakral, memiliki praktek keagamaan (ritual), dan kehidupan beragama dalam komunitas.
Meski kata agama “religion” sendiri memang sudah membuat para pemikir kesulitan membuat batasan antara yang disebut agama dan atau aliran kepercayaan.
Hingga seorang Wilfred Cantwell Smith, salah seorang pemikir utama di kalangan pluralis, dalam karyanya Towards A World Theology (1981) beranggapan bahwa istilah agama itu sendiri selayaknya ditinggalkan saja selamanya dan tak perlu dipakai lagi, karena terlalu sulit mendefinisikannya. Lebih lanjut, atas gagasan Wilfred inilah pluralisme semakin berkembang, dia menyakinkan perlunya menciptakan konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan bersama (commond ground) bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat secara damai dan harmonis.
Sebuah teologi dunia atau teologi global sebagai ganti dari agama-agama. Yang dalam mainstream pemikiran teman saya, disebut sebagai agama nasionalan.
Menurut sebagian madzhab pluralisme, agama-agama yang ada sekarang ini memang memiliki corak lokal, dan mendapatkan karakteristik khasnya karena di masa lalu telah terisolasi dari kultur lain. Sekarang, di era globalisasi ini, masalah isolasi sudah teratasi, sehingga agama-agama dianggap layak untuk direkonstruksi dengan mengambil nilai-nilai dari berbagai kultur budaya lokal.
Sebagai ganti dari istilah religion, banyak pemikir di Barat menggunakan istilah religious experience (pengalaman religius). Sebab, agama adalah respon manusia terhadap Tuhan. Mengakui Tuhannya Esa tetapi manusianya macam-macam, maka agamanya pun harus beraneka macam. Didasari persoalan pengalaman religiusnya masing-masing.
Fundamen pemikiran ini menyebut kausalitas, ada yang tenang dengan shalat, ke gereja, ke pura, tetapi juga ada yang merasa tentram setelah menyembah pohon.
Paham Teosofi
Annie Besant (1887-1933), salah seorang penghulu pluralisme dan pendiri aliran teosofi, berpendapat bahwa agama memang diturunkan sejalan dengan tingkat evolusi manusia. Yang tingkat evolusinya rendah mendapatkan agama yang berbeda dengan manusia yang evolusinya sudah mencapai tahap lanjut. Orang-orang bodoh memang agamanya sengaja dibikin beda dengan mereka yang pintar-pintar; itulah kebijaksanaan Tuhan. Ternyata faham teosofi ini berkembang dengan pesat, merambah ke komunitas-komunitas intelektual dunia.
Kesadaran akan prosesi pencarian kedamaian batin, usaha penyelarasan harmonisasi dan kedamaian antar manusia dan alam mewujud dalam tataran paham pluralisme, teosofi, liberalisasi, yang juga merupakan kaidah keilmuan baru untuk pendekatan moralitas manusia. Kemudian dalil ini berkembang ke ranah, pembunuhan terhadap eksistensi Tuhan, yang juga sudah dibukukan dengan judul “Para Pembunuh Tuhan”.
Di sini, kajian terhadap “agama nasionalan” teman saya adalah pembangkangan dan gugatan terhadap kemapanan agama, sebab tata nilainya tak lagi menjadi sesuatu yang urgen untuk dianut. Termasuk desakan globalisasi agar kiranya dibedakan antara aturan agama dengan aturan negara. Agama kembali dihadapkan pada tata nilai yang semakin menyudutkan hingga muncul postulat bagi orang-orang yang taat beragama merupakan orang ndesit, katrok, ortodoks, anti kemajuan, anti globalisasi, asketis, ketinggalan zaman dan lain semacamnya.
Relevansi agama dan keyakinan
Pertanyaan apa agamamu menjadi tidak relevan ketika determinisme pendefenisian agama membaur dalam keyakinan. Sehingga apa keyakinanmu, menjadi pertanyaan yang lebih universal. Ketika menulis ini, sahabat saya juga datang menghampiri dan langsung saya tanya, apa agamamu?
Dia malah tajam menatap saya sambil berkata; “Di KTP islam sepertinya, pertanyaanmu salah, seharusnya, apa keyakinanmu.” Kata temanku dengan mantap. Pertanyaannya, benarkah agama bukan lagi identitas kebudayaan seseorang? Hingga agar lebih modern seseorang tak lagi berkata Islam atau Budha agama saya, tapi nasionalanlah agama saya. Kemudian jika dengan tidak memeluk agama seseorang bisa mencapai innerforce (kekuatan batin), kenapa dia harus beragama? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba penulis jawab dengan sudut pandang orang yang beragama.
Agama sebagai pedoman untuk semakin menegasikan bahwa manusia adalah mahkluk (proses) yang terus berproses. Menaati aturan yang diturunkan Tuhan sebagai risalah untuk dijalankan dalam prosesi kehidupannya. Agama untuk menyeimbangkan ketentraman batin sekaligus dzahir. Agama adalah pilihan, salah satu saja dari sekian banyak pilihan dalam hidup. Untuk teratur atau ketidakberaturan. Bukan soal boleh tidak boleh, apalagi paksa memaksa. Beragama berarti bebas untuk berkeyakinan. Sebab agama adalah juga keyakinan, kulminasi fase dari titik dasar yakin itulah posisi agama berada. Maka tidak ada agama bagi orang- orang yang tidak punya keyakinan.
Mari berdamai tentang agama kita dengan hidup berdampingan tanpa mengusik agama orang lain, kepercayaan orang lain, kebebasan orang lain, dengan mendalami agama kita sendiri, dengan ilmu dan faham kita untuk Indonesia yang damai. (*)
Paham Teosofi
Annie Besant (1887-1933), salah seorang penghulu pluralisme dan pendiri aliran teosofi, berpendapat bahwa agama memang diturunkan sejalan dengan tingkat evolusi manusia. Yang tingkat evolusinya rendah mendapatkan agama yang berbeda dengan manusia yang evolusinya sudah mencapai tahap lanjut. Orang-orang bodoh memang agamanya sengaja dibikin beda dengan mereka yang pintar-pintar; itulah kebijaksanaan Tuhan. Ternyata faham teosofi ini berkembang dengan pesat, merambah ke komunitas-komunitas intelektual dunia.
Kesadaran akan prosesi pencarian kedamaian batin, usaha penyelarasan harmonisasi dan kedamaian antar manusia dan alam mewujud dalam tataran paham pluralisme, teosofi, liberalisasi, yang juga merupakan kaidah keilmuan baru untuk pendekatan moralitas manusia. Kemudian dalil ini berkembang ke ranah, pembunuhan terhadap eksistensi Tuhan, yang juga sudah dibukukan dengan judul “Para Pembunuh Tuhan”.
Di sini, kajian terhadap “agama nasionalan” teman saya adalah pembangkangan dan gugatan terhadap kemapanan agama, sebab tata nilainya tak lagi menjadi sesuatu yang urgen untuk dianut. Termasuk desakan globalisasi agar kiranya dibedakan antara aturan agama dengan aturan negara. Agama kembali dihadapkan pada tata nilai yang semakin menyudutkan hingga muncul postulat bagi orang-orang yang taat beragama merupakan orang ndesit, katrok, ortodoks, anti kemajuan, anti globalisasi, asketis, ketinggalan zaman dan lain semacamnya.
Relevansi agama dan keyakinan
Pertanyaan apa agamamu menjadi tidak relevan ketika determinisme pendefenisian agama membaur dalam keyakinan. Sehingga apa keyakinanmu, menjadi pertanyaan yang lebih universal. Ketika menulis ini, sahabat saya juga datang menghampiri dan langsung saya tanya, apa agamamu?
Dia malah tajam menatap saya sambil berkata; “Di KTP islam sepertinya, pertanyaanmu salah, seharusnya, apa keyakinanmu.” Kata temanku dengan mantap. Pertanyaannya, benarkah agama bukan lagi identitas kebudayaan seseorang? Hingga agar lebih modern seseorang tak lagi berkata Islam atau Budha agama saya, tapi nasionalanlah agama saya. Kemudian jika dengan tidak memeluk agama seseorang bisa mencapai innerforce (kekuatan batin), kenapa dia harus beragama? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba penulis jawab dengan sudut pandang orang yang beragama.
Agama sebagai pedoman untuk semakin menegasikan bahwa manusia adalah mahkluk (proses) yang terus berproses. Menaati aturan yang diturunkan Tuhan sebagai risalah untuk dijalankan dalam prosesi kehidupannya. Agama untuk menyeimbangkan ketentraman batin sekaligus dzahir. Agama adalah pilihan, salah satu saja dari sekian banyak pilihan dalam hidup. Untuk teratur atau ketidakberaturan. Bukan soal boleh tidak boleh, apalagi paksa memaksa. Beragama berarti bebas untuk berkeyakinan. Sebab agama adalah juga keyakinan, kulminasi fase dari titik dasar yakin itulah posisi agama berada. Maka tidak ada agama bagi orang- orang yang tidak punya keyakinan.
Mari berdamai tentang agama kita dengan hidup berdampingan tanpa mengusik agama orang lain, kepercayaan orang lain, kebebasan orang lain, dengan mendalami agama kita sendiri, dengan ilmu dan faham kita untuk Indonesia yang damai. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment