MASUK di permukiman yang disebut Spontan itu kita serasa disodori potret kemakmuran dan ketentraman hidup. Orang-orang asyik dengan pekerjaannya masing-masing. Tidak ada orang yang sekadar duduk-duduk menikmati kopi atau berbincang santai.
Sejak matahari muncul. Semuanya sibuk bekerja. Ada yang berangkat menyiangi tanaman, mencabut rumput, mengoret, mengolah ladang, mengayunkan cangkul dan ada yang sibuk mondar-mandir menyemprot tanaman.
Pagi hari, nyaris tidak ada warga Spontan yang masih bebetan sarung. Semua sudah berpakaian layaknya petani. Kumal dan beraroma tanah. Kaum ibu telah menyelesaikan masak nasi dan lauk alakadarnya sejak matahari belum mengeringkan embun. Anak-anak yang belum sekolah sudah bermain dengan tanah, bareng ayam yang mulai berburu makanan. Tidak ada yang pakai pempers. Minum susu formula atau bersih kial macam anak perkotaan.
Begitu juga sore hari. Semua masih sibuk memasukkan ternak ke kandang, menimba di sumur untuk mandi, mencuci bersih cangkul dan mengasah sabit.
Meski semua rumah sudah punya televisi. Namun pagi hari tidak ada rumah yang televisinya menyala. Jika ada, sekadar pemutar vcd yang mendendangkan lagu khas perdesaan. Tentu saja bajakan yang dibeli di pasar kecamatan. Lagu kompilasi yang berputar tanpa penonton. Lagu-lagu berlirik cabul dan khas, penyemangat orang-orang dusun. Beberapa diantaranya berbahasa daerah.
Sorenya, mereka mencuci bersih sepeda motor.
Spontan adalah dusun. Secara administratif, bagian dari desa transmigran. Spontan adalah sebutan untuk rombongan yang datang belakangan. Di luar peserta transmigrasi yang ikut program pemerintah. Para transmigran mandiri. Merekalah wujud perantau sejati. Dimana kepergiannya, berangkat meninggalkan kampung halaman yang sudah padat penduduk ke area hutan hanya bermodal tekad untuk hidup lebih baik. Sebab, bosan dengan kekurangan. Dua ciri penting warga Spontan. Kalau tidak kurang, wirang. Kurang itu bisa diartikan melarat dan hidup penuh keterbatasan. Wirang sebab aib atau malu tak tertahankan yang akarnya juga akibat kurang.
Terbayanglah, kompleks warga Spontan di era 70 sampai 80an. Mereka hanya memindahkan kemelaratan hidup dari kampung halaman di tanah rantau. Anak-anaknya dekil. Kurang nutrisi dan pasti, serupa lisang. Nylekutdis. Sangat terkenal bengal dan kemaruk. Terkesan, apa saja bisa dimakan. Nyaris tidak ada anak Spontan yang jadi bintang di masjid ketika magrib, apalagi di sekolah.
Jika di sekolah, ada anak yang celana dan baju seragamnya budukan, tak pernah tersentuh setrika. Rambutnya tak pernah beraroma minyak. Giginya grupis. Lengan dan kakinya busik. Punya borok atau bekas luka koreng seperti biji melinjo yang ditempel. Itulah anak Spontan. Bahkan terkenal di seantero Lampung. Di perkotaan maupun di perdesaan jika ada anak semacam itu disebut. "Bocah Spontan."
Anak Spontan merupakan olok-olok yang membuat seseorang inferior. Merasa rendah diri. Meratapi nasib dan benar-benar merasakan, susah dan sulitnya hidup melarat. Anak Spontan adalah doktrinasi yang terlembagakan dalam lisan semua orang desa. Bahwa takdir keterbelakangan menjadi semacam garis yang bisa diprediksi. Tak ada rumus anak Spontan itu sukses. Baik itu pintar di sekolah maupun kaya setelah berumah tangga. Anak Spontan murni bermodal otot dan tubuh kial yang makannya banyak meski hanya mengandung karbohidrat. Tanpa nutrisi. Makanya banyak disebut guru sekolah sebagai anak-anak koplo. Lost generation. Sebab, defenisi enak bagi orang Spontan hanya terbatas pada makan nasi putih yang pulen berlauk sayur daging ayam, sebatas awal bulan Suro dan lebaran Idul Fitri. Lauk itu terasa lezat jika ada micin, garam dan pedas cabenya. Sebatas itu.
Makanan enak bagi orang Spontan adalah banyak. Sayurnya gurih pedas beraroma ketumbar. Maka jangan heran, nangka muda, rebung, pisang muda dan apa pun jenis sayuran yang aneh-aneh, sepanjang pakai santan dan gurih pedas beraroma opor. Lauk terlezat. Lebaran idul adha, seperti kampung dunia lain, warga Spontan tak pernah merasakan daging kurban. Sejak dulu. Beruntung pasca pemilihan langsung, beberapa partai politik mulai mendistribusikan kurban ke area marginal itu.
Orang Spontan sebenarnya mudah dikenali. Jika di suatu tempat melihat orang yang makan pakai lima jari, kepalan yang masuk mulutnya lebih besar dibanding diameter bibir ketika mangap, lalu piringnya menggunung berisi nasi. Itulah anak Spontan yang sedang makan. Setelah makan, duduknya tak lagi bisa menekan perut lalu bersendawa seperti orang mabuk. Itulah "bocah Spontan."
Bagaimana kaum perempuannya? Apakah berbeda dengan gadis desa yang lain?
Sedikit gambaran. Kalau baju yang dikenakan ketika lebaran berwarna mencolok. Bedak yang dipakai terlihat puteh. Bukan putih, meliankan puteh karena beda jelas antara warna pipi dengan lehernya. Rambutnya dikucir namun terlihat pecah dan bercabangnya. Itulah gadis-gadis Spontan.
Sebelum musim jilbab, mereka pakai topi kain dan mencorong warna membara lipstiknya. Terkadang ada rona merah di pipi kanan kiri. Sekarang, banyak yang sudah pakai jilbab. Akan tetapi masih terlihat ubrah-ubruh dan jalannya seperti hendak ikut Posyandu. Sama sekali tidak terlihat gemulai macam gadis sekarang. Gadis Spontan banyak yang jalannya sembari mengepalkan tangan. Tepatnya, setengah berlari bagi gadis perkotaan. Sebab, ada ajaran bagi mereka. Perempuan itu tak boleh klemar-klemer seperti ratu solo. Anak Spontan harus bisa menangkap burung gemak sebelum kepindahan atau hinggap di tempat yang kedua. Maka jangan heran, para perempuan Spontan tak terkalahkan ketika lomba tarik tambang antardusun pada peringatan 17an.
Kampung Spontan sekarang, jauh berbeda. Nyaris tidak ada lagi rumah gribik dan berlantai tanah seperti era 80an. Rumahnya sudah gedong, lantainya keramik. WC cemplung berganti WC sentor. Dikeramik juga. Sumurnya pakai mesin penyedot air. Tidak terdengar lagi suara kreket gerat-geret, kreket gerat-geret orang menimba dan mandi jebyar-jebyur.
Pagi-pagi hampir semua rumah memanasi sepeda motor. Sudah ada yang jadi orang sangat kaya karena tanaman cabai panen ketika dapat harga. Yaitu, sudah naik haji.
Ada juga yang anaknya bisa kuliah ke luar negeri. Di negara yang lidah orang Spontan tak bisa benar mengucapkan namanya. “Kalipornia, Ngamerika.”
Mereka juga sudah punya ponsel yang merasakan dunia dalam genggaman. Bahkan ketika gajah masuk menyerang ladang mereka, sudah langsung difoto dan dibuat video. Termasuk anak mudanya, bisa leluasa nonton video dewasa tanpa sensor.
Anak-anaknya sudah banyak yang kuliah di kota. Punya instagram yang pengikutnya sebanyak selebritas. Ada yang tinggal di ibukota, punya anak yang sekolahnya dintar jemput mobil dan tak pernah mendengar lagi ejekan "anak Spontan."
Akan tetapi di desa ini, olok-olok anak Spontan masih berlaku. Seperti kutukan abadi. Jika hari libur ada anak yang di pasar pakai sepatu berhak tinggi. Lalu bicaranya berlogat melayu sembari sesekali memutar lidah. Sebentar-sebentar melintasi jalan becek dengan berjingkat jijik seraya mengucap, "iihhh, iiihhh…" para pedagang di pasar tetap mencibir. "Kemayu, bocah Spontan."
Begitu juga para lelaki muda, yang menggeber gas sepeda motor tanpa mengindahkan orang yang dilintasinya. Seketika orang mengumpat. "Dasar bocah Spontan."
Memang ada pergeseran makna. Namun demikian, Spontan tetap saja menjadi bahan ejek. Sepertinya, belum lama sebutan anak Spontan itu sebagai vokabuler untuk olok-olok. Sekarang penduduknya sudah terbiasa makan KFC, mie ayam, nonton ajang putri kecantikan, punya televisi dengan chanel berita dan hiburan. Ada yang jadi anggota dewan, kerja di kantor pemerintah, jadi atase, diplomat, dinas di kantor kementerian, serta berbagai profesi mentereng lainnya. Bahkan ada yang sudah punya lintasan balap untuk hiburan semua orang.
Zaman terasa sekali cepat berganti. Anak-anak Spontan yang kekurangan gizi dan selalu ngantuk saat sekolah, meski banyak yang tetap bodoh tapi sudah jadi orang kaya semua. Tidak ada lagi yang makan bulgur, dijatah nasinya, terbatas mengecap lezatnya makanan. Mereka sudah modern. Meski ada yang kelewat maju. Memakai anting bukan hanya di telinga, melainkan di hidung dan di bibir juga. Ada yang rumahnya bergaya yunani, pagarnya dicor dan ditempel batu alam buatan. Ada juga yang menghadiri undangan khitanan, meski tempatnya panas berdebu, pakai stelan jas lengkap dengan dasinya.
Ketika nonton organ tunggal, anak-anak Spontan tidak lagi seperti era 80an melihat layar tancap. Masih berkalung sarung dan kaosnya terlihat bekas ingus yang menghitam di bahu kanan kirinya. Anak-anak Spontan sudah tidak lagi melihat biduan di organ, melainkan berebut duduk dekat salon. Ketika musik ajib-ajib berhenti sebelum waktunya, pasti ada keributan.
Di Spontan 2016, ada aroma lain yang sangat beda dengan era 90an ke bawah. Banyak anak lelaki yang baru bangun dan duduk-duduk santai di ruang tamu rumahnya meski sudah jam 10 siang. Musik seperti di klub malam Jalan Pramuka, Jakarta seperti berpindah tempat di waktu dan ruang yang lain.
Terasa sekali, aroma "kota dalam banyangan" ketika masuk area yang di sebut Spontan ini. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment