Noton Film Langsung Ingat Ahok
26 Juni 2016 by: Redaksi - Dilihat 198 kali

PANGLIMA yang sendirian, Al Mujtaba. Kesaktiannya, diwujudkan dalam upaya menahan amarah, mencegah dirinya menjadi penguasa meski sempat mendapat dukungan luas dan didukung para ksatria pembela kebenaran.

Film Imam Hasan Al Mujtaba, membuat saya benar-benar berpikir bahwa jika ingin jadi politikus, hendaklah mengambil cara Muawiyah yang sering diejek "anak Hindun yang dijamin masuk neraka" serta disebut Abu Dzar dengan bacaan alhakumut takatsur.

Dia begitu cerdik dan mampu menghimpun kekuatan, kekuasaaan dan kekayaan secara bersamaan. Nyaris tanpa cela dan moncer dalam karier politik. Namun, jika ingin menjadi pemimpin, contohlah para pecinta Ali bin Abi Thalib. Dia selalu menyeru, taatlah pada Allah, ikutilah rosululloh SAW dan santuni anak yatim.

Masuk Irak, Ali yang menunggangi kuda dengan hanya beralas kain, masuk ke kota, semua pasukan dan dirinya turun, berjalan dengan menuntun kuda. Tujuannya, agar rakyat tidak ketakutan. Meski ketika itu, Romawi dan Persia sebagai kerajaan besar, sudah runtuh dan takhluk di bawah kekhalifahannya.

Hanya selisih beberapa tahun. Masuk Irak, Muawiyah setelah berhasil menjadi Khalifah, penuh seremoni dan puja-puji layaknya gabungan dua raja Persia dan Romawi. Lalu berpidato dengan tegas, menunjukkan dirinya sebagai raja diraja, politikus yang mampu menakhlukan dan memberangus semua benih penolakan atas kepemimpinannya. Muawiyah hidup dalam gelimang kemewahan dan gemrincing puji-pujian. Seruannya, taatlah membayar pajak, patuhilah perintahku dan jangan memberontak.

Saya pernah membaca, pada konteks Indonesia era 80an, ada sejumlah intelektual yang mencoba mengembangkan modernisme islam. Semacam cara untuk menempatkan islam secara kritis berhadapan dengan modernitas yang melanda dunia.

Coraknya lebih formalistik-simbolik Islam. Mereka yang mengembangkan ada AM.Syaifuddin dan Imaduddin Abdurrahim.

Pengembang neomodernisme islam, yang berusaha menghadirkan islam secara substansial, sehingga tidak memperhadapkan antara islam dengan modernisme. Dikembangkan Abdurahman Wahid dan Cak Nur.

Di tingkat realisme islam yang menempatkan agama sebagai entitas yang harus hadir sebagaimana realitas dunia. Menghadirkan islam secara realistik atau islam historis, ada Ahmad Syafii Maarif dan Jalaluddin Rakhmat.

Pada bagian transformasi islam, yang menghadirkan islam sebagai agen transformasi sosial yang bervisi sosialisme islam. Ada Moeslim Abdurrahman dan Kuntowijoyo

Namun arekologi intelektual muslim itu kemudian berkembang di era 90an. Yakni, munculnya generasi baru intelektual muslim Indonesia semacam M. Quraish Shihab, M. Ali Yafie, Azyumardi Azra dan M. Amin Abdullah. Lebih bercorak postmodern. Pemikiran ini tidak lagi berkutat dengan persoalan-persoalan formalisasi simbolisme Islam di Indonesia. Namun berusaha mendekekatkan pemahaman islam dengan relativisme kebenaran tunggal. Substansial islam menjadi bagian dari etika islam yang universal, sekaligus partikular, sehingga dikenal dengan sebutan lokalitas islam.

Lupa, kira-kira itu saya baca dari buku atau ketika ikut kolokium. Era 2014-2016, saya menemukan intelektual islam berusaha mengembalikan perdebatan ke ranah politik dan kekuasaan negara bangsa. Semacam suku-suku di Timur Tengah yang ribut mendukung Imam Hasan atau Muawiyah. Kemudian mengambil berbagai keuntungan dari konflik kekuasaan. Di sanalah ada transaksi dimana sebuah berita atau kabar terbaru, bisa dibayar sangat mahal. Satu informasi misalnya menyeberangnya Al Kindi (komandan pasukan terdepan di pihak Imam Hasan karena tergiur pundi-pundi emas, memilih pindah ke kubu Muawiyah). Menjadi informasi
yang diperjualbelikan para pihak yang tidak ikut berkonflik.

Ya, itu. Semacam kasus Ahok, dukungan FPI dan semacamnya itu. Sama.

Bisa kita bayangkan, beberapa intelektual islam yang sudah sangat sering mengulas sisi-sisi postmodern, sibuk berkomentar seputar Pilpres, kini lebih rendah, disibukkan Pilgub DKI yang pada beberapa kasus layak dimaki dengan sebutan najis mugholadoh. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )