Kesaksian Penyair Lampung dan Banten
18 Juli 2017 by: Redaksi - Dilihat 447 kali

APAKAH menjadi penyair itu mudah?

Pertanyaan inilah yang berusaha dijawab dalam gelaran Panggung Penyair Lampung dan Banten yang ditaja Lamban Sastra Isbedy. Jawabannya, menjadi penyair itu butuh perjuangan. Sebab, penyair perlu menjiwai semua persoalan sampai mampu menertawakan sebuah fenomena yang akan ditulisnya. Baik itu ironi, tragedi dan berbagai kepahitan hidup, harus mampu dirangkum dengan pencerapan estetis puitis oleh penyair. Tidak sembarangan. Termasuk mengendapkan ide dan memilih diksi. "Jadi, menurut saya, menjadi penyair itu susah," demikian diungkapkan Chavchay Syaifullah pada malam peringatan meninggalnya Chairil Anwar, Jumat, 28 April 2017.

 

Acara di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS itu sekaligus upaya untuk mengeja kitab, mempertemukan penyair Banten dan Lampung dalam satu panggung.

 

Wajib Terlibat Politik

Bertemunya penyair Banten dan Lampung ini, dianggap bukan sekadar ajangsana dan arena nostalgia para penggiat kesenian. Namun lebih sublim, sebagai upaya untuk membangun kekuatan politik baru. Agar seniman, benar-benar terlibat dalam konjungtur politik, gejolak sosial, dan intinya, seperti pendapat Ahmadun Yosi Herfanda dalam Menegaskan Kembali Peran Sosial Sastra yakni; "...karya sastra (puisi) mesti terlibat dengan persoalan masyarakat dan bangsanya. Jika karya sastra hanya mengejar keindahan estetik, bagi WS Rendra, tidak akan ada bedanya dengan hiasan atau renda-renda pada pakaian."

 

Sastra (puisi) yang terlibat inilah yang sepertinya menjadi pendulum dalam temu penyair Lampung dan Banten. Bahkan, awal membacakan puisinya, Toto St Radik secara apik membawakan Sajak Kota Penuh Tumpukkan Kursi. Salah satu bunyinya; "...ya, pergilah dari kota/yang mencemari diri dengan politik menyulap/sebungkus mie menjadi suara Tuhan." Toto St Radik, secara tegas menggambarkan politik uang, kursi-kursi yang kemudian "menjelma menjadi berhala/berselimut agama."

 

Tajam dan penuh pekik, memaki atas kumuhnya kondisi politik bangsa kita. Kemudian membuat salah satu penyair Banten ini membawa keindahan dan damainya bahtera Nuh. Menariknya, pekik dan pertanyaannya kemudian menemukan jalan buntu "tetapi di manakah Nuh/dimanakah bahtera itu?"

 

Ikut tampil, pengampu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS. Paus sastra Lampung itu membacakan puisinya yang berjudul Perempuan Bersandal Beton yang didedikasikan untuk Patmi, korban yang meninggal di tengah aksi menolak pembangunan pabrik semen.

 

Mendengar Isbedy Stiawan ZS membaca puisinya, perasaan kita serasa dicabik-cabik duka lara. "...perempuan bersandal beton/ meninggalkan dusun kendeng/ ia titipkan sawah dan rumah/ kepada penguasa semesta/ sebab ini kali ia harus ke kota/ menyeret kaki dan kematian."

 

Penampilan ketiga, Firman Venayaksa. Benar-benar memukau dan penuh letupan-leputan, punya daya kejut nan asyik. Meski disambut tawa semua yang hadir. Puisi berjudul Kesaksian dibacakannya penuh dengan aksi teaterikal. "mak, kenapa engkau dipenjara?" kalimat awal puisinya cukup menghibur. Sebab, setelah membaca "mak" Firman seketika menoleh sembari mengucap. "Tuuut."

 

Puisi Kesaksian karya Firman Venayaksa, menurutnya, puisi paling jelek yang ditulis pada antologi penyair Lampung dan Banten ini. Dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten dan aktif bergiat di Forum Taman Bacaan Masyarakat, lembaga yang menginisiasi gerakan literasi di Indonesia itu, kemudian secara piawai memainkan setiap diksi. Terlebih, ketika menyebut "mak...tuuut." Salah satu pengunjung nyletuk, "Atuuut." Seolah, benar-benar menggambarkan dan menghadirkan kisah Gubernur Banten yang ditahan KPK. Sosok Mak, sebenarnya orang baik dan saleh, yang disebut Firman "di mataku, engkau adalah bunga bakung."

 

Benar-benar menemukan relevansi dan pembenar atas kepenyairan Firman sebagai "saksi" peristiwa yang mengguncang bukan hanya Provinsi Banten, melainkan politik nasional. Dipilihnya diksi "bunga bakung" bukan tanpa maksud. Kita ketahui, bunga bakung adalah tanaman yang mampu hidup di rawa. Meski pada umumnya tanaman ini lebih cocok tinggal di habitat dengan tanah yang mengandung kadar asam seimbang. Bunga bakung juga memiliki tangkai yang kokoh. Kebanyakan, suku bakung membentuk umbi polos di bawah tanah. Memiliki tiga daun bunga, acapkali menyerbak aroma wangi di sekitarnya. Selain punya berbagai warna. Sehingga bait penutup dalam puisinya yang berbunyi. "mak, (ketika dibaca disertai suara tuuuttt) seperti katamu. aku akan rebut lagi/tampuk itu demi harga diri. demi engkau yang/kucinta."

 

Dan benar, Pemilihan Gubernur Banten yang digelar serentak pada 15 Februari 2017 lalu, cabang dari "bunga bakung" itulah yang menang.

 

Keindahan Mengeja Kitab

Pencahayaan dan tata panggung di Lamban Sastra Isbedy yang dimainkan Heru Antoni, notabene berpengalaman di Teater Potlot, menambah suasana jadi khidmat. Silih berganti penyair Lampung Banten tampil. Mendeklamasikan puisi mereka yang kebanyakan sudah ada di antologi puisi yang berjudul Mengeja Kitab dan diterbitkan April, 2017. Beberapa diantaranya tampil dengan karya-karya puisi yang baru dibuat. Seperti Saiful Irba Tanpaka, termasuk hadirnya pendatang baru Raja Say Saka dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok seni bernama Kosakata, Unila.

 

Mengeja Kitab sendiri adalah judul puisi Gol A Gong yang ada di halaman 25 antologi Penyair Lampung dan Banten. Tak lengkap rasanya sebelum mengutip bait-bait indah ini: "Di dalam kedai kopi/ angka-angka dituangkan ke dalam kitab/ yang baru saja kita eja selepas maghrib/ "tolong, masing-masing segelas kopi impor,/ dicampur birahi nona di sudut sana,"/ kau terbahak mengusung daftar tagihan// Setiap malam kita menemuimu/ mengeja kitab yang sama/ tapi kita memilih pintu berbeda/ tak ada matahari di kota kita/ "tolong, di perempatan jalan kita tak sehaluan,/ tapi tetap bisa bertemu di pusat kota,"/ kau melambaikan tangan di atas singgasana// Setiap malam kita mengeja kitab yang sama/ tapi tak pernah menemukanmu.

 

Sebelum ditutup, Ketua Dewan Kesenian Banten Chavchay Syaifullah bersama Isbedy Stiawan, disertai Totok dan Firman, naik ke panggung dan menegaskan bacaan kitab Lampung-Banten masa lalu. Mendedah persaudaraan dua daerah yang pernah saling terhubung serta saling menguatkan ketika melawan penjajah Belanda.

 

Negara kita ini, sebenarnya nyaris bubar. Untung masih ada TNI/Polri. Hanya dua institusi itu yang membuat negara ini ada. Kita bisa saksikan saat ini, ada Pemda langsung kerjasama dengan Tokyo atau dengan negara luar negeri yang bahkan gubernur apalagi presiden, tidak tahu. Bupati itu sedang bekerjasama atau tamasya.

 

Kemudian, Chavchay yang banyak mengulas sejarah persatuan antara Banten dan Lampung dalam kerajaan sebelum diporakporandakan oleh Belanda, mesti ditelisik lebih dalam. Terutama kehadiran Taman Pugung yang ada di Lampung Timur itu, salah satu sejarah yang menjadi penanda, Lampung Banten pernah bersatu. Senasib sepenanggungan. Masalah penting yang selama ini kurang dieksplorasi sastrawan-sastrawan kita. Dalam buku Mengeja Kitab itu tertulis. Melalui panggung baca puisi penyair Lampung Banten, dapat menegasi kembali persaudaraan yang dimulai "tapak pertama" suku Lampung di Cikoneng atau sebaliknya; orang Banten pertama yang menetap di Lampung. “Tahun depan, gantian penyair Lampung wajib datang ke Banten,” kata Chavchay. (*)

 


Tulisan ini naik di Radar Lampung edisi cetak, Minggu, 7 Mei 2017. Mohon maaf huruf tebal dan miring di blog ini belum tersedia, jika kurang nyaman membacanya, sila baca di edisi korannya.:melet:

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )