Tentang Nasionalisme dan Maling yang Baik
20 Agustus 2016 by: Redaksi - Dilihat 527 kali

SEBUAH paripan yang pernah saya dengar di lingkar Maiyah, ada orang yang memberikan sepiring kue, dan kita sangat berterima kasih. Memuji-muji dengan berlebihan, ada orang baik yang sudah sangat perhatian pada kita. Tepat pada waktu kita butuh penganan itu. Padahal yang sebenarnya terjadi, kita belum tahu akibat kebebalan dan teledor, kue yang diberikan itu bagian terkecil dari kekayaan kita yang dicolong orang yang berpura-pura baik.

Kita tidak sadar, kalau kue yang diberikan itu berbahan pisang yang sudah dipanen dari kebun di pekarangan belakang rumah kita. Tidak sebanding, dimana dengan panen pisang yang dicurinya, orang yang terlihat baik itu sudah mampu beli kebun pisang yang lebih luas lagi.

Sampai suatu ketika, empunya kebun pun, ikut menumpang di tanahnya maling, mengemis pekerjaan dan tanpa sadar, menjadi ketiplak para maling.

Pada satu sisi, mulai ada kesadaran bahwa orang baik dan kaya itu ternyata maling, agar sedikit punya harga diri, tidak mau jadi antek. Maka kita hutang agar bisa tetap bertahan hidup. Memenuhi berbagai kebutuhan pokok serta memperbaiki rumah yang mulai lapuk mau roboh.

Sebagai maling, hutang pun pasti punya kalkulasi rugi laba, tentu menyaratkan rente. Bahkan, lebih parah. Bentuk hutangnya, bukan berwujud tumpukan uang yang multiguna. Melainkan sekadar program dan wujud bangunan yang semua bahan, semua matrial, sampai pekerjanya, dari pihak maling sebagai pemberi pinjaman.

Lalu merasa terbantu, punya bangunan yang seolah-olah bisa menggerakkan sektor ekonomi, memudarkan kemacetan, memperoleh aneka pujian, yang kemudian, hasil yang tak seberapa dari wujud bangunan, matrial dan infrastruktur itu, harus dihabiskan membayar bunga pinjaman. Bahkan, seluruh bangunannya ketika dijual pun, berikut tempat dan kedaulatannya sudah digadaikan, hutang yang hanya berbentuk selembar kertas itu, belum bisa dilunasi. Tepatnya, mustahil lunas sebab sudah disistem demikian.

Akibat bebal dan teledor semacam itu, bukan hanya keluarga, sampai anak cucunya dililit kemelaratan sebab sebelum anak lahir ceprot, sudah terbebani bunga hutang. Sekali lagi, hutang yang tanpa manfaat sedikit pun untuk mendongkrak kegiatan ekonominya. Hutang yang hanya berwujud surat berharga dan bangunan yang mestinya dibiarkan saja, jika tidak teledor dan bebal, hasil panen kebun, kekayaan yang ada di pekarangan belakang rumah, bisa secara pelan namun pasti membangunnya secara mandiri. Tanpa beban hutang yang disodor-sodorkan para maling. Tanpa ketololan yang takhluk dengan para maling. Namun kita sudah terlambat. Sudah 71 tahun. Sudah kelewat tua untuk sadar bahwa bebal dan keteledoran itu, menjadi bentuk ketololan tersendiri. Menjadi mental yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Mental tukang hutang, berpikir pendek, dan tumpul atas kesadaran bahwa banyak kekayaannya yang sudah jadi bancakan para maling dan memiskinkan hidup kita. Pemilik rumah dan pekarangan yang ijo royo-royo, tata tentrem loh jinawi.

Bagaimana tidak terlalu tua dan tolol, daerah penghasil gula namun untuk membuat minuman manis saja harus didapat dari gula jenis impor? Untuk membangun flyover yang sekadar memindahkan titik kemacetan, harus hutang hingga 20 tahun? Untuk jalan tol yang kalkulasi ekonominya ngawur dan bakal digunakan siapa tidak diketahui itu, pemerintah mesti hutang ke negara luar yang secara pertambangan dan perkebunan mulai menguasai negara ini? Negara kreditur yang memproduksi mobil dan suku cadangnya.

Tolonglah, jangan doktrin anak-anak yang mesti terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan skill itu dengan doktrin nasionalisme, cinta negara, paham dasar-dasar negara atau semacam racun logika yang semakin membuat anak-anak kita tertarik, bercita-cita jadi politisi dibanding jadi ilmuwan atau pengusaha.

Doktrin negara dan nasionalisme terbukti gagal membuat bangsa kita bangkit dan benar-benar merdeka. Bahkan semakin terjebak dalam lilitan hutang. Bahwa benar kita butuh pembiayaan dalam jumlah besar agar mengejar ketertinggalan di berbagai sektor terutama infrastruktur. Namun memacu pembangunan dari hutang yang tanpa uang dan harus dibayar dengan bunga serta berwujud uang yang kita hasilkan dengan berpeluh itu, apa bedanya dengan orang tua yang bebal dan teledor?

Sama kasusnya dengan kisah maling pengantar kue. Lebih halus, contoh yang paling ril adalah karena rawan tukang rongsok, rumah kita perlu pagar dan tentu saja agar terlihat megah. Lalu tetangga yang sebenarnya klepto, suka maling dan masuk pekarangan rumah dengan mengambil apa pun yang berada di pekarangan, menawarkan pinjaman membuat pagar, alasannya, agar rumah kita aman. Lalu dipinjami nilai uang 20 juta rupiah dan mesti dikembalikan 40 juta dalam waktu 10 tahun. Namun pinjaman itu, bukan berbentuk uang, melainkan matrial bangunan untuk membuat pagar, dimana kebetulan tetangga itu punya toko bangunan yang lengkap. Berikut para tukangnya.

Apa yang terjadi kemudian? Rumah itu dijual dan dibeli tetangganya yang sudah bisa memprediksi, orang itu tak bakal bisa membayar hutang yang digunakan untuk membangun pagar. Inilah yang terjadi saat ini, ketika negara kreditur mengintervensi bangsa kita dengan sejumlah hutang guna pembangunan infrastruktur.

Percayalah, membangun infrastruktur yang bagus tanpa diimbangi kekuatan ekonomi masyarakat, hanya menyuburkan kriminalitas, penguasaan ekonomi dari empunya kapital.

Tolonglah, setahun saja hentikan semua proyek infrastruktur ganti dengan proyek pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, penguatan kapasitas masyarakat sebagai wirausaha, penggemblengan anak muda untuk bangkit berwiraswasta. Jadikan Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan instansi paling banyak menyerap anggaran itu sebagai dinas paling kering, yang tugasnya hanya merawat agar jalan, bangunan publik, sekadar tidak hilang saja. Biarkan para pengusaha konstruksi dan pemborong jalan, setahun ini saja melarat tanpa kerjaan yang ketika mereka karaoke semalam saja, habis uangnya bisa membuat ratusan outlet kripik pisang aneka rasa di sepanjang jalan protokol.

Hentikan ngundang artis yang hanya memfasilitasi para pemadat dan sekadar kesenangan pejabat jejingkrakan di panggung, yang beayanya bisa menyulap ibu-ibu bermuka murung di pasar karena ditagih bank plecit setiap hari itu, menjadi bermuka sumringah lantaran sudah ada pinjaman lunak oleh pemerintah. Ibu-ibu pedagang sayur yang tidak pernah bisa meski mengemis dengan air mata darah agar diberi pinjaman KUR yang dibangga-banggakan pemerintah.

Beri waktu setahun saja, agar tidak ada LSM yang demo akibat tuntutan proyek tidak benar, yang sebenarnya agar kebagian jatah proyek. Dan semacamnya.

Bayangkan, level kepala biro saja bisa maling 14 miliar untuk proyek infrastruktur. Itu yang ketahuan dan berani dibuka secara umum, bagaimana yang diam-diam dan dimainkan yang punya jabatan lebih tinggi? Nah, ketika anak muda dicekoki nasionalisme, apa tidak banyak pengadilan rakyat yang nantinya menghukum picis para pejabat maling? Mbok-mbok sayur yang mengangkat kainnya, lalu membakar hidup-hidup para penarik salar di pasar? Anak muda di perkampungan yang merasa berhak jadi begal karena jalan depan rumahnya halus dan bersliweran sepeda motor yang mereka tak bisa membelinya?

Ayolah, jangan nyinyir lagi tentang jalan rusak, namun mari kita minta semua desa ada pelatihan wiraswasta, permodalan dan keilmuan yang sesuai kebutuhan. Jangan lagi gunakan dana desa untuk memperbaiki jalan yang paling enak dimaling Kaur itu, kita dorong yang sifatnya ekraf atau sekadar untuk modal usaha dengan kajian perbankan yang benar. Cukup juga dana sosial untuk umroh yang kebanyakan justru dipakai orang-orang yang mampu itu.

Kita bisa benar-benar merdeka tanpa artis, tanpa panggung ratusan juta, sebab, tahun 80an, artis itu didatangkan warga secara swadaya. Ramai di lapangan dan orang dengan suka rela membeli karcis agar menonton artis karena mereka punya uang dan sekadar butuh hiburan. Sekarang, banyak aneka hiburan namun banyak pula orang mengeluh anaknya tak bisa sekolah, makan tanpa nutrisi dan ada yang baru melahirkan tetapi tak bisa menebus bayinya.

Sementara yang katanya pemimpin kita, yang berjargon memberi dan melayani itu justru jejingkrakan sembari teriak "Terlalu Manis" serta "Aku Tak Bisa". (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )